MADU dikenal sebagai bahan alami nan mempunyai beragam faedah bagi kesehatan. Tak sedikit orangtua nan percaya bahwa memberikan sedikit madu kepada bayi dapat membantu membersihkan tenggorokan, membikin bunyi lebih bagus, hingga menjaga kesehatan tubuh.
Namun, benarkah madu kondusif diberikan kepada bayi, terutama nan berumur di bawah 6 bulan? Ataukah perihal itu hanya mitos semata?
1. Madu Tidak Boleh Diberikan kepada Bayi di Bawah 1 Tahun
Faktanya, bayi berumur di bawah 1 tahun tidak boleh diberikan madu, meskipun madu tersebut original dan berasal langsung dari peternak lebah. Larangan ini bukan sekadar mitos, melainkan berangkaian dengan akibat gangguan kesehatan serius nan disebut infant botulism.
Dokter ahli anak, dr. Atika Nurmalitasari, Sp.A, dalam aktivitas Morning Zone nan tayang di Youtube Okezone mengatakan bahwa madu dapat mengandung spora kuman Clostridium botulinum nan berisiko menyebabkan penyakit tersebut pada bayi.
Anggapan bahwa madu kondusif untuk bayi selama diberikan dalam jumlah sedikit tetap sering ditemukan di masyarakat. Bahkan, ada orang tua nan memberikannya dengan tujuan menjaga kesehatan tenggorokan alias memperbaiki kualitas bunyi bayi.
Padahal, madu tidak direkomendasikan untuk bayi nan belum berumur 12 bulan. Risikonya tidak berjuntai pada apakah madu tersebut merupakan madu kemasan, madu organik, alias madu murni nan diambil langsung dari sarangnya.
Madu original sekalipun dapat mengandung spora Clostridium botulinum nan tidak selalu dapat diketahui hanya dari penampilan alias kualitasnya. Karena itu, orangtua sebaiknya tidak memberikan madu dalam corak apa pun kepada bayi sebelum berumur 1 tahun, termasuk mencampurkannya ke dalam air minum, makanan, alias ramuan tradisional.
“Anak berumur di bawah 1 tahun tidak boleh diberikan madu. Kenapa? Karena madu dapat mengandung spora kuman Clostridium botulinum nan bisa menyebabkan infant botulism alias botulisme pada bayi,” ujar dr. Atika.
“Kondisi ini dapat mengganggu sistem saraf dan menyebabkan kelemahan otot, apalagi gangguan pernapasan jika terjadi pada bayi berumur di bawah 1 tahun,” lanjutnya.
2. Mengapa Madu Bisa Berbahaya bagi Bayi?
Bahaya pemberian madu pada bayi berangkaian dengan kondisi sistem pencernaan mereka nan tetap berkembang. Spora Clostridium botulinum nan masuk ke saluran pencernaan bayi dapat berkembang dan menghasilkan racun botulinum.
Racun ini menyerang sistem saraf dan mengganggu keahlian saraf dalam mengendalikan otot. Kondisi tersebut dikenal sebagai infant botulism alias botulisme pada bayi.
Gejalanya dapat meliputi sembelit, kesulitan menyusu, tangisan nan melemah, kelopak mata terkulai, tubuh lemas, serta penurunan keahlian mengendalikan otot. Dalam kondisi berat, penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan hingga gangguan pernapasan.
Botulisme pada bayi merupakan kondisi serius nan memerlukan penanganan medis segera. Oleh lantaran itu, orang tua perlu menghindari pemberian madu sebelum anak berumur 12 bulan.
“Untuk bayi berumur di bawah 6 bulan, asupan utamanya adalah ASI alias susu formula nan sesuai. Sementara itu, pemberian madu memang tidak dianjurkan untuk anak berumur di bawah 1 tahun,” jelas dr. Atika.
“Kenapa? Karena madu dapat mengandung spora Clostridium botulinum nan berisiko menyebabkan gangguan saraf hingga kelumpuhan pada bayi,” lanjutnya.
“Jadi, meskipun madu dikenal mempunyai faedah bagi kesehatan, bukan berfaedah madu kondusif diberikan kepada semua golongan usia. Madu baru boleh diberikan setelah anak berumur 1 tahun,” sambungnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·