Jakarta -
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berambisi penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) obyektif menilai peningkatan transparansi pasar modal Indonesia dan segera mencabut status pembekuan (freeze).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan selama ini pihaknya berbareng ketua dan tim teknis rutin menggelar komunikasi intensif dengan para index provider global, termasuk MSCI dan FTSE Russell.
Pertemuan ini dilakukan untuk menyiapkan dan menerapkan beragam langkah untuk menyempurnakan transparansi di pasar saham Indonesia nan menjadi argumen pembekuan sejak Maret lalu. Hal ini juga merupakan respons atas masukan dari penyedia indeks maupun investor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah untuk pengumuman rebalancing berikutnya nan dalam waktu dekat bakal kita sama-sama cermati, memang kondisi pembekuan alias freeze ini kan belum diangkat. Kita harapkan kelak secara fair mereka dapat memandang dan menilai memperbandingkan tingkat transparansi pasar kita apalagi rasanya sudah jauh lebih bagus dibanding pasar-pasar lainnya," terang Hasan di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Dalam perihal penyempurnaan transparansi pasar saham ini, OJK telah meluncurkan beragam perbaikan meliputi penyesuaian kriteria untuk triggering penghitungan high shareholding concentration, pengungkapan porsi kepemilikan saham di atas 1%, hingga memperrinci pengelompokkan penanammodal dari bulan ke bulan.
Kebijakan transparansi ini dihadirkan untuk mempermudah penghitungan porsi saham publik (free float) dan kredibilitas emiten, sekaligus membantu penanammodal ritel domestik nan mempunyai keterbatasan kapabilitas riset dalam memantau porsi kepemilikan saham.
"Pengungkapan lebih luas kepemilikan penanammodal nan di atas 1%, lampau granularity dan perincian jenis pengelompokkan penanammodal semakin hari juga jika dilihat dari bulan ke bulan kita tambahkan kolom-kolom nan pada prinsipnya juga merupakan respons dari feedback itu untuk lebih memudahkan mereka para index provider dunia dan investor, terutama juga penanammodal domestik nan ritel," jelasnya.
Atas dasar inilah Hasan berambisi pasar modal Indonesia bisa mendapatkan penilaian secara setara dari MSCI sehingga bisa mendapatkan pencabutan status freeze bisa segera direalisasikan. Hal ini bakal membuka kesempatan lebih lebar bagi saham-saham emiten berbobot di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk masuk ke dalam konstituen indeks global.
"Tentu itu kita harapkan secara fair menjadi bagian penilaian mereka untuk segera melakukan release alias relief atas pembekuan nan dilakukan sehingga kesempatan untuk saham-saham terbaik lainnya nan sudah tercatat di bursa untuk dapat dinilai dan masuk ke dalam personil index menjadi semakin terbuka ke depannya," ujar Hasan.
Senada, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyatakan terus berkomunikasi dengan index provider dunia seperti MSCI soal langkah-langkah penyempurnaan transparansi nan sudah dilakukan di pasar modal Indonesia.
"Tentu dari kami di SRO dan OJK, kami sudah menyampaikan seluruh tindakan reformasi nan kita lakukan dan sudah kami komunikasikan juga baik kepada MSCI maupun kepada dunia investors," ujarnya.
Atas dasar inilah dia berambisi pasar modal Indonesia dapat menerima penilaian positif dari index provider global. "Tentu kembali kewenangan sepenuhnya ada di Global Index Provider. Kita sama-sama tunggu," ujarnya.
(igo/hns)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·