Misteri Stonehenge Terjawab! Studi Ungkap Cara Manusia Purba Angkut Batu 6 Ton Sejauh 700 Km

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Misteri Stonehenge Terjawab! Studi Ungkap Cara Manusia Purba Angkut Batu 6 Ton Sejauh 700 Km Ilustrasi(Unsplash)

STONEHENGE mungkin terlihat seperti sebuah lingkaran batu tunggal nan statis. Namun, monumen prasejarah di Salisbury Plain, Inggris ini sebenarnya dibangun dari material nan menempuh perjalanan sangat jauh. Sementara batu-batu terbesar (sarsen) berasal dari jarak 25 kilometer dan batu bluestone didatangkan dari Wales sejauh 230 kilometer, misteri terbesar terletak pada Batu Altar (Altar Stone) seberat 6 ton di pusat monumen nan berasal dari wilayah timur laut Skotlandia, berjarak sekitar 700 kilometer.

Selama puluhan tahun, para intelektual memperdebatkan gimana masyarakat prasejarah tanpa mesin modern bisa memindahkan bongkahan batu pasir sebesar itu. Salah satu teori terkenal menyebut bahwa gletser Zaman Es nan mencair membantu menggeser Batu Altar mendekati wilayah selatan Inggris, sehingga manusia tinggal melanjutkan sisa perjalanannya.

Namun, penelitian terbaru nan menggabungkan penanggalan butiran mineral mikroskopis (seperti zirkon) dan pemodelan komputer pergerakan lapisan es prasejarah membantah teori tersebut. Hasil studi nan diterbitkan dalam Journal of Quaternary Science ini menegaskan bahwa kekuatan manusialah nan berkedudukan penuh.

Berdasarkan simulasi, aliran es dari Cekungan Orcadian di Skotlandia justru bergerak ke arah utara dan timur, bukan ke selatan menuju tempat Stonehenge berdiri. Memang ada kemungkinan gletser membawa batuan tersebut ke Dogger Bank, wilayah nan dulunya daratan kering namun sekarang tenggelam di Laut Utara. Namun, rute es langsung dari Skotlandia ke Stonehenge sama sekali tidak ditemukan.

"Daripada terbawa secara alami oleh es, bukti-bukti nan ada justru mengarah pada pergerakan nan disengaja dan direncanakan dengan jeli melintasi lanskap nan menantang dan beragam," ujar Dr. Anthony Clarke, mahir geokimia sekaligus salah satu penulis utama studi dari Curtin University.

Bahkan jika gletser sempat memindahkan batu tersebut ke Dogger Bank, area tersebut sudah tenggelam oleh naiknya air laut sekitar 7.000 hingga 8.000 tahun lalu. Sementara itu, Batu Altar diperkirakan baru tiba di Stonehenge sekitar 5.000 tahun nan lalu. Artinya, tetap ada jarak ribuan tahun dan ratusan kilometer nan kudu ditempuh melalui kekuatan manusia.

Dr. Clarke menjelaskan batu raksasa ini kemungkinan besar dipindahkan secara berjenjang oleh organisasi Neolitikum, memadukan metode penarikan di darat dengan transportasi jalur sungai alias pesisir pantai.

"Mengangkut batu sebesar ini dalam jarak nan begitu jauh memerlukan perencanaan, koordinasi, dan pemahaman mendalam tentang lanskap, belum lagi tekad nan sangat besar," tambah Dr. Clarke. Temuan ini sekaligus membuka pandangan baru mengenai sungguh tingginya tingkat organisasi, kerja sama, dan jaringan sosial antar-komunitas manusia purba di masa lalu. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia