Mitos vs Fakta Megathrust, Pakar Beri Jurus Selamat dari Gempa-Tsunami

Sedang Trending 9 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman gempa megathrust kembali menjadi perhatian publik. Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengingatkan tetap banyak pemahaman nan keliru mengenai megathrust, mulai dari dugaan bahwa gempa besar bakal segera terjadi hingga kepercayaan bahwa setiap gempa megathrust pasti memicu tsunami dahsyat.

Padahal, megathrust bukanlah nama sebuah gempa bumi. Daryono menjelaskan, megathrust merupakan istilah untuk area subduksi alias bagian pertemuan dua lempeng tektonik di kedalaman dangkal. Pada wilayah inilah lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua sehingga terbentuk akumulasi tekanan nan sewaktu-waktu dapat dilepaskan menjadi gempa bumi.

Karena itu, keberadaan area megathrust bukan berfaedah gempa besar bakal terjadi dalam waktu dekat. Hingga kini, para intelektual belum mempunyai teknologi nan bisa memprediksi secara tepat kapan gempa bakal terjadi. nan dapat dilakukan adalah mengidentifikasi wilayah nan mempunyai potensi gempa dan menghitung tingkat risikonya.

Kesalahpahaman lain nan juga kerap muncul adalah dugaan bahwa setiap gempa megathrust pasti bakal memicu tsunami besar. Faktanya, potensi tsunami berjuntai pada beragam faktor, seperti sistem patahan, letak pusat gempa, kedalaman sumber gempa, hingga besarnya deformasi dasar laut. Dengan demikian, tidak semua gempa megathrust otomatis menghasilkan tsunami.

Jawa Waspada

Dalam kesempatan terpisah, Daryono mengungkapkan, seluruh pantai selatan Pulau Jawa memang berada di area subduksi megathrust nan berpotensi memicu gempa besar. Namun, menurutnya, ancaman tersebut kudu dihadapi dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan, bukan kepanikan.

"Megathrust bukan sekadar potensi, tetapi ancaman nyata nan kudu dihadapi dengan pengetahuan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan budaya mitigasi," kata Daryono.

Ia mengingatkan masyarakat agar belajar dari peristiwa Tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2006.

Saat itu, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 nan terjadi di area subduksi selatan Jawa Tengah dan Jawa Barat memicu tsunami nan menewaskan lebih dari 668 orang serta menyebabkan ribuan lainnya terluka dan kehilangan tempat tinggal.

Menurut Daryono, gempa tersebut merupakan tsunami earthquake, ialah jenis gempa nan menghasilkan tsunami besar meski guncangannya relatif lemah di daratan. Akibatnya, banyak penduduk dan visitor tetap berada di pantai lantaran menganggap gempa tersebut tidak berbahaya.

"Jangan menunggu gempa terasa kuat. Jika berada di pantai dan terjadi gempa, segera pemindahan meninggalkan pantai," ujarnya.

Cuma Punya Waktu 15-20 Menit

Ia menjelaskan, gelombang tsunami saat itu tiba di pantai hanya sekitar 15 hingga 20 menit setelah gempa terjadi. Waktu nan sangat singkat tersebut membikin masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan info resmi alias sirene peringatan dini.

Karena itu, Daryono menekankan pentingnya mengenali natural warning alias tanda-tanda alam, seperti gempa nan berjalan cukup lama, air laut surut secara tiba-tiba, maupun bunyi gemuruh dari arah laut. Menurutnya, mengenali tanda-tanda tersebut dapat menjadi penyelamat pertama ketika tsunami mengancam.

Daryono juga mengingatkan bahwa ancaman megathrust bukan hanya dirasakan masyarakat di pesisir. Gempa kuat dapat berakibat hingga wilayah daratan nan cukup jauh dari pantai, sedangkan tsunami memang lebih berisiko bagi area pesisir.

Ia menilai dugaan masyarakat tidak dapat melakukan apa pun dalam menghadapi ancaman megathrust juga tidak tepat. Risiko musibah dapat ditekan melalui pembangunan gedung tahan gempa, penyediaan jalur evakuasi, penataan ruang berbasis risiko, edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, hingga kesiapan masyarakat untuk menyelamatkan diri secara mandiri.

Selain itu, masyarakat diingatkan agar tidak menganggap ancaman telah berhujung setelah gempa utama terjadi. Gempa susulan tetap mungkin terjadi dan pada kondisi tertentu potensi tsunami juga tetap kudu diwaspadai sehingga kewaspadaan perlu dipertahankan.

Menurut Daryono, dua dasawarsa setelah Tsunami Pangandaran, Indonesia memang telah mempunyai sistem peringatan awal tsunami, peta bahaya, jalur evakuasi, hingga program edukasi kebencanaan nan jauh lebih baik. Namun, pekerjaan tersebut belum selesai.

"Keberhasilan penanggulangan tsunami bukan diukur dari banyaknya korban nan sukses diselamatkan setelah bencana, tetapi dari sedikitnya korban nan kudu diselamatkan lantaran masyarakat sudah siap sebelum tsunami datang," tegasnya.

Pesan tersebut sejalan dengan imbauan bahwa megathrust bukan kejadian nan perlu ditakuti secara berlebihan, melainkan dipahami dan diantisipasi.

Gempa bumi memang tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui mitigasi, kesiapsiagaan, dan respons sigap ketika tanda-tanda ancaman muncul.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono (Dok Pribadi)Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono (Dok Pribadi) Foto: Dok Ist

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News