Lokomotif kereta api sisa kolonialisme Belanda dan Jepang nan diabadikan di Monumen Kereta Api di Kota Pekanbaru.(Antara)
Sejarah kelam Perang Dunia II kembali menyeruak di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Puluhan penduduk negara asing (WNA) asal Belanda, nan sebagian besar merupakan keturunan dari korban kerja paksa alias romusha, melakukan kunjungan berhistoris ke Monumen Kereta Api di Simpang Tiga. Kunjungan ini menjadi momen krusial untuk mengenang ribuan nyawa nan melayang dalam pembangunan jalur kereta api maut dari Pekanbaru menuju Muaro Sijunjung, Sumatera Barat.
Mengenang Jalur Kereta Api Maut Pekanbaru
Atase Militer Kedutaan Besar Belanda di Indonesia, Colonel Horbert Johannes Moerkens, menyatakan bahwa kunjungan ini bermaksud untuk memberikan penghormatan kepada penduduk Belanda nan menjadi tahanan perang dan dipaksa bekerja oleh tentara Jepang. Selama masa pendudukan Jepang, banyak penduduk Belanda nan tinggal di kamp-kamp tahanan di wilayah ini dan meninggal bumi akibat kondisi kerja nan tidak manusiawi.
Pembangunan rel kereta api sepanjang kurang lebih 220 kilometer ini dikenal sebagai salah satu proyek paling mematikan di masa perang. Jalur ini dimaksudkan untuk mengangkut batu bara dan logistik perang, namun kudu dibayar mahal dengan nyawa puluhan ribu romusha, baik dari kalangan pribumi maupun tawanan perang Sekutu.
Perspektif Baru Sejarah Perang Dunia II bagi Warga Belanda
Menariknya, kunjungan ini mengungkap kebenaran bahwa sejarah romusha di Indonesia belum banyak diketahui oleh publik di Belanda sendiri. Eric, perwakilan dari Foundation of the Remembrance Burma and Pekanbaru Railway, mengungkapkan bahwa masyarakat Belanda selama ini lebih banyak membicarakan pendudukan Jerman di Eropa.
“Orang Belanda banyak nan tidak tahu tentang romusha, padahal sekitar 80 ribu orang meninggal bumi akibatnya. Ini krusial sekali untuk menceritakan apa nan sebenarnya terjadi di Indonesia saat perang,” ujar Eric di Pekanbaru, Kamis.
Fakta Sejarah: Para tahanan perang Belanda awalnya diangkut dari Padang menggunakan kereta api menuju Payakumbuh, kemudian dibawa menggunakan truk ke Pekanbaru untuk dijadikan pekerja paksa dalam kondisi nan sangat memprihatinkan.
Monumen Kereta Api sebagai Cagar Budaya dan Sarana Edukasi
Monumen Kereta Api di Simpang Tiga, Pekanbaru, sekarang berdiri sebagai pengingat bisu atas tragedi tersebut. Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah menetapkan letak ini sebagai salah satu dari enam cagar budaya resmi di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Pembinaan Seni Budaya Disbudpar Pekanbaru, Zulnawirawan, menyambut baik kunjungan ini. Saat ini, monumen tersebut dikelola oleh ahli pelihara nan digaji oleh pemerintah kota dan rutin dikunjungi oleh pelajar serta mahasiswa untuk keperluan studi sejarah.
Harapan untuk Masa Depan: Museum dan Komemorasi
Pihak Kedutaan Besar Belanda berambisi agar ke depannya terdapat akomodasi edukasi nan lebih komplit di letak ini. Beberapa poin angan nan disampaikan antara lain:
- Pembangunan museum mini untuk menyimpan artefak Perang Dunia II dan peninggalan romusha.
- Penyelenggaraan upacara peringatan (komemorasi) rutin setiap dua tahun sekali.
- Kolaborasi internasional, termasuk rencana berbareng Australia, untuk memperingati korban nan gugur.
Kesimpulan
Kunjungan keturunan korban romusha asal Belanda ke Pekanbaru bukan sekadar perjalanan wisata sejarah, melainkan upaya rekonsiliasi dengan masa lalu. Dengan menjaga kelestarian Monumen Kereta Api dan meningkatkan literasi sejarah bagi generasi muda, diharapkan tragedi kemanusiaan serupa tidak bakal pernah terulang kembali di masa depan. (Ant/I-1)
FAQ (Pertanyaan nan Sering Diajukan)
1. Di mana letak Monumen Kereta Api Pekanbaru?
Monumen ini terletak di area Simpang Tiga, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.
2. Apa itu jalur kereta api Pekanbaru-Muaro Sijunjung?
Ini adalah jalur kereta api nan dibangun pada masa pendudukan Jepang (1943-1945) menggunakan tenaga kerja paksa (romusha) dan tawanan perang (POW) untuk kepentingan logistik perang.
3. Mengapa kunjungan penduduk Belanda ini dianggap penting?
Karena ini merupakan kali pertama dilakukan peringatan resmi oleh pihak family korban asal Belanda di Pekanbaru, sekaligus membuka ruang perbincangan sejarah nan selama ini jarang dibahas di Eropa.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·