Merawat Warisan, Menjaga Ingatan Kota

Sedang Trending 12 jam yang lalu
Ilustrasi kota ramah pesepeda. Foto: trattieritratti/Shutterstock

Pagi itu, gowes saya berakhir di sebuah masjid nan berdiri di dalam teluk. Tidak persis di tengah, tetapi cukup jauh menjorok ke laut sehingga kehadirannya langsung memunculkan rasa takjub. Ada sesuatu nan terasa ganjil sekaligus memikat ketika memandang sebuah gedung besar berdiri di atas air—seolah dia sedang menegosiasikan pemisah antara daratan dan lautan, antara nan permanen dan nan cair.

Masjid itu ditopang deretan tiang pancang nan tertanam dalam laut. Dari kejauhan, tiang-tiang itu tampak kokoh, barangkali dari besi alias baja, jumlahnya pun tak sedikit. Melihat bangunan penyangganya saja sudah cukup untuk memunculkan satu kesadaran sederhana: gedung sebesar ini tidak mungkin lahir dari pendapat kecil.

Karena lokasinya berada di dalam teluk, akses menuju masjid tentu tidak bisa dibiarkan alamiah. Harus ada jalan penghubung, area parkir, ruang terbuka, dan beragam akomodasi penunjang. Reklamasi menjadi bagian dari akibat pembangunan. Seluruh area itu memperlihatkan satu perihal nan mudah dipahami siapa pun nan datang: proyek seperti ini memerlukan biaya nan sangat besar.

Namun semakin lama saya memandangnya, semakin saya merasa bahwa nan sedang saya lihat bukan sekadar sebuah gedung ibadah. Ada sesuatu nan lebih besar dari beton, baja, dan anggaran. Ada ambisi simbolik.

Saya membayangkan penggagasnya mungkin tidak hanya mau membangun masjid. Mungkin ada gairah nan lebih dalam: meninggalkan jejak. Membangun sesuatu nan melampaui kegunaan sehari-hari, lampau menjelma menjadi penanda zaman—sebuah legacy.

Dalam sejarah kota-kota besar, gedung monumental nyaris selalu lahir dari dorongan serupa. Ia bukan semata infrastruktur, melainkan pernyataan. Sebuah kota mau berkata: kami pernah punya visi besar. Monumen, stadion, museum, gedung parlemen, jembatan ikonik, hingga rumah ibadah megah sering kali menjadi bahasa visual dari ambisi kolektif itu.

Arsitek dan teoritikus kota Kevin Lynch, dalam The Image of the City (1960), menjelaskan bahwa kota tidak hanya dibentuk oleh kegunaan ruang, tetapi juga oleh gambaran mental nan melekat di kepala warganya. Kota memerlukan landmark—penanda nan membikin penduduk merasa terhubung dengan tempatnya. Landmark bukan hanya objek visual; dia membentuk memori kolektif.

Masjid di dalam teluk itu, saya kira, sedang diarahkan ke sana: menjadi landmark, ikon, wajah kota.

Ilustrasi dibuat dengan AI

Legacy dan Nafsu Monumental

Keinginan meninggalkan legacy sebenarnya sangat manusiawi. Dalam ilmu jiwa perkembangan, Erik Erikson menyebut adanya dorongan generativity—keinginan untuk menciptakan sesuatu nan melampaui usia biologis kita. Manusia mau meninggalkan jejak, warisan, alias kontribusi nan membikin keberadaannya tidak sepenuhnya lenyap setelah dia tiada.

Dorongan ini bisa mulia, tetapi juga problematis.

Di banyak tempat, gairah membangun legacy kerap bersenggolan dengan ego politik. Pemimpin mau dikenang melalui proyek-proyek besar. Bangunan monumental menjadi semacam prasasti modern. Nama boleh tidak dipahat di dinding, tetapi publik tahu siapa nan membangunnya.

Tidak ada nan salah dengan ambisi besar selama ambisi itu berpijak pada kebutuhan publik dan keberlanjutan jangka panjang. Persoalannya sering muncul setelah pita peresmian dipotong, kamera dimatikan, dan tepuk tangan berhenti.

Sebab membangun bukanlah akhir cerita.

Di Indonesia, kita sering terpesona pada fase pembangunan. Kita menyukai narasi “groundbreaking”, peletakan batu pertama, visual crane raksasa, dan rendering proyek masa depan. Pembangunan mudah dijual sebagai simbol kemajuan. Ia fotogenik. Ia politis. Ia menghasilkan citra.

Sebaliknya, pemeliharaan nyaris tidak pernah romantis.

Merawat drainase tidak semenarik meresmikan jalan baru. Memperbaiki cat nan mengelupas tidak memberi sorotan sebesar membangun kebinasaan megah. Maintenance adalah kerja sunyi. Ia repetitif, rutin, dan sering dianggap sekadar biaya, bukan investasi.

Padahal justru di sanalah kualitas peradaban diuji.

Problem Bernama Pemeliharaan

Saat melangkah di sekitar area masjid itu, saya memandang tanda-tanda nan memunculkan kegelisahan. Ada bagian nan tampak kurang terawat. Beberapa perspektif terlihat seperti menunggu perhatian nan tak kunjung datang.

Saya juga memandang area-area nan memberi kesan bahwa area ini dulu dirancang dengan visi lebih besar. Ada ruang nan seolah disiapkan untuk akomodasi tambahan—mungkin area komersial, ruang wisata, alias kegunaan publik lainnya. Tetapi sebagian tampak berakhir sebagai rencana.

Di situ kekaguman saya bergeser menjadi refleksi.

Mengapa kita sering kuat dalam membangun tetapi lemah dalam merawat?

Jawaban paling mudah tentu soal anggaran. Infrastruktur besar memerlukan biaya operasional besar. Semakin kompleks bangunan, semakin mahal biaya perawatan. Struktur di wilayah pesisir apalagi menghadapi tantangan ekstra: korosi, kelembapan tinggi, abrasi, dan paparan garam nan mempercepat kerusakan material.

Tetapi masalahnya sering kali lebih dalam daripada sekadar dana.

Ada persoalan institusional.

Banyak warisan bentuk di negeri ini dibangun dalam rezim kepemimpinan tertentu, tetapi tidak mempunyai model tata kelola nan tahan terhadap pergantian kekuasaan. Ketika pemimpin berganti, prioritas ikut berganti. Program nan dulu dianggap krusial bisa kehilangan patron politiknya.

Warisan bentuk akhirnya menjadi korban siklus lima tahunan.

Kita kerap terjebak dalam logika kepemilikan politik: proyek dianggap milik figur, bukan milik publik. Akibatnya, ketika figur itu tidak lagi berkuasa, antusiasme untuk merawat warisannya ikut menurun.

Padahal ruang publik semestinya tidak tunduk pada ego elektoral.

Bangunan nan sudah berdiri semestinya berakhir menjadi simbol perseorangan dan mulai diperlakukan sebagai aset bersama.

Kota, Memori, dan Tanggung Jawab Kolektif

Sosiolog Maurice Halbwachs menulis bahwa memori kolektif selalu memerlukan medium—dan ruang bentuk adalah salah satunya. Kota menyimpan ingatan melalui bangunan, jalan, taman, dan ruang publik. Ketika ruang-ruang itu rusak alias diabaikan, nan lenyap bukan hanya barang material, tetapi juga lapisan memori nan menyertainya.

Itulah kenapa merawat gedung publik sesungguhnya bukan hanya urusan teknis.

Ia adalah tindakan menjaga ingatan.

Setiap kota mempunyai cerita tentang apa nan mau dia wariskan kepada generasi berikutnya. Ada kota nan dikenal dari pelabuhannya, ada nan dari pasar tradisionalnya, ada nan dari stadion alias rumah ibadahnya. Landmark menjadi simpul identitas.

Tetapi identitas tidak dibangun sekali jadi.

Ia kudu dirawat terus-menerus.

Masalahnya, budaya kita sering tetap berorientasi pada pembuatan simbol, bukan pemeliharaan makna. Kita lebih sigap membangun ikon daripada membangun sistem nan memastikan ikon itu tetap hidup.

Ini bukan hanya masalah pemerintah. Ada persoalan budaya nan lebih luas: kita sering menganggap merawat sebagai pekerjaan sekunder.

Padahal dalam banyak aspek kehidupan, merawat justru adalah corak cinta nan paling dewasa.

Membangun relasi mungkin memerlukan gairah, tetapi mempertahankannya memerlukan komitmen. Menanam pohon mungkin memerlukan niat, tetapi membesarkannya memerlukan ketekunan. Mendirikan gedung memerlukan modal, tetapi menjaganya memerlukan karakter.

Dalam banyak hal, maintenance adalah corak kedewasaan.

Setelah Monumental, Apa?

Saya mengerti bahwa proyek besar dengan biaya publik nyaris selalu kontroversial. Kritik terhadap biaya, prioritas, dan urgensinya adalah perihal nan wajar, apalagi sehat dalam demokrasi. Pertanyaan seperti “apakah ini betul-betul kebutuhan?” alias “adakah pengganti nan lebih mendesak?” adalah pertanyaan nan kudu selalu diajukan.

Namun setelah gedung itu berdiri, ada pertanyaan baru nan tak kalah penting.

Bukan lagi soal apakah dulu layak dibangun alias tidak.

Melainkan: sekarang setelah warisan itu ada, apakah kita cukup dewasa untuk merawatnya?

Pertanyaan ini, menurut saya, jauh lebih mendasar.

Sebab sebuah kota tidak hanya dikenang dari apa nan sukses dia bangun, tetapi juga dari apa nan sanggup dia pelihara. Banyak bangsa besar tidak selalu unggul lantaran membangun nan paling megah, melainkan lantaran bisa menjaga nan pernah dibangun tetap relevan lintas generasi.

Di situlah peradaban bekerja.

Peradaban bukan hanya tentang menciptakan sesuatu nan monumental. Ia juga tentang kesediaan menanggung biaya—ekonomi, politik, dan moral—untuk memastikan warisan itu tetap hidup.

Pagi itu, sebelum kembali mengayuh sepeda, saya memandang masjid di teluk itu sekali lagi.

Air laut tetap bergerak, ombak mini datang dan pergi, tiang-tiang pancang tetap menahan beban gedung dengan diam. Saya tiba-tiba merasa bahwa gedung itu seperti metafora nan sangat tepat bagi kehidupan berbareng kita.

Sebuah kota, seperti masjid itu, tidak berdiri hanya lantaran ada struktur nan tampak di permukaan. Ia berdiri lantaran ada penyangga nan bekerja diam-diam di bawahnya.

Tiang-tiang itu adalah anggaran nan berkelanjutan. Tata kelola nan sehat. Kepemimpinan nan melampaui ego. Warga nan merasa memiliki. Dan kesadaran kolektif bahwa warisan publik bukan milik satu generasi.

Barangkali inilah langkah pandang nan perlu kita bangun.

Bahwa legacy sejati bukanlah meninggalkan gedung nan megah, melainkan mewariskan budaya merawat.

Sebab pada akhirnya, nan membikin sebuah warisan memperkuat bukan semata beton terbaik alias kreasi termegah, melainkan satu perihal nan jauh lebih langka: komitmen untuk terus peduli, apalagi ketika sorotan sudah lama pergi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan