Mualem Desak Trenggono Keruk Muara Sungai: Kita Macam Anak Tiri

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Banda Aceh, CNN Indonesia --

Gubernur Aceh Muzakir Manaf namalain Mualem mendesak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) nan dipimpin Sakti Wahyu Trenggono segera turun melakukan pengerukan kuala (muara sungai) nan hingga sekarang belum tertangani usai banjir besar akhir November 2025 lalu.

Mualem mengatakan keterlambatan penanganan kuala berakibat serius terhadap kehidupan masyarakat pesisir, khususnya nelayan nan kesulitan melaut akibat pendangkalan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bagi nelayan nan mata pencahariannya ke laut, mereka menunggu air pasang surut untuk bisa mencari nafkah," kata Mualem saat menggelar Musrenbang di Anjong Mon Mata Komplek Pendopo Gubernur Aceh, Kamis (23/4).

Mualem mengaku telah mengupayakan untuk mengurus perizinan ke pemerintah pusat. Namun, realisasi pengerukan dinilai belum menunjukkan hasil nan berarti.

Keterlibatan langsung KKP dinilai jadi kunci percepatan penanganan, mengingat kewenangan dan kapabilitas teknis berada di pemerintah pusat.

"Saya sudah bekerja keras untuk kita dapati izin dari pusat untuk pengerukan kuala semacam jadi tak jadi, kita macam anak tiri, mengemis-ngemis minta nasi sama ibu bapaknya, inilah nan terjadi," katanya.

Mualem mengingatkan jika pengerukan tidak segera dilakukan, maka akibat banjir berulang bakal terus menghantui wilayah Aceh. Kondisi kuala nan dangkal menyebabkan aliran air tertahan, sehingga memicu genangan saat curah hujan meningkat.

Pemerintah Aceh juga berambisi pusat dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi prasarana pesisir di wilayah tersebut, agar penanganan tidak terkesan lambat dan berlarut.

"Kita kudu ke Jakarta, ke kelautan di KKP, kudu minta itu agar cepat. Karena dengan lambat-lambat bakal terjadi musibah nan paling teruk lagi, nan paling berat lagi," ujarnya.

Sementara itu Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Samsul Bahri mengatakan kebutuhan pengerukan memang kudu berbarengan dengan pembuatan jeti agar pengerukan tidak sia-sia. Tanpa struktur penahan tersebut, sedimentasi bakal kembali terjadi dalam waktu singkat.

"Kalau jeti sudah dibuat, pengerukan bisa lebih aman. Tapi jika dikeruk tanpa jeti, paling tiga bulan ke depan bakal terjadi pendangkalan lagi," ujarnya.

Dari segi kewenangan DKP Aceh hanya memasukkan 6 wilayah nan kualanya paling parah mengalami pendangkalan pascabanjir seperti di Pidie Jaya ada di Krueng Meureudu.

Kemudian Bireuen ada di Peudada, Aceh Utara di Krueng Mane, Lhokseumawe ada di Pusong dan Ujungnam hingga ke Aceh Tamiang. Namun 3 di antaranya bakal segera dikerjakan.

Pihaknya berambisi ada kombinasi tangan KKP agar wilayah lain nan muara sungainya mengalami pendangkalan bisa ditangani.

(fra/dra/fra)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional