Meta Umumkan Muse Spark, Model AI Baru Buatan Tim Superintelligence Labs

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Logo Muse Spark. Foto: Dok. Meta

Meta resmi memperkenalkan Muse Spark pada Rabu (8/4) waktu AS. Ini adalah model kepintaran buatan (AI) pertama nan lahir dari Meta Superintelligence Labs (MSL), bagian unik nan dibentuk CEO Meta, Mark Zuckerberg, untuk memenangkan perlombaan AI global.

Peluncuran ini langsung disambut positif oleh pasar. Saham Meta dilaporkan melonjak hingga 7 persen tak lama setelah pengumuman tersebut.

Muse Spark diklaim sebagai langkah awal Meta menuju "kecerdasan super personal" (personal superintelligence), sebuah asisten AI nan tidak hanya bisa menjawab pertanyaan, tetapi betul-betul memahami bumi penggunanya lantaran dibangun berasas konteks kehidupan mereka.

Berbeda dengan model AI pendahulunya nan mengutamakan ukuran raksasa, Muse Spark dirancang lebih kecil, cepat, dan lincah. Meski begitu, Meta menyatakan model ini sangat mumpuni untuk menalar pertanyaan kompleks di bagian sains, matematika, hingga kesehatan.

Salah satu kelebihan utama Muse Spark adalah keahlian persepsi multimodal. Artinya, AI ini tidak hanya bisa membaca teks, tapi juga "melihat" dan memahami gambar layaknya manusia.

"Potret rak camilan di bandara, dan Meta AI bisa mengidentifikasi serta mengurutkan camilan mana nan punya protein paling banyak, tanpa perlu menyipitkan mata membaca label," tulis Meta dalam rilis resminya.

Karena banyak orang menggunakan AI untuk bertanya seputar kesehatan, Meta juga bekerja sama dengan tim master untuk memastikan Muse Spark bisa menjawab keluhan kesehatan pengguna, termasuk membaca gambar alias diagram medis.

Dalam beberapa minggu ke depan, Muse Spark bakal menggantikan model Llama nan saat ini digunakan di WhatsApp, Instagram, Facebook, Messenger, hingga kacamata pandai (smart glasses) Ray-Ban Meta.

Meta AI ada di WhatsApp. Foto: WhatsApp

Bisa berpikir paralel dan punya fitur belanja

Ada satu fitur baru nan disorot, ialah Thinking Mode alias Contemplating Mode. Fitur ini memungkinkan Meta AI meluncurkan beberapa "agen" secara berbarengan untuk memecahkan satu masalah rumit.

Contohnya, jika Anda merencanakan liburan family ke Bali, Satu pemasok AI bakal menyusun rencana perjalanan, lampau pemasok kedua membandingkan nilai hotel, sementara pemasok ketiga mencari lokasi wisata ramah anak. Semuanya dikerjakan paralel secara real-time.

Selain itu, Meta mulai menunjukkan gimana mereka bakal mendulang cuan dari AI ini lewat integrasi mode shopping (Shopping Mode). Saat pengguna mencari inspirasi style busana alias hiasan kamar, Meta AI bakal langsung menyodorkan buahpikiran dari pembuat konten komplit dengan produk nan bisa langsung dibeli.

Salah satu Pendiri Scale AI, Alexandr Wang. Foto: Brian Snyder/REUTERS

Lahirnya Muse Spark adalah momen pertaruhan nan sangat besar bagi Meta. Sebelumnya pada pertengahan 2025, Zuckerberg merombak besar-besaran bagian AI mereka dengan membentuk MSL.

Untuk mengejar ketertinggalan dari Google dan OpenAI, terutama setelah performa Llama 4 nan dinilai kurang memuaskan, CEO Meta tak segan bakar uang. Ia menggelontorkan investasi 14,3 miliar dolar AS (sekitar Rp 233 triliun) ke Scale AI, menarik mantan CEO-nya, Alexandr Wang, untuk memimpin MSL, serta membajak talenta-talenta top dari OpenAI, DeepMind, dan Anthropic dengan penghasilan fantastis.

Meski canggih, Muse Spark bukannya tanpa celah. Evaluasi independen dari Artificial Analysis menempatkan model ini di ranking keempat secara global. Muse Spark bisa bersaing ketat dengan OpenAI dan Google dalam pemahaman bahasa dan visual, namun tetap sedikit tertinggal dalam perihal coding dan penalaran abstrak.

Alexandr Wang, sang komandan MSL, mengakui perihal tersebut. Melalui unggahannya di media sosial, dia menyebut bahwa "pasti ada beberapa kekurangan nan bakal terus kami perbaiki seiring berjalannya waktu."

Zuckerberg sendiri sejak awal tahun sudah menurunkan ekspektasi pasar, dengan menyebut model pertama dari tim MSL ini sifatnya adalah "fondasi" untuk menunjukkan seberapa sigap laju penemuan Meta. Model generasi berikutnya nan lebih besar saat ini sedang dikembangkan.

Menariknya, kali ini Meta mengubah strateginya. Jika seri Llama sebelumnya selalu dirilis secara open-source (terbuka), Muse Spark saat ini hanya tersedia secara tertutup (private preview) lewat API untuk mitra tertentu. Namun, Meta berjanji bakal merilis jenis masa depannya secara terbuka.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan