Merajut Asa Mama-Mama NTT dari Balik Lembaran Tenun

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Merajut Asa Mama-Mama NTT dari Balik Lembaran Tenun Stephanie Octorina Saing, pemilik upaya Tinung Rambu.(MI/Insi Nantika Jelita)

BISNIS bukanlah tujuan awal Stephanie Octorina Saing. Perempuan berumur 35 tahun itu mengawali semuanya dari kecintaannya terhadap kain-kain tradisional Indonesia. Sejak tetap menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB), dia doyan berburu kain wilayah setiap kali melakukan perjalanan berbareng organisasi mahasiswa pecinta alam. 

Kegemaran itu terus bersambung hingga Stephanie berkarier sebagai konsultan di bagian pertambangan. Seiring waktu, kecintaannya terhadap kain tenun tradisional berkembang menjadi kepedulian nan lebih besar terhadap para perajin di kembali setiap lembar kain. Tidak hanya menjadi kolektor tenun, dia juga berupaya membuka jalan pemberdayaan bagi mama-mama penenun di beragam wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Melalui Galeri Tinung Rambu nan dirintisnya, dia membantu memperkenalkan kekayaan tenun Nusantara kepada pasar nan lebih luas, sekaligus menciptakan kesempatan ekonomi bagi para wanita nan menggantungkan hidup dari warisan budaya leluhur tersebut. 

Seiring pertumbuhan usaha, support permodalan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) turut memperkuat pengembangan Tinung Rambu. Akses pembiayaan tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kapabilitas produksi, mengembangkan ragam produk, serta memperluas jangkauan pemasaran sehingga upaya dapat tumbuh lebih berkelanjutan.

Menyemai Asa

Awalnya, koleksi itu hanya disimpan rapi di rumah. Namun seiring waktu, Stephanie mulai mengenal lebih dekat para penenun nan menjual hasil karya mereka untuk memenuhi beragam kebutuhan ekonomi, mulai dari biaya sekolah anak hingga pengobatan keluarga. Dari pertemuan-pertemuan itu tumbuh asa dalam dirinya untuk membantu para penenun memperoleh kehidupan nan lebih sejahtera.

"Mereka akhirnya jual ke saya, lantaran pas bulan Juni-Juli biasanya mereka mau bayar sekolah anaknya," ujarnya saat ditemui di Galeri Tinung Rambu di Tangerang, Banten, pada pekan lalu.

Dari pertemuan-pertemuan itu, Stephanie semakin memahami setiap wilayah di Nusa Tenggara Timur mempunyai kekayaan tenun nan berbeda. Bahkan dalam satu kabupaten, setiap kecamatan hingga desa dapat mempunyai motif, teknik, dan identitas tenun nan khas. Menurutnya, keragaman itu lahir dari tradisi nan diwariskan secara turun-temurun dan telah lama dikenal serta dihargai oleh para kolektor.

"Keistimewaan itu nan membikin tenun NTT tetap diminati dan dihargai oleh para kolektor hingga sekarang," terangnya.

Ketertarikannya pada tenun di NTT berangkat dari pertimbangan nan lebih luas. Ia memandang NTT sebagai wilayah dengan potensi budaya nan sangat kuat, meski tidak bertumpu pada sektor tambang seperti beberapa wilayah lain di Indonesia. Di satu sisi, dia menjelaskan terdapat izin upaya pertambangan (IUP) di sejumlah wilayah NTT, namun pengelolaannya dinilai tidak maksimal lantaran beragam hambatan teknis.

Kondisi ini, ditambah ketertarikannya pada kain tenun dari NTT nan dinilai lebih variatif dan kaya makna. Kesadaran itulah nan mendorong Stephanie melakukan sesuatu nan lebih dari sekadar mengoleksi. Ia mulai berpikir gimana membantu para penenun di NTT memperoleh penghasilan nan lebih layak.

Dorongan tersebut semakin kuat berkah support suaminya. Selama bertahun-tahun Stephanie terus membeli kain dari para penenun, namun tidak menciptakan akibat nan lebih besar.

"Suami saya bilang, sampai kapan beli-beli terus. Ini seperti ngasih ikan saja. Kalau terus begitu, tidak bakal jadi apa-apa selain koleksi," kenangnya.

Usaha Bersama

Dari situlah lahir pendapat membangun upaya berbareng dengan para penenun. Pada 2019, dia mulai menjalin kerja sama dengan keluarga-keluarga penenun sebelum membentuk golongan mini untuk memproduksi karya perdana. Kain nan dihasilkan dimodifikasi dari sisi ukuran, desain, dan warna agar tetap mempertahankan karakter unik Tinung Rambu.

“Mulainya pada 2019. Produk pertama nan kami jual adalah Selendang Pahikung dari Sumba Timur,” ujarnya.

Saat memulai upaya tersebut, Stephanie mencari nama nan tidak menggunakan identitas pribadi. Ia mau nama nan mencerminkan filosofi para kreator tenun itu sendiri. Pilihan akhirnya jatuh pada nama Tinung Rambu. Dalam bahasa Sumba, tinung berfaedah tenun, sementara rambu berfaedah perempuan.

"Saya mau cari istilah nan filosofinya bahwa tenun ini dikerjakan oleh perempuan. Ya sudah, namanya Tinung Rambu, artinya tenun nan dikerjakan oleh perempuan," tuturnya.

Nama itu juga menjadi simbol penghormatan kepada para wanita nan selama turun-temurun menjaga tradisi tenun di NTT.

Menjaga Kualitas

Sejak awal, Stephanie berupaya membangun sistem kerja nan lebih terukur dan menjaga kualitas kain. Bersama para penenun, dia menghitung kebutuhan bahan baku, tingkat kesulitan motif, waktu pengerjaan, hingga nilai bayaran nan layak.

Modal pertama nan dia keluarkan sekitar Rp4 juta. Dengan biaya tersebut, dia memproduksi 20 kain selendang nan kemudian dipasarkan sebagai koleksi perdana Tinung Rambu.

"Itu ada 20 kain saya pasarkan pertama banget di 2019," terangnya.

Tak hanya membeli hasil tenun, Stephanie juga mulai membujuk para penenun berinovasi. Jika sebelumnya warna-warna tenun didominasi merah, biru, hitam, dan warna-warna kuat lainnya, dia mencoba memperkenalkan warna-warna nan lebih lembut seperti pastel, kuning, dan merah muda agar lebih sesuai dengan selera pasar nan lebih luas.

Perubahan itu tidak selalu mudah diterima. Banyak penenun nan terbiasa membikin motif dan warna nan sama selama bertahun-tahun. Namun perlahan mereka mulai memahami pentingnya beradaptasi.

Stephanie juga menerapkan standar kualitas dan kedisiplinan kerja nan jelas. Tenggat waktu, ukuran produk, hingga komitmen terhadap pesanan menjadi bagian dari kesepakatan bersama.

"Jadi, lantaran saling membutuhkan, mereka menghormati dengan standar nan saya terapkan," katanya.

Baginya, integritas menjadi fondasi utama kemitraan. Para penenun nan sudah menerima modal tidak diperbolehkan menjual pesanan nan telah disepakati kepada pihak lain.

"Kalau ketahuan jual di luar, satu kali tegur, dua kali tegur, tiga kali keluar dari kesepakatan kerja sama," tegasnya.

Jaringan Bertumbuh

Seiring berjalannya waktu, jaringan Tinung Rambu terus berkembang. Dari Sumba Timur, kemitraan meluas ke Kabupaten Belu, Atambua, Mandeu, Oeekam, hingga Nonkolo. Kini, sekitar 35 family penenun dari tujuh kampung menjadi bagian dari ekosistem upaya nan dibangunnya.

"Sampai saat ini kami mempekerjakan 35 keluarga," ujarnya.

Dampaknya mulai terasa. Stephanie menjelaskan, sebelum bergabung, sebagian besar penenun hanya mengandalkan hasil bertani, seperti menanam jagung, dengan pendapatan nan tidak menentu lantaran berjuntai pada kondisi dan kepemilikan lahan masing-masing keluarga. Rata-rata penghasilan mereka saat itu hanya sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per hari, jumlah nan tetap jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Melalui kerja sama nan dibangun berbareng Tinung Rambu, kondisi tersebut perlahan berubah. Para penenun sekarang dapat memperoleh tambahan pendapatan antara Rp1,6 juta hingga Rp5 juta per bulan, berjuntai pada jenis produk nan dikerjakan dan jumlah pesanan nan diterima. 

Meski demikian, Stephanie menegaskan tujuan nan mau dicapai bukan sekadar meningkatkan penjualan, melainkan menciptakan ekosistem upaya nan berkepanjangan bagi para penenun.

"Visi kita tetap gimana membikin ini berkepanjangan dan mendukung para penenun di NTT," tegas Stephanie.

Menurutnya, masyarakat setempat tidak perlu terus-menerus diposisikan sebagai pihak nan kudu dibantu. nan lebih krusial adalah membuka kesempatan agar mereka bisa meningkatkan kesejahteraan melalui keahlian nan dimiliki.

"Dari pada terus meminta bantuan, sebenarnya mereka bisa menolong diri mereka sendiri. Mereka punya skill, punya kemampuan. Tinggal gimana meningkatkan kualitas hidup mereka," ujarnya.

Perjalanan Tinung Rambu semakin berkembang setelah Stephanie aktif mengikuti beragam program pemberdayaan UMKM. Ia giat mengikuti kompetisi, pelatihan, pameran, hingga program nan diselenggarakan pemerintah maupun BUMN.

Dukungan BRI

Puncak perjalanan pengembangan upaya Tinung Rambu terjadi pada 2023 ketika upaya tersebut sukses lolos seleksi program pemberdayaan dan pengembangan UMKM BRILiaNpreneur nan diselenggarakan BRI. Keberhasilan tersebut membuka kesempatan bagi Tinung Rambu untuk memperluas pasar melalui partisipasi dalam beragam pameran berskala nasional.

Stephanie mengaku tidak pernah menjadikan kejuaraan sebagai tujuan utama saat mengikuti program tersebut. Baginya, terpilih dan mendapat perhatian melalui BRILiaNpreneur sudah menjadi pencapaian nan membanggakan. 

Menurut Stephanie, akses pasar dan kesempatan memperkenalkan produk kepada lebih banyak calon pembeli mempunyai nilai nan jauh lebih krusial dibandingkan sekadar meraih penghargaan. 

"Ternyata kita lolos seleksi BRILiaNpreneur 2023. Saya tidak pernah ngoyo harus menang. Buat saya, di-notice saja sudah happy. Bagi kami, jika bisa dapat akses pameran adalah perihal nan jauh lebih baik," ujarnya.

Suportif Berikan Akses Modal

Dukungan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) semakin memperkuat langkah Tinung Rambu dalam mengembangkan usahanya. Tidak hanya membantu membuka akses pasar nan lebih luas, BRI juga mendukung operasional upaya melalui akomodasi transaksi digital dan pembiayaan upaya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

"BRI sangat suportif memberikan akses, termasuk permodalan ke kita," katanya.

Pada 2024, Stephanie mengusulkan KUR BRI sebesar Rp500 juta dengan tenor empat tahun dan kembang 6%. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan produk di kampung-kampung penenun, sekaligus membangun galeri Tinung Rambu di Tangerang.

"Selain mengembangkan usaha, duit tersebut dipakai untuk membangun galeri di sini," ujarnya.

Menurut Stephanie, kembang KUR nan relatif rendah sangat membantu UMKM seperti dirinya untuk bertumbuh tanpa terbebani biaya pinjaman nan besar.

"Dengan kembang nan rendah, pinjaman KUR tidak terlalu memberatkan bagi saya. Justru, akomodasi ini membantu upaya kami untuk terus tumbuh dan berkembang," tegasnya. 

Wastra Premium

Saat ini, sebagian besar produk Tinung Rambu dipasarkan sebagai wastra premium dengan nilai nan dapat mencapai jutaan rupiah per lembar. Setiap kain dibuat secara manual oleh para perajin, sehingga mempunyai karakter, detail, dan nilai estetika nan unik pada tiap produknya. Karena sifatnya nan tidak seragam, Stephanie memilih untuk mempertahankan konsep satu produk untuk satu karya.

Beberapa koleksi apalagi mempunyai rentang nilai nan cukup tinggi, seperti tenun Mandeu nan dibanderol sekitar Rp3 juta hingga Rp5,5 juta per lembar. Sementara itu, kain dari Sumba Timur berada pada kisaran Rp1,6 juta hingga Rp2,5 juta, tergantung pada tingkat kerumitan motif dan proses pembuatannya.

Dengan model tersebut, Tinung Rambu sukses mencatatkan omzet tahunan sekitar Rp1,1 miliar hingga Rp1,5 miliar. 

Karya para ibu penenun NTT bimbingan Tinung Rambu telah menjangkau beragam negara. Pembeli dari Kanada, Jepang, Australia, hingga Italia secara rutin datang untuk membeli koleksi tenun tersebut dan menjualnya kembali melalui galeri maupun upaya mereka di luar negeri.

Dalam satu kali pembelian, nilai transaksi apalagi bisa mencapai Rp30 juta hingga Rp50 juta.

Bagi Stephanie, capaian itu bukan sekadar soal penjualan. Setiap kain nan terjual menjadi bukti bahwa tradisi tenun NTT tetap hidup sekaligus membantu para wanita penenun membangun kehidupan nan lebih baik.

Menjaga Warisan

Karya-karya Tinung Rambu sukses memikat perhatian para kolektor wastra dari beragam kalangan. Salah satunya James, pekerja swasta nan pertama kali mengenal Tinung Rambu saat mengunjungi pameran Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2024. 

Dalam kesempatan tersebut, dia berjumpa langsung dengan Stephanie dan mulai memahami visi pelestarian wastra Nusa Tenggara Timur (NTT) nan diusung melalui setiap karya tenun nan dihasilkan.

Mengaku sebagai pencinta wastra, James mengaku mempunyai perhatian unik terhadap kain-kain tradisional nan sekarang semakin susah ditemukan. Menurutnya, banyak motif dan teknik tenun nan dulu berkembang di beragam wilayah sekarang mulai langka lantaran minimnya regenerasi dan perubahan kebutuhan pasar.

Karena itu, dia memilih mengoleksi beberapa karya Tinung Rambu nan mengangkat kekayaan tenun tradisional tersebut. Kain-kain nan dibelinya tidak hanya disimpan sebagai koleksi pribadi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang.

"Saya mengangkat beberapa produk Tinung Rambu nan sayangnya sudah susah dikembangkan seperti pada masa lalu. Kain-kain ini saya simpan sebagai corak pelestarian dan pengetahuan bagi anak bangsa di masa depan agar mereka tetap mengenal kekayaan wastra NTT,” katanya.

James mengatakan terkesan ketika menyaksikan presentasi Stephanie dalam seminar wastra nan diselenggarakan di Museum Tekstil, Jakarta Barat. Menurutnya, Stephanie mempunyai profil nan unik sebagai sarjana teknik dengan kecintaan besar terhadap budaya Nusantara, sekaligus bisa menghadirkan akibat sosial nan nyata bagi masyarakat, khususnya para penenun di Nusa Tenggara Timur. 

Kesan tersebut kemudian memperkuat apresiasinya terhadap karya Tinung Rambu, hingga akhirnya dia memutuskan untuk membeli sejumlah kain jenis kolektor dengan nilai mulai dari Rp3 juta hingga Rp8 juta per lembar.

"Saya terkesan ketika memandang presentasi Stephanie di seminar wastra Museum Tekstil. Profilnya unik, seorang sarjana teknik nan mempunyai kecintaan begitu besar terhadap budaya Nusantara, sekaligus bisa menghadirkan akibat sosial nan nyata bagi masyarakat, khususnya para penenun di NTT,” ungkapnya.

Menurutnya, upaya nan dilakukan Stephanie berbareng para penenun telah menunjukkan wastra tradisional tidak hanya bisa menjaga identitas budaya lokal, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat kecil. 

“Semoga Tinung Rambu terus memberikan kontribusi bagi pelestarian budaya lokal, mengangkat perekonomian rakyat kecil, dan menjaga agar wastra Nusantara tetap langgeng sepanjang masa,” tuturnya.

Perempuan Penggerak Ekonomi

Pada kesempatan terpisah, Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menegaskan, pemberdayaan wanita tidak dapat dipandang semata sebagai rumor sosial. Menurutnya, wanita mempunyai kontribusi besar dalam menggerakkan sektor usaha, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga ketahanan ekonomi family dan masyarakat.

Karena itu, support terhadap wanita pelaku upaya diyakini bakal memberikan akibat berantai nan luas, mulai dari peningkatan kesejahteraan family hingga pertumbuhan ekonomi wilayah dan nasional.

“BRI meyakini wanita mempunyai peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di sektor UMKM. Oleh lantaran itu, BRI terus berkomitmen menghadirkan akses nan setara bagi wanita untuk berkembang, berinovasi, dan naik kelas,” ujar Ety dalam keterangan resmi.

Melalui ekosistem pemberdayaan nan terintegrasi, BRI berambisi semakin banyak pelaku UMKM wanita nan bisa mengembangkan usahanya secara berkelanjutan, meningkatkan daya saing produk, serta membuka kesempatan untuk menjangkau pasar nan lebih luas. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia