MoU AS-Iran Berlanjut, Unit Khusus Dibentuk untuk Cegah Eskalasi di Libanon

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
MoU AS-Iran Berlanjut, Unit Khusus Dibentuk untuk Cegah Eskalasi di Libanon Bendera Iran (kanan) dan Bendera AS (kiri)(X)

PEMERINTAH Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk membentuk sebuah unit de-konflikasi alias deconfliction cell sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan dan mengakhiri bentrok di sejumlah wilayah, termasuk Libanon.

Pembentukan unit tersebut diumumkan melalui pernyataan berbareng nan disampaikan oleh Qatar dan Pakistan, dua negara nan berkedudukan sebagai mediator dalam proses negosiasi antara Washington dan Teheran.

Menurut pernyataan itu, sistem baru tersebut bakal melibatkan para pihak nan terkait, pemerintah Libanon, serta difasilitasi oleh kedua negara mediator guna memastikan penyelenggaraan penghentian operasi militer sesuai dengan kesepakatan nan telah dicapai.

"Para pihak setuju membikin unit de-konflikasi, nan terdiri dari para pihak, Republik Libanon, dan difasilitasi oleh para Mediator, untuk memastikan kepatuhan terhadap penghentian operasi militer di Libanon sesuai dengan MoU," demikian pernyataan berbareng mediator dilansir CNN, Senin (22/6).

Pembentukan unit de-konflikasi menjadi salah satu langkah lanjutan setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) pekan lalu. Kesepakatan tersebut dirancang sebagai kerangka awal untuk mengakhiri bentrok dan mengurangi ketegangan nan melibatkan kedua negara di area Timur Tengah.

Salah satu poin krusial dalam MoU tersebut adalah penghentian pertempuran di beragam front konflik, termasuk di Libanon nan dalam beberapa bulan terakhir menjadi salah satu titik panas di kawasan.

Meski demikian, situasi di Libanon tetap jauh dari stabil. Konflik antara Israel dan golongan Hizbullah terus berjalan meskipun beragam upaya gencatan senjata telah dilakukan. Data Kementerian Kesehatan Libanon menunjukkan lebih dari 4.000 orang tewas akibat serangan nan dilakukan pasukan Israel sejak 2 Maret.

Keterlibatan Libanon dalam bentrok regional semakin meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari. Operasi tersebut mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai respons atas kematian Khamenei, Hizbullah meluncurkan serangkaian serangan terhadap Israel. Kelompok tersebut selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Iran dan mendapat support dalam corak persenjataan maupun support lainnya dari Teheran.

Konflik nan melibatkan Hizbullah juga menjadi salah satu rumor sensitif dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Bagi Teheran, penghentian serangan Israel terhadap golongan nan dianggap sebagai sekutu strategisnya di area merupakan salah satu tuntutan utama dalam setiap proses negosiasi.

Di sisi lain, Israel mempunyai pandangan berbeda. Pemerintah Israel menilai Hizbullah sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional mereka dan memandang golongan tersebut kudu dilumpuhkan. Perbedaan kepentingan itu menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penerapan nota kesepahaman nan telah disepakati Washington dan Teheran.

Meski demikian, pembentukan unit de-konflikasi diharapkan dapat menjadi sistem untuk mengawasi penyelenggaraan gencatan senjata serta mencegah terjadinya eskalasi baru di Libanon.

Langkah tersebut juga dipandang sebagai ujian awal bagi efektivitas MoU AS-Iran dalam meredakan bentrok nan selama ini melibatkan beragam tokoh regional di Timur Tengah. (Fer/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia