Merajut Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Dengan mengubah pendidikan, kita sedang mengubah langkah pandang manusia. Foto: Dokumentasi pribadi

Hari Pendidikan Nasional nan setiap tahun kita peringati sejatinya tidak hanya mengenang jasa pahlawan Ki Hajar Dewantara. Lebih dari itu, Hari Pendidikan Nasional merupakan momentum untuk kita mengevaluasi pendidikan nan sedang berjalan di negeri kita tercinta Indonesia.

Saat ini, kita sedang dalam persimpangan jalan menuju Indonesia Emas 2045. Dalam persimpangan jalan ini, apakah pendidikan nan selama ini kita laksanakan sudah baik menjadi pendidikan nan unggul dan juga pendidikan nan menghasilkan para pemimpin-pemimpin nan siap bertanding dalam kerasnya bumi nan sedang bergolak ini?

Krisis energi—yang dialami oleh nyaris seluruh negara nan ada di bumi ini—membuat bumi pendidikan kudu lebih maju dan memberikan penemuan agar kondisi seperti krisis daya dapat dilalui dengan baik dan tidak memengaruhi jalannya pendidikan di Indonesia.

Bukan hanya krisis energi, bumi pendidikan Indonesia selalu dihantui dengan adanya kasus perundungan nan tak henti-henti. Perundungan (bullying) merupakan kasus nomor satu nan ada di bumi pendidikan Indonesia.

Sebut saja beberapa siswa nan melakukan perundungan terhadap temannya dengan mengolok-olok siswa lainnya—bahkan ada sebagian siswa nan berani memukul dan menendang temannya. Kasus tersebut tidak hanya kita temui di kota besar, di kota-kota mini pun kasus perundungan dan kekerasan terhadap kawan semakin marak.

Ilustrasi anak korban bullying. Foto: Shutterstock

Selain kasus perundungan siswa dengan murid, kita temui juga beberapa kasus perundungan siswa terhadap gurunya. Beberapa pekan nan lampau kita temui, di sekolah ada beberapa siswa nan berani mengacungkan jari tengahnya kepada gurunya, serta memberikan perlakuan nan tidak senonoh kepada gurunya saat sang pembimbing keluar dari kelas. Bukannya memberikan ucapan dan perilaku nan baik, beberapa siswa malah berani melakukan perihal tersebut.

Tujuan Pendidikan Nasional sejatinya adalah melahirkan generasi nan unggul dan mempunyai kapabilitas, serta generasi nan inovatif dan bermartabat. Ungkapan itu bukan hanya tujuan nan hanya ditulis dalam lembaran-lembaran putih. Lebih dari itu, para pahlawan pendidikan menginginkan agar pendidikan betul-betul terwujud, sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa nan unggul dan inovatif.

Tentu saja, menggapai cita-cita itu kudu penuh perjuangan, mulai dari karakter siswa dan guru. Kurikulum juga kudu menjadi pegangan agar tujuan nan mulia tersebut tercapai. Kasus-kasus perundungan nan selama ini terjadi di beberapa sekolah menjadi tidak ada. Pembelajaran nan berbasis karakter dan peningkatan keahlian dalam penemuan daya terus dikembangkan, sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa nan berdikari dan unggul.

Sekolah tidak hanya mencetak siswa nan pandai dalam akademik. Sekolah selayaknya memberikan ruang terbuka untuk mengasah kompetensi siswa agar kelebihan nan ada dalam diri siswa tersebut terasah dan memberikan pengalaman belajar nan menyenangkan, sehingga memberikan penemuan nan bakal berfaedah bagi bangsa dan negara.

Dengan mengubah pendidikan, berfaedah kita sedang mengubah langkah pandang manusia. Jika kita mulai memperlakukan siswa sebagai subjek nan berdaya—bukan sekadar objek nan menerima perintah—jalan menuju Indonesia Emas 2045 bakal terbentang luas. Mari jadikan Hari Pendidikan Nasional sebagai titik balik. Jangan biarkan api pendidikan padam lantaran ketidakpedulian kita. Bergeraklah, berdampaklah, dan mari kita rawat mimpi anak-anak Indonesia bersama-sama.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan