Reti Sudarsi awalnya sedang menjelaskan tentang kurikulum ketika percakapan beranjak ke perihal lain nan lebih mendasar: siapa saja nan membikin kehidupan di Sekolah Rakyat melangkah setiap hari.
Di ruang kerjanya, Kepala Sekolah Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 20 Sleman itu bercerita tentang siswa nan berasal dari family desil 1 dan desil 2, sistem pendidikan berbasis asrama, serta aktivitas belajar nan berjalan sepanjang hari.
Sesekali dia menyebut jumlah siswa, guru, dan tenaga kependidikan nan terlibat dalam operasional sekolah.
“Saya panggilkan pembimbing ya?” katanya saat berbincang dengan Pandangan Jogja, Senin (8/6).
Kalimat sederhana itu menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa Sekolah Rakyat tidak dijalankan oleh satu orang.
Di kembali aktivitas belajar mengajar, ada banyak peran nan bekerja bersama: pembimbing nan tetap menjawab pertanyaan siswa pada malam hari, wali asuh nan menjadi tempat bercerita ketika siswa kangen rumah, hingga wali pondok nan mendampingi keseharian anak-anak sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat.
Melihat Realitas nan Selama Ini Hanya Ada di Berita
Salah satu sosok nan merasakan pengalaman itu adalah Dianita Astari, pembimbing sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SRMA 20 Sleman. Setelah mengajar di beragam lingkungan pendidikan, dia menemukan pengalaman nan berbeda ketika mendampingi siswa Sekolah Rakyat.
“Dunia nan selama ini hanya saya tahu dari buletin rupanya sangat dekat dengan kita,” ujarnya.
Menurut Dianita, banyak siswa datang bukan lantaran kekurangan kemampuan. Sebagian mempunyai potensi besar, tetapi belum pernah memperoleh ruang nan cukup untuk berkembang.
Ada nan tumbuh dengan rasa percaya diri rendah, ada nan terbiasa menempatkan diri di belakang orang lain, dan ada pula nan mudah menyerah lantaran tidak percaya terhadap kemampuannya sendiri.
Pengalaman tersebut mengubah langkah pandangnya sebagai pendidik. Di Sekolah Rakyat, keberhasilan tidak selalu diukur dari nilai akademik. Perubahan nan paling berfaedah sering kali terlihat ketika siswa mulai berani berbincang di depan kelas, tampil di hadapan tamu sekolah, alias menemukan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
“Beban moral kami bukan hanya membikin mereka cerdas, tetapi gimana mereka bisa menjadi pribadi nan baik dan tidak menjadi masalah di lingkungannya,” kata Dianita.
Karena itu, hubungan pembimbing dan siswa tidak berakhir saat jam pelajaran selesai. Ketika malam hari dan ada siswa nan tetap kesulitan memahami materi, pembimbing tetap membuka ruang konsultasi melalui grup WhatsApp.
Mendengarkan Sebelum Memberi Jawaban
Jika Dianita mengenal siswa melalui ruang kelas, Siti Musyarofah berinteraksi dengan mereka melalui peran nan berbeda sebagai wali asuh.
Sebelum berasosiasi dengan Sekolah Rakyat, wanita nan berkawan disapa Mbak Rofa itu bertahun-tahun menjadi pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Pengalaman mendampingi family penerima support sosial membentuk langkah pandangnya saat berhadapan dengan para siswa.
Menurut Rofa, setiap anak datang dengan latar belakang dan pengalaman hidup nan berbeda sehingga tidak ada satu pendekatan nan bisa diterapkan kepada semua siswa.
“Bahkan kerabat kandung saja berbeda, apalagi anak-anak nan berasal dari family dan pengalaman hidup nan berbeda-beda,” ujarnya.
Sebagian siswa bisa beradaptasi dengan sigap terhadap kehidupan asrama, sementara sebagian lainnya memerlukan waktu lebih lama. Ada nan terbuka menyampaikan perasaan, tetapi ada pula nan memilih menyimpan persoalannya sendiri.
Dalam situasi seperti itu, peran wali asuh lebih banyak mendengarkan daripada memberi nasihat.
“Tugas kami bukan menyelesaikan masalah anak,” kata Rofa. “Tapi membantu mereka menyelesaikan masalahnya.”
Menurutnya, pendampingan dilakukan agar siswa bisa menghadapi persoalan hidupnya secara mandiri, bukan berjuntai pada orang lain.
Anak Tidak Cukup Hanya Diberi Makan
Sementara itu, wali pondok Sigit Setiawan mengenal siswa dari keseharian mereka di luar ruang kelas. Ia mendampingi anak-anak sejak bangun pagi, mengikuti aktivitas harian, belajar malam, hingga menghadapi rasa kangen terhadap keluarga.
Dari hubungan tersebut, Sigit memandang bahwa persoalan nan dihadapi sebagian siswa tidak selalu berangkaian dengan ekonomi. Ada nan tumbuh dengan minim pendampingan, terbiasa menghadapi masalah sendiri, alias memerlukan waktu untuk mempercayai lingkungan baru.
“Mereka bekerja untuk mendapatkan duit hari ini agar bisa makan hari ini. Tapi anak tidak cukup hanya diberi makan.”
Menurut Sigit, banyak orang tua kudu berjuang memenuhi kebutuhan family sehari-hari sehingga perhatian terhadap tumbuh kembang anak tidak selalu dapat diberikan secara optimal.
Karena itu, pendampingan di pondok tidak hanya berangkaian dengan disiplin dan aturan, tetapi juga tentang menghadirkan figur nan mendengarkan dan membantu siswa memahami tujuan hidup serta tanggung jawabnya.
Perubahan nan Mulai Terlihat
Kepala SMRA 20 Sleman, Reti, tetap mengingat kondisi sebagian siswa saat pertama kali datang ke Sekolah Rakyat. Ada nan mengalami anemia, memerlukan perhatian kesehatan lebih lanjut, dan kudu beradaptasi dengan lingkungan nan sepenuhnya baru.
Setelah nyaris satu tahun berjalan, sejumlah perubahan mulai terlihat. Kondisi kesehatan siswa membaik dan rasa percaya diri mereka meningkat. Beberapa siswa sukses lolos ke Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), menjadi pengurus Rohis tingkat nasional, serta meraih prestasi di bagian olahraga.
Namun bagi para pendidik di Sekolah Rakyat, perubahan nan paling berfaedah bukan selalu soal prestasi. Mereka lebih sering bercerita tentang siswa nan sekarang berani mengemukakan pendapat, bisa mengatur kehidupannya sendiri, dan mulai mempunyai kepercayaan terhadap masa depan.
Perubahan-perubahan itu mungkin tidak selalu tercatat dalam rapor. Namun itulah nan setiap hari dirawat oleh guru, wali asuh, dan wali pondok sejak pagi hingga malam.
Mereka nan Dipanggil Bu dan Pak
Di atas kertas, Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan bagi anak-anak dari family rentan.
Namun dalam kehidupan sehari-hari, program itu datang melalui orang-orang nan mendampingi para siswa secara langsung.
Mereka adalah pembimbing nan tetap menjawab pertanyaan siswa setelah jam kerja, wali asuh nan mendengarkan tanpa menghakimi, dan wali pondok nan memastikan anak-anak bangun tepat waktu sekaligus dalam kondisi baik sebelum beristirahat.
Bagi 75 siswa nan tinggal di pondok SRMA 20 Sleman, pendampingan itu datang setiap hari dalam sosok nan mereka panggil dengan julukan sederhana: Bu dan Pak.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·