Montsechia Vidalii adalah tumbuhan air nan penampilannya menyerupai rumput laut, tetapi unik lantaran mengandung biji, nan merupakan karakter utama tumbuhan berbunga.(Dok. University of Indiana)
PENELITIAN terbaru terhadap lebih dari 1.000 fosil mengungkap bahwa Montsechia vidalii, tumbuhan air tawar kuno asal Spanyol, merupakan kembang tertua di bumi nan hidup sekitar 130 juta tahun lalu. Tanaman ini diketahui tumbuh subur di Periode Kapur, sezaman dengan dinosaurus ikonik seperti Iguanodon dan Brachiosaurus.
Penemuan nan diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini secara resmi menggeser posisi Archaefructus sinensis asal Tiongkok sebagai pemegang gelar tumbuhan berbunga tertua sebelumnya.
Montsechia vidalii diperkirakan hidup pada rentang 125 hingga 130 juta tahun silam di wilayah nan sekarang menjadi Spanyol Tengah dan pegunungan Pyrenees.
Meskipun fosilnya telah ditemukan lebih dari seabad lampau di Pegunungan Iberia, identitas aslinya baru terungkap setelah tim peneliti dari Universitas Indiana melakukan kajian laboratorium nan sangat mendalam.
Para intelektual menggunakan masam klorida untuk melepaskan struktur tanaman dari batu kapur, serta campuran masam nitrat dan kalium klorida untuk memeriksa kutikula daun di bawah mikroskop elektron.
Secara fisik, Montsechia vidalii mempunyai karakter nan unik dan tidak lazim bagi tumbuhan berbunga modern:
- Tanpa Akar dan Kelopak: Penampakannya menyerupai rumput laut nan hidup di bawah permukaan air tawar.
- Struktur Biji: Memiliki kembang mini dengan biji tunggal nan tumbuh terbalik di ketek daun.
- Pola Daun: Daun tersusun secara spiral alias saling berhadapan di sepanjang batang.
Ketiadaan bagian kembang nan mencolok seperti mahkota alias nektar sempat membikin para peneliti terdahulu salah mengidentifikasi tanaman ini. Namun, keberadaan biji tertutup (angiosperma) memastikan posisinya dalam sejarah perkembangan tumbuhan.
Reinterpretasi fosil ini memberikan kontribusi besar bagi pengetahuan biologi dalam memahami gimana tumbuhan berbunga berevolusi hingga mendominasi ekosistem Bumi saat ini.
Penemuan ini sekaligus memecahkan teka-teki panjang mengenai asal-usul keragaman tanaman dunia nan sempat membingungkan para mahir botani selama puluhan tahun. (i24NEWS/Revista Pesquisa FAPESP/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·