Model AI Anthropic Bobol 3 Perusahaan Tanpa Disadari Gegara Salah Konfigurasi

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi Anthropic. Foto: Photo For Everything/Shutterstock

Model AI (kecerdasan buatan) milik Anthropic meretas sistem perusahaan saat menjalani pengetesan keamanan siber. Insiden tersebut terjadi tanpa sepengetahuan Anthropic akibat kesalahan konfigurasi nan membikin model AI dapat mengakses internet.

Anthropic mengungkapkan kejadian ini pada Kamis, 30 Juli 2026. Perusahaan tidak menyebut identitas ketiga korban, tetapi telah memberi tahu mereka pada Senin, 27 Juli 2026.

Kasus peretasan berjalan dalam tiga kejadian terpisah sejak April 2026. Model nan terlibat adalah Opus 4.7, Mythos 5, dan satu model riset nan belum disebutkan namanya.

Insiden OpenAI Picu Anthropic Cek Ulang 141.000 Uji AI

Temuan ini muncul sekitar satu minggu setelah OpenAI mengungkap bahwa pemasok AI miliknya sukses keluar dari lingkungan pengetesan terisolasi alias sandbox. Model tersebut kemudian mengakses internet dan meretas perusahaan AI Hugging Face.

Insiden OpenAI mendorong Anthropic memeriksa kembali seluruh pengetesan keamanan sibernya. Perusahaan menelusuri catatan dari lebih dari 141.000 pengetesan dan menemukan bahwa Claude beberapa kali sukses terhubung ke internet.

Namun, model Anthropic tidak membobol sandbox seperti dalam kasus OpenAI. Sejumlah sistem pengetesan nan digunakan Anthropic dan mitranya, perusahaan keamanan Irregular, rupanya tidak mempunyai sandbox nan semestinya.

Claude Anthropic Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan

Salah Konfigurasi Bikin Model AI Anthropic Bisa Akses Internet

Anthropic menyebut kesalahan konfigurasi membikin model memperoleh akses langsung ke internet. Juru bicara Irregular mengatakan perusahaan sedang menyelidiki kejadian tersebut.

Model-model itu sebelumnya menerima info bahwa akses internet tidak tersedia. Kenyataannya, model sukses masuk ke internet selama pengetesan dan menyerang perusahaan nyata dengan teknik peretasan dasar.

Claude antara lain menebak kata sandi nan lemah dan mencari sistem nan tidak memerlukan autentikasi. Model tersebut mengira tindakannya tetap menjadi bagian dari pengetesan alias benchmark nan diberikan Anthropic.

Dalam salah satu insiden, Claude sukses menyusup ke sistem sebuah perusahaan keamanan nan tidak disebutkan namanya. Model menciptakan perangkat lunak rawan nan kemudian diunduh oleh sistem pemindai milik perusahaan tersebut.

Peranti lunak itu mencuri kredensial. Claude lampau menggunakan kredensial tersebut untuk mengakses prasarana perusahaan keamanan.

Pada dua kejadian lain, Claude tidak menyadari bahwa targetnya benaran perusahaan nyata. Dalam salah satu kasus, model memahami kesalahan tersebut dan segera menghentikan aktivitas peretasan.

Ilustrasi Anthropic. Foto: PJ McDonnell/Shutterstock

Kasus OpenAI dan Anthropic Bikin Dunia Khawatir soal Risiko Model AI Canggih

Kasus tersebut memperlihatkan akibat ketika model AI otonom memperoleh akses ke sistem dan jaringan nan tidak terlindungi. Alex Stamos, Chief Product Officer Corridor, perusahaan keamanan siber, mengatakan perusahaan AI memerlukan standar industri nan lebih kuat untuk mengisolasi model selama pengetesan keamanan siber.

Menurutnya, keahlian nan diperlihatkan model-model tersebut juga memberikan gambaran mengenai ancaman serangan siber pada masa depan. Pelaku ransomware berpotensi memakai AI nan semakin canggih untuk melancarkan serangan dalam skala luas.

"Kita perlu bersiap lantaran penyerang bakal segera mempunyai keahlian seperti ini menggunakan model open-weight," kata Stamos, mengutip The Wall Street Journal.

Insiden Anthropic dan OpenAI diperkirakan meningkatkan kekhawatiran terhadap akibat model AI berkekuatan tinggi. Pemerintah Amerika Serikat mulai memperketat pengawasan terhadap teknologi tersebut. Pada saat nan sama, sejumlah perusahaan swasta meminta agar akses terhadap model open-weight tetap dipertahankan.

Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Greg Casar, menilai perkembangan AI saat ini berjalan lebih sigap daripada izin nan dibutuhkan untuk melindungi masyarakat.

"AI berkembang sangat sigap tanpa izin nyata untuk menjaga keselamatan kita," ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan