Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengeluarkan perintah tegas bahwa persediaan uranium nan diperkaya mendekati tingkat senjata nuklir milik negara itu tidak boleh dikirim ke luar negeri. Mengutip Reuters, langkah ini langsung memperkeras posisi Teheran terhadap salah satu tuntutan utama Amerika Serikat (AS) dalam perundingan damai.
Seorang sumber senior Iran nan berbincang dengan syarat anonim lantaran sensitivitas masalah ini membenarkan adanya keputusan absolut tersebut pada hari Kamis (21/05/2026). Pihak internal Teheran dikabarkan sudah satu bunyi mengenai masalah krusial ini.
"Arahan Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam lembaga, adalah bahwa persediaan uranium nan diperkaya tidak boleh meninggalkan negara ini," kata sumber tersebut.
Para pejabat tinggi Iran meyakini bahwa mengirim material sensitif tersebut ke luar negeri justru bakal membikin negara mereka menjadi jauh lebih rentan terhadap serangan di masa depan oleh AS dan Israel. Dalam sistem pemerintahan Iran, Khamenei memang memegang keputusan terakhir atas urusan negara nan paling penting.
Saat ini, gencatan senjata nan rentan sedang berjalan dalam perang nan dimulai dengan serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Setelah serangan itu, Iran membalas dengan menembaki negara-negara Teluk nan menampung pangkalan militer AS, serta memicu pertempuran sengit antara Israel dan Hizbullah nan didukung Iran di Lebanon.
Namun, hingga sekarang belum ada terobosan besar dalam upaya perdamaian lantaran adanya blokade AS di pelabuhan-pelabuhan Iran dan kendali Teheran atas Selat Hormuz nan merupakan rute pasokan minyak dunia nan vital. Situasi ini pun mempersulit negosiasi nan dimediasi oleh Pakistan.
Dua sumber senior Iran menyebut muncul kecurigaan mendalam di internal Teheran bahwa jarak pertempuran ini hanyalah tipu muslihat taktis dari Washington. AS dicurigai sengaja menciptakan rasa kondusif tiruan sebelum akhirnya meluncurkan kembali serangan udara baru.
Negosiator perdamaian utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, juga mengendus adanya pergerakan mencurigakan dari pihak musuh pada hari Rabu kemarin. Hal tersebut mengindikasikan bahwa militer Amerika sedang mempersiapkan serangan-serangan baru.
"Langkah nyata dan tersembunyi oleh musuh menunjukkan bahwa orang-orang Amerika sedang mempersiapkan serangan baru," kata Qalibaf.
Di sisi lain, Trump pada hari Rabu juga menegaskan bahwa AS siap untuk melanjutkan serangan lebih lanjut ke Teheran jika Iran tidak menyetujui kesepakatan damai. Kendati demikian, Trump mengisyaratkan bahwa Washington tetap bisa menunggu beberapa hari untuk mendapatkan jawaban nan tepat dari pihak Iran.
Sebelum perang pecah, Iran sempat mengisyaratkan kesediaannya untuk mengirimkan separuh dari persediaan uraniumnya nan telah diperkaya hingga 60%. Namun, para sumber mengatakan posisi itu berubah drastis setelah adanya ancaman berulang kali dari Trump untuk menyerang Iran.
Meskipun situasi tampak buntu, sumber Iran menyebut tetap ada formula nan layak dan masuk logika untuk menyelesaikan masalah perebutan logistik nuklir ini tanpa kudu mengirimnya keluar negara.
"Ada solusi seperti mengencerkan persediaan di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA)," ujar salah satu sumber Iran tersebut.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai jumlah persediaan uranium nan tersisa setelah kompleks akomodasi nuklir Isfahan dan Natanz menjadi sasaran serangan udara. Pihak Iran sendiri bersikeras bahwa sebagian uranium nan diperkaya tinggi tetap dibutuhkan untuk keperluan medis dan reaktor penelitian di Teheran.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·