Narkoba 1,2 Ton di Aceh Dibongkar, Bea Cukai: RI Tak Boleh Jadi Pabrik Narkoba

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Jakarta -

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menegaskan Indonesia tidak boleh dijadikan sarang produksi maupun peredaran gelap narkotika. Plt Direktur Interdiksi Narkotika Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Erwin Situmorang, mengapresiasi tim campuran dari Polri, BNN, dan Bea Cukai nan membongkar laboratorium gelap (clandestine lab) narkoba terbesar di Indonesia nan berlokasi di Pidie, Aceh.

"Mewakili Menteri Keuangan, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh personel Kepolisian Republik Indonesia, Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, dan personel Bea dan Cukai, serta mitra luar negeri nan telah berkontribusi dalam pengungkapan jaringan ini," kata Erwin Jumat (23/10/2026).

Menurutnya, soliditas lintas lembaga menjadi kunci utama keberhasilan memutus mata rantai kejahatan terorganisasi ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kerja sama nan kuat, pertukaran informasi, dan tindakan nan terkoordinasi dapat menghasilkan langkah nyata," ucapnya.

"Semangat bekerja tanpa ego sektoral kudu tetap kita jaga," lanjut Erwin.

Lebih lanjut, Erwin mengingatkan temuan di Pidie ini menjadi peringatan serius. Sebab, sindikat narkotika sekarang tidak hanya menyelundupkan peralatan jadi dari luar negeri, tetapi sudah berani membangun akomodasi produksi di Tanah Air.

"Bapak dan Ibu nan kami banggakan, kasus ini menjadi peringatan serius. Selain menghadapi penyelundupan narkotika dari luar negeri, kita juga menghadapi upaya jaringan narkotika membangun akomodasi produksi di dalam negeri," ungkap Erwin.

Karena itu, dia menekankan agar abdi negara campuran tidak berakhir pada penyitaan pabrik saja, namun juga mengejar seluruh rantai suplai, pengedaran hingga ke pemodalnya.

"Saya mau menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh menjadi tempat produksi maupun peredaran gelap narkotika," tegasnya

Erwin berambisi melalui keberhasilan penindakan ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan keahlian intelijen penegak norma dan mempersempit ruang mobilitas para pelaku.

"Pengungkapan ini kudu menjadi injakan untuk menelusuri jaringan lebih jauh dan mempersempit ruang geraknya. Meningkatkan keahlian kajian intelijen, serta mempererat kerja sama dengan BNN RI, Polri, dan seluruh abdi negara penegak norma lainnya," minta Erwin.

"Informasi kudu ditindaklanjuti secara sigap dan terkoordinasi agar upaya penyelundupan serta pasokan bahan untuk produksi terlarangan dapat dideteksi dan ditindak," sambung dia.

Dia turut membujuk masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan di lingkungan masing-masing untuk mencegah peredaran narkoba. Menurutnya antisipasi dan kewaspadaan dari lingkungan terdekat diperlukan untuk memberantas peredaran narkotika.

Dia menegaskan pihaknya tidak bakal pernah berakhir dalam memberantas kejahatan narkotika di Tanah Air.

"Tujuan kita jelas, ialah melindungi masyarakat dan menjaga masa depan generasi bangsa. Negara bakal terus bekerja untuk mengungkapkan dan memutus jaringan narkotika, baik melalui jalur penyelundupan maupun akomodasi produksi ilegal," ucap Erwin.

Sebelumnya, laboratorium tersembunyi nan berlokasi di Pidie, Aceh tersebut digerebek tim campuran Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai. Dari operasi penindakan di dua toko nan disulap menjadi pabrik sabu tersebut, petugas sukses mengamankan sekira 1 ton sabu cair methamphetamine.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, clandestine lab di Pidie ini diduga kuat terafiliasi dengan jaringan narkoba internasional lintas negara nan melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia.

(ond/idn)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑