Museum ITB Resmi Dibuka, Sajikan Jejak 106 Tahun Pendidikan Teknik

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Di lantai 4 Gedung Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat 3 Juli 2026, sejarah tidak lagi hanya disimpan dalam arsip, album foto, alias ingatan para alumninya.

Sejarah itu dipanggil kembali ke ruang publik, diberi cahaya, suara, narasi, dan teknologi. Di sanalah Museum ITB diresmikan, bertepatan dengan rangkaian peringatan 106 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia.

Peresmian itu bukan sekadar seremoni pengguntingan pita. Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon datang berbareng Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, melansir Antara, Senin (6/7/2026).

Di tengah para undangan, tampak pula sejumlah tokoh nan memberi berat historis dan simbolik bagi aktivitas tersebut ialah Sinta Nuriyah Wahid, Dato' Low Tuck Kwong, Prof Purnomo Yusgiantoro, Yani Panigoro, Subakat Hadi, serta Nyoman Nuarta. Nama-nama itu datang bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari lanskap kerjasama nan membikin museum ini berdiri.

Museum ITB dibuka sebagai ruang pelestarian sejarah, pusat edukasi, dan sumber inspirasi bagi generasi mendatang. Tugu Bandung mencatat museum ini menampilkan perjalanan 106 tahun ITB, mulai dari perkembangan institusi, kontribusi di bagian pendidikan, sains, teknologi, seni, hingga peran tokoh dan alumninya dalam pembangunan bangsa.

Namun, di kembali kalimat-kalimat resmi itu, Museum ITB sesungguhnya membawa pertanyaan nan lebih besar, gimana sebuah perguruan tinggi menyimpan ingatan tentang dirinya, lampau mengubah ingatan itu menjadi daya sorong untuk generasi berikutnya?

Dari Buku Induk Bung Karno hingga Teater Dome

Seusai meninjau ruang pamer, Fadli Zon menyebut, Museum ITB sebagai pameran nan 'luar biasa'. nan dia lihat bukan hanya benda, melainkan perjalanan panjang sebuah institusi.

"Saya baru saja menyaksikan satu pameran nan luar biasa, perjalanan dari ITB, mulai dari pendirian. Bahkan kita bisa lihat kitab induk, rapornya Bung Karno, kemudian pengalaman-pengalaman tentang teknologi," ujar Fadli.

Dia juga menyoroti kehadiran ruang dome, tempat visitor dapat menyaksikan movie imersif tentang teknologi, alam semesta, dan rasa mau tahu manusia nan melahirkan sains. Bagi Fadli, pendekatan itu membikin museum tidak berakhir sebagai ruang pajang, tetapi bergerak menjadi ruang pengalaman.

"Museum ITB ini semangatnya sama dengan apa nan sekarang sedang dikembangkan ke arah Science, Technology, Engineering, and Math (STEM). Kita harapkan semakin banyak siswa SD, SMP, SMA, dan masyarakat umum datang ke Museum ITB ini," kata Fadli.

Dia menilai, museum tersebut memberi inspirasi, refleksi, dan edukasi melalui narasi nan baik, tata pamer nan kuat, dan pendekatan partisipatif. Menurut Fadli, museum masa depan tidak bisa lagi memperlakukan visitor semata sebagai penonton pasif.

"Museum ke depan itu kudu ada partisipasi dari para pengunjung. Mereka bukan hanya sebagai objek, tetapi juga berperan-serta di dalam experience museum," terang dia.

Dalam pengamatannya, Museum ITB telah mengangkat pendekatan nan lazim ditemui di museum-museum dunia: visualisasi digital, audio interaktif, dan pengalaman imersif.

"Intervensi digitalnya sudah sangat banyak, immersive, dan lain-lain. Mudah-mudahan ini bisa dijadikan contoh untuk museum nan lain, baik perguruan tinggi maupun museum-museum pada umumnya," kata Fadli.

Museum sebagai Ruang Pertemuan Lintas Generasi

Sementara itu, Rektor ITB Prof Tatacipta Dirgantara memandang museum ini dengan tekanan nan berbeda. Dia tidak menempatkan museum terutama sebagai gedung, melainkan sebagai wadah pengetahuan.

"Hari ini tanggal 3 Juli 2026 kita meresmikan Museum ITB. Sebagaimana tadi disampaikan Pak Menteri, ini adalah museum nan bukan hanya sekadar gedung museum saja. nan lebih krusial itu kontennya. Jadi kita bisa memandang sejarah, kemudian belajar di dalamnya, dan juga memandang masa depan," kata dia.

Bagi Tatacipta, Museum ITB kudu dapat ditemui oleh beragam lapisan usia. Anak-anak kudu bisa berinteraksi. Orang tua kudu bisa belajar. Para senior kudu bisa bernostalgia. Museum itu, kata dia, dengan demikian, menjadi semacam ruang perjumpaan.

"Kita merancang museum ini untuk semua kalangan. Anak-anak bisa interaktif, orang tua juga bisa belajar, mungkin senior-senior mau bernostalgia. Jadi ini sebetulnya ruang pertemuan lintas generasi nan juga merupakan ruang belajar," terang Tatacipta.

Lahir dari Mimpi dan Diusahakan Bersama-sama

Dalam sambutannya, Tatacipta menyebut museum ini lahir dari mimpi beberapa orang nan kemudian diusahakan bersama-sama. Ia menyebut para penggagasnya sebagai 'hobiis', orang-orang nan bekerja bukan lantaran honor, melainkan lantaran dorongan untuk meninggalkan warisan.

"Ini hanya hobiis semua. Ada beberapa orang hobiis. Tidak ada honor, tidak ada apa-apa, tetapi kita mau punya museum. Ingin meletakkan warisan masa lampau dan meninggalkan jejak untuk masa depan bersama-sama. Ini betul-betul kekuatan mimpi," cerita Tatacipta.

Dia menjelaskan, Museum ITB tidak lahir dari logika proyek semata, tetapi dari kegelisahan bahwa lembaga besar sering kali mempunyai arsip besar, tetapi tidak selalu mempunyai ruang publik nan bisa menjahit arsip itu menjadi cerita utuh.

Tatacipta menyebut banyak pihak membantu, baik dalam corak bantuan maupun informasi. Salah satu agenda nan disebutnya adalah pengarsipan dan digitalisasi dokumen-dokumen ITB nan tersimpan di Belanda.

"Kita mau mengarsipkan, mendigitalkan arsip-arsip nan ada di Belanda," kata Tatacipta.

Dia mencontohkan, ITB telah memperoleh salinan disertasi awal dari masa lama lembaga itu, juga jejak-jejak akademik nan menunjukkan sungguh panjang perjalanan pendidikan tinggi teknik dan sains di Bandung.

Gagasan Belajar di Luar Kelas dan Museum nan Tidak Pasif

Kemudian, Prof Dermawan Wibisono menjadi bunyi nan paling banyak menjelaskan filosofi, arah, dan tantangan Museum ITB. Ia memandang peresmian ini sebagai 'starting point' bagi generasi muda.

"Perjalanan sejarahnya bisa dimulai dari peresmian museum ini menjadi starting point bagi generasi muda untuk nantinya menjadi insan-insan nan lebih kompetitif, tangguh, dengan memandang contoh-contoh dari pendahulu mereka, sehingga mereka bisa menciptakan masa depan nan lebih bagus," kata Dermawan.

Bagi Dermawan, nilai museum tidak boleh berakhir pada rasa bangga. Museum kudu menjadi perangkat belajar nan lebih konkret dibanding ruang kelas konvensional. Dia membandingkannya dengan pengalaman belajar di kelas nan kerap pasif.

"Selama ini kita belajar hanya dalam kelas saja. Dengan adanya museum ini, siswa-siswa dari SD, SMP, SMA bisa belajar dengan memandang praktisnya, contoh praktisnya," kata Dermawan.

Dia lampau memberi contoh sederhana ialah konsep style dalam pengetahuan fisika alias teknik. Di kelas, style bisa terasa abstrak, namun di museum, konsep itu dapat dihubungkan dengan jembatan, beban, struktur, alias simulasi visual.

"Katakanlah orang belajar gaya. Gaya itu apa? Gaya nan terjadi dalam jembatan itu apa nan kudu dihitung? Apa nan terjadi jika bebannya terlalu berat? Mereka bisa memandang film-filmnya sehingga mereka merasa mendapatkan contoh nyata," papar Dermawan.

Nilai Museum nan Dibawa

Dermawan mengatakan, di titik ini, Museum ITB mengambil posisi sebagai jembatan antara teori dan pengalaman. Ia tidak menggantikan kelas, tetapi memperluas langkah belajar.

Dia menumbuhkan khayalan teknis, bukan hanya ingatan historis. Dermawan kemudian membawa pendapat itu ke wilayah nan lebih luas: rasa percaya diri bangsa.

"Nilai pertama adalah bahwa kita bukan bangsa nan lebih rendah dari bangsa lain. Kita mempunyai competitiveness dari segi kemampuan. Karena itu kita mau membikin generasi berikutnya mempunyai daya juang nan tinggi, tidak minder, mempunyai keahlian kejuaraan nan bagus, dan juga fairness," kata Dermawan.

Pernyataan ini menjadi salah satu inti narasi Museum ITB. Museum tidak hanya menyampaikan apa nan pernah dicapai ITB, tetapi juga membisikkan kepada generasi muda bahwa pengetahuan pengetahuan dan teknologi bukan wilayah nan jauh. Ia bisa dipelajari, disentuh, dipahami, dan dilanjutkan.

Empat Zona, Satu Cerita Besar

Menurut Dermawan, secara kuratorial, Museum ITB dibagi ke dalam empat area utama. Zona Akar Sejarah ITB membawa visitor menelusuri perjalanan dari Technische Hoogeschool te Bandoeng hingga menjadi ITB.

"Zona Jejak Pencerahan Riset dan Pendidikan menampilkan proses lahirnya riset dan inovasi. Zona Kehidupan Kampus dari Masa ke Masa merekam dinamika sivitas akademika. Sementara Zona Inspirasi Masa Depan memperkenalkan tokoh-tokoh, gagasan, dan kontribusi ITB bagi pengetahuan pengetahuan, teknologi, seni, dan kemanusiaan," ucap dia.

Di luar empat area itu, lanjut Dermawan, ada 360 derajat Teater Dome nan menjadi daya tarik utama. Fasilitas ini menghadirkan pengalaman imersif sinematik melalui perpaduan visual dan audio, sehingga visitor dapat merasakan perjalanan sejarah kampus dan simulasi riset para ilmuwan.

Bagi Dermawan, museum ini kudu terus bergerak agar tidak menjadi ruang nan beku. Ia menyebut adanya area pamer nonpermanen nan dapat berganti tema sesuai program studi alias fakultas.

"Koleksinya kelak bakal komprehensif, menyangkut semua sisi dari program studi: science, technology, engineering, human resource, dan sebagainya. Itu lengkap, sehingga seimbang," kata dia.

"Keseimbangan itu dimungkinkan lantaran ada ruang pamer non permanen. Setiap program studi bakal pameran di situ. Katakanlah ada 12 fakultas, tiap bulan fakultasnya berbeda-beda sehingga mendapat giliran. Orang mendapatkan gambaran nan komplet tentang semua fakultas di ITB," papar Dermawan.

"Gagasan ini membikin Museum ITB tidak semata menjadi museum sejarah institusi, tetapi juga etalase hidup dari dinamika keilmuan kampus. Sejarah ditempatkan bukan sebagai laman terakhir, melainkan sebagai pintu masuk menuju percakapan baru," sambung dia.

Edu-Fun Center Baru di Bandung

Dermawan juga menyebut ambisi menjadikan Museum ITB sebagai 'edu-fun center' baru di Bandung. Istilah itu menarik lantaran memadukan dua perihal nan sering dipisahkan, ialah pendidikan dan rekreasi.

"Kita mau menjadikan ini edufun center baru di Bandung, sehingga ini menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat, tetapi nan mengandung edukasi," kata dia.

Menurut Dermawan, museum idealnya menjadi pusat pengetahuan sekaligus tempat belajar nan menyenangkan.

"Jadi kita belajar dengan senang. Namun, dia juga realistis," ucap dia.

Pada tahap awal, lanjut Dermawan, segmentasi visitor tetap perlu disempurnakan. Display nan terlalu akademis mungkin cocok untuk mahasiswa alias siswa SMA, tetapi belum tentu mudah dipahami anak SD dan SMP.

"Segmentasinya bagi saya tetap berat ke akademis, universitas alias SMA. nan SD-SMP mungkin tetap belum mudah memahami display nan kita setel,” katanya.

Karena itu, Dermawan membayangkan pengembangan area interaktif nan lebih sesuai bagi anak-anak: bermain sembari memahami style dorong, style gesek, beban, alias konsep dasar sains lain.

"Kelak mungkin diberikan sesuatu nan lebih interaktif. Katakanlah bermain di suatu tempat, tetapi ada style dorong, style gesek, dan sebagainya, sehingga lebih menarik untuk setiap segmen," kata dia.

Dermawan juga menyinggung rencana awal ticketing. Dia menyebut beragam kemungkinan ialah tiket museum, tiket dome theater, tiket paket, tiket grup, alias tiket perorangan. Menurut Dermawan, nomor Rp 50.000 disebut sebagai pembicaraan awal, bukan keputusan final nan diumumkan resmi.

"Dari ticketing nanti, apakah full, apakah ada paket—paket dome theater saja, paket museum saja, grup, alias perorangan. Dalam obrolan ringan, kira-kira Rp 50.000 HTM-nya. Informasi ini sebaiknya dibaca sebagai rencana internal awal, bukan tarif resmi operasional," terang dia.

Gotong Royong Alumni dan Para Donatur

Museum ITB juga menjadi cerita tentang gotong royong. Dalam sambutannya, Tatacipta berulang kali menyebut support para donatur, alumni, dan family besar ITB.

Ia secara unik menyapa tokoh-tokoh nan hadir, termasuk Sinta Nuriyah Wahid, Fadli Zon, Dato’ Low Tuck Kwong, Purnomo Yusgiantoro, family Medco, family Paragon, Yani Panigoro, dan Nyoman Nuarta.

"Terima kasih sekali kepada semua pihak nan telah membantu memberikan kepercayaan, donasi, kontribusi kepada perwujudan museum ini," kata Tatacipta.

Secara resmi, ITB sebelumnya juga mencatat adanya kerja sama dengan Purnomo Yusgiantoro Center dan Dato’ Dr. Low Tuck Kwong mengenai bantuan pembaharuan Museum ITB. Kerja sama itu ditandatangani pada 14 November 2025, dan disaksikan antara lain oleh Prof. Purnomo Yusgiantoro serta perwakilan Dato’ Low Tuck Kwong.

Dermawan menyebut support alumni sebagai salah satu daya utama museum.

"Alumni ITB itu pada dasarnya generous. Kalau kita memberikan suatu ide, mereka bakal dengan senang hati membantu," kata dia.

Dermawan apalagi menyebut, pada tahap awal pembangunan museum, para alumni memberikan support tanpa banyak syarat.

"Kita tidak menjanjikan apa-apa, mereka langsung memberikan Rp 12 miliar sampai Rp 14 miliar," kata dia.

Dermawan lampau memberi contoh spontanitas support itu.

"Saya hanya menelepon Pak Nyoman Nuarta, dia langsung (menyumbang) Rp 100 juta. Tidak ngomong apa-apa, tidak tanya apa-apa," ucap dia.

Kehadiran Nyoman Nuarta di aktivitas peresmian pun menjadi simbol kuat. Nyoman Nuarta bukan hanya seniman besar Indonesia, tetapi juga bagian dari jejak alumni dan bumi imajinatif nan memperluas makna ITB di luar sains dan teknik semata.

Dari Sabuga Menuju Jejaring Museum Dunia

Bagi Dermawan, Museum ITB baru berada di tahap pertama. Ia menyebut fase berikutnya bakal melangkah bertahap, mungkin dalam kurun satu sampai dua tahun, lampau berkembang lebih jauh dalam lima tahun.

"Ini baru tahap pertama, starting point-nya. Tahap kedua kelak setelah ada orang masuk, ada income nan kita dapatkan, mudah-mudahan berikutnya bisa meng-create hal-hal nan kita rencanakan," kata dia.

"Tahap kedua mungkin berjalan sekitar satu-dua tahun. Kemudian tahap ketiga dan sebagainya, kira-kira selama lima tahun sampai kita mendapatkan posisi sebagai host internasional museum," sambung Dermawan.

Yang dimaksud bukan hanya memperluas ruang fisik, tetapi membangun jejaring. Dermawan membayangkan Museum ITB menjadi simpul nan bisa terhubung dengan museum lain di luar negeri.

"Menjadi pusat bumi dalam perihal kita mempunyai host nan bisa terhubung secara online dengan beragam museum di luar negeri. Sehingga orang Indonesia tidak perlu pergi ke Tokyo, London, alias New York. Bisa langsung klik saja dari sini," kata dia.

Dermawan juga menyebut kesempatan kerja sama dengan museum dan universitas di Belanda, Jepang, Inggris, dan negara lain. Salah satu nan disebutnya adalah arsip teknis Aula Barat nan tetap tersimpan di Delft, Belanda.

"Kita mendapatkan gambar Aula Barat asli, tetap gambar teknis itu, dari Delft, Belanda. Di sana tetap ada dokumentasinya asli" terang Dermawan.

Arah ini menunjukkan bahwa Museum ITB tidak mau berakhir sebagai ruang nostalgia internal kampus. Ia mau menjadi simpul pengetahuan, menghubungkan arsip lokal dengan jaringan global.

Museum: Entitas nan Tidak Pernah Selesai

Tatacipta menyebut, Museum ITB sebagai museum nan bakal terus tumbuh. Menurut dia, setelah tahap pertama dibuka, bakal muncul kebutuhan untuk menambah pojok-pojok sejarah dari beragam fakultas dan program studi.

"Ini baru tahap satu. Nanti bakal ada tahap dua. Pasti kelak jika sudah lihat ini, ada nan bertanya, kok farmasi belum ada, kok arsitektur belum ada. Nanti kita bakal isi pojok-pojok berikutnya untuk setiap sejarah nan ada," kata dia.

Tatacipta menggambarkan museum sebagai sesuatu nan 'tidak bakal pernah selesai'.

"Mudah-mudahan ini bakal menjadi museum nan tidak bakal pernah selesai. Ini bakal menjadi museum nan terus tumbuh, museum nan terus bertambah koleksinya, terus memperkaya pengetahuan, terus membangun perbincangan dari generasi ke generasi," ucap Tatacipta.

Bagi Tatacipta, membangun museum bukan sekadar membangun ruangan. “Ini kita sedang membangun peradaban, membangun budaya. Ini adalah investasi jangka panjang bagi pengetahuan pengetahuan, kebudayaan, dan pendidikan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi penutup nan tepat bagi grand launching Museum ITB. Di hadapan para tokoh, donatur, penggagas, akademisi, alumni, dan masyarakat, museum ini mengusulkan satu langkah pandang ialah sejarah bukan sekadar apa nan telah lewat, tetapi bahan bakar untuk bergerak.

Di Bandung, pada lantai atas Sabuga, masa lampau ITB sekarang mempunyai ruang baru. Di sana, kitab induk Bung Karno, jejak riset, kisah para alumni, teknologi dome, hingga khayalan tentang museum nan terhubung ke dunia, berjumpa dalam satu narasi besar bahwa pendidikan tinggi bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menyimpan, merawat, dan mewariskan peradaban.

Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑