Nahtadia Ubah Nasib Lewat Usaha Ayam Petelur

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Nahtadia tak bisa menyembunyikan senyum saat bercerita perkembangan usahanya. Tiga tahun menjalankan upaya ayam petelur dengan support pinjaman Kupedes Rakyat (Kupra) BRI, dia mulai merasakan hasilnya.

Keuntungan upaya tak hanya digunakan untuk menambah jumlah ayam. Sebagian juga dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Salah satu nan paling dia ingat adalah saat bisa membeli televisi baru berukuran 43 inci. Televisi itu menggantikan TV lama nan ukurannya jauh lebih kecil.

“Dulu TV-nya kecil. Sekarang sudah bisa beli nan 43 inci,” ujar wanita 28 tahun itu saat berbincang dengan Liputan6.com di kandang ayamnya area Cibodas, Jonggol, Selasa, 16 Juni 2026.

Hasil upaya juga membantu biaya pendidikan anak-anaknya. Anak pertamanya bakal naik ke kelas dua SD. Sementara adiknya bersiap masuk PAUD. Kebutuhan seragam dan perlengkapan sekolah bisa dipenuhi dari penghasilan usaha.

Selain itu, Nahtadia juga mulai mempunyai tabungan dalam corak ternak. Saat ini, dia mempunyai dua ekor kambing nan dititipkan kepada orang lain.

"Baru dua sih, tapi alhamdulillah sudah bisa kebeli," katanya.

Buka Usaha Setelah Resign dari Pabrik

Sebelum menjadi peternak ayam petelur, Nahtadia bekerja di sebuah pabrik tas. Sementara itu, suaminya menjalankan upaya warung kecil.

Pagi hari, sang suami berdagang di lingkungan sekolah. Saat malam tiba, warung beranjak ke depan lapangan bulu tangkis nan ramai pengunjung.

Menu nan dijual mulai dari kopi, gorengan, minuman dingin, hingga jajanan anak sekolah. Saat itu, kehidupan family mereka ditopang dari dua sumber penghasilan. Nahtadia bekerja di pabrik, sedangkan suaminya berjualan.

Namun, rutinitas di pabrik membikin Nahtadia mulai berpikir untuk mencari jalan lain.

"Kalau di pabrik banyak tekanan. Saya mikir lebih baik upaya sendiri, sedikit-sedikit dari rumah. nan krusial anak juga bisa terurus," katanya.

Keinginan itu akhirnya terwujud pada 2023. Setelah pandemi berlalu, dia memutuskan memulai upaya ayam petelur. Lingkungan sekitar ikut memberi pengaruh. Beberapa tetangga lebih dulu menjalankan upaya serupa sehingga dia bisa belajar banyak, mulai dari pengelolaan kandang hingga perawatan ayam.

Seiring berjalannya usaha, kebutuhan modal pun bertambah. Pada akhir 2023, Nahtadia mengenal BRI melalui tetangga dan diperkenalkan kepada mantri BRI. Dia kemudian mengusulkan pinjaman Kupedes Rakyat sebesar Rp 35 juta dengan tenor tiga tahun.

Dana tersebut digunakan untuk membangun kandang dan memenuhi kebutuhan usaha, termasuk pakan ternak. Saat itu, populasi ayam nan dipeliharanya sudah mencapai sekitar seribu ekor.

Dari upaya nan dimulai di laman rumah itu, Nahtadia sekarang konsentrasi mengembangkan peternakan ayam petelurnya. Warung nan dulu menjadi sumber penghasilan family pun sudah tidak lagi beroperasi. Kini, upaya ternak ayam menjadi tumpuan utama keluarga.

Omzet Tembus Rp 48 Juta per Bulan

Dalam sehari, omzet penjualan telur Nahtadia rata-rata mencapai sekitar Rp 1 juta alias sekitar Rp 30 juta dalam sebulan. Namun, menurutnya, nomor tersebut bukan untung bersih. Pendapatan upaya sangat berjuntai pada nilai telur nan naik turun dan biaya operasional nan cukup besar.

"Kalau lagi bagus, omzet kotor bisa sampai Rp 48 juta sebulan. Tapi itu belum dipotong biaya pakan dan kebutuhan lainnya," jelasnya.

Dari seluruh biaya usaha, pakan menjadi pengeluaran terbesar. Dalam sebulan, Nahtadia bisa menghabiskan lebih dari Rp 30 juta hanya untuk membeli pakan ayam. Selain itu, ada biaya perawatan kandang dan kesehatan ternak nan juga kudu diperhitungkan.

Setelah dikurangi beragam biaya, untung bersih nan diperoleh rata-rata sekitar Rp 9 juta per bulan.

Meski begitu, Nahtadia tetap optimistis. Dia menilai permintaan telur tetap cukup tinggi. Bahkan, dia tidak perlu repot mencari pembeli lantaran para pemasok datang langsung ke peternakannya.

Agen-agen tersebut berasal dari beragam daerah, seperti Cileungsi, Bekasi, hingga Depok. Selain itu, penduduk sekitar juga kerap membeli telur langsung dalam jumlah mini untuk kebutuhan rumah tangga.

Harga jual telur ke pemasok mengikuti nilai pasar alias Pinsar. Saat ini, telur dijual sekitar Rp 24 ribu per kilogram. Sementara untuk pembeli satuan di lingkungan sekitar, harganya sekitar Rp 26 ribu per kilogram.

Dalam sehari, pemasok biasanya mengambil sekitar dua peti telur dari kandangnya. Dengan permintaan nan terus ada, Nahtadia mengaku belum berencana memperluas pemasaran ke wilayah lain.

"Telurnya saja tetap kurang. Stok nan ada sekarang sudah terserap," katanya.

Diminati Agen

Rudi merupakan salah satu pemasok langganan Nahtadia nan rutin mengambil telur dari peternakannya sejak 2024. Meski mempunyai banyak pilihan pemasok, Rudi memilih membeli telur dari kandang Nahtadia lantaran kualitas dan kesegarannya lebih terjamin.

Menurutnya, telur nan diambil langsung dari kandang mempunyai kualitas nan lebih baik lantaran tetap segar. Selain itu, jarak peternakan Nahtadia di Cibodas dengan tempat usahanya di Klapanunggal juga cukup dekat sehingga memudahkan proses distribusi.

"Kalau ambil langsung dari kandang sudah terjamin fresh telurnya. Jaraknya juga dekat dari Klapanunggal," ujar Rudi.

Sebagai agen, Rudi mengaku tidak mengambil untung terlalu besar. Dia lebih memilih menjual telur sesuai nilai pasaran agar pengguna tetap puas dan terus berbelanja kepadanya.

"Kita kan agen, jadi tidak ngambil untung banyak. Harga pasaran saja, nan krusial pengguna puas," katanya.

Dalam sekali pengambilan, Rudi membawa sekitar 30 peti telur. Pasokan tersebut tidak hanya berasal dari kandang Nahtadia, tetapi juga dari beberapa peternak lain di area Cibodas untuk memenuhi kebutuhan pengguna nan terus berdatangan.

Alasan Nahtadia Pakai Kupra

Menurut Kepala Unit BRI Jonggol, Oki Nurcahyadi, proses pengajuan pinjaman nan dilakukan Nahtadia pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan debitur lainnya. Namun saat itu, ada satu hambatan nan membuatnya tidak bisa mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Nahtadia diketahui tetap menikmati akomodasi pinjaman modal kerja dari bank lain. Kondisi tersebut membuatnya tidak memenuhi persyaratan untuk memperoleh KUR nan merupakan program angsuran bersubsidi pemerintah.

Namun, kebutuhan modal usahanya tetap bisa dipenuhi melalui akomodasi Kupedes Rakyat (Kupra) BRI.

"Pada saat itu Ibu Nahtadia tetap mempunyai akomodasi modal kerja dari bank lain sehingga tidak bisa menggunakan KUR. Karena itu, pembiayaan kami arahkan ke Kupra," ujar Oki.

Dia menjelaskan, perbedaan utama antara KUR dan Kupra terletak pada agunan kredit. KUR umumnya dapat diakses tanpa agunan tambahan sesuai ketentuan nan berlaku. Sementara Kupra menggunakan agunan sebagai salah satu syarat pengajuan.

Meski mempunyai skema nan berbeda, KUR dan Kupra sama-sama bermaksud memberikan akses permodalan bagi pelaku upaya untuk mengembangkan bisnisnya.

Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita