Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini, merespons perbincangan mengenai ancaman efisiensi aparatur sipil negara (ASN) digantikan teknologi artificial intelligence (AI). Rini menyebut AI hanya berfaedah sebagai perangkat dan tak bisa menggantikan peran ASN.
"Kami memposisikan artificial intelligence sebagai perangkat bantu untuk memperkuat kualitas kajian dan pelayanan publik, bukan sebagai pengganti seluruh peran ASN," kata Rini saat dihubungi, Rabu (26/8/2026).
Rini mengatakan, kehadiran AI bisa mempercepat pekerjaan, membentuk pengolahan info hingga menyajikan info lebih utuh sebagai dasar pengambilan keputusan. Namun demikian, ada peran ASN nan tidak bisa digantikan AI, mulai dari pertimbangan kebijakan, penilaian atas konteks sosial di lapangan, tanggung jawab administratif, serta empati dalam melayani masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal-hal tersebut tidak dapat didelegasikan kepada mesin. Karena itu, efisiensi nan kami maksud adalah efisiensi proses kerja. Pekerjaan konvensional dan rutin dapat dipercepat, sehingga ASN mempunyai ruang lebih besar untuk pekerjaan nan berbobot tambah bagi masyarakat," jelasnya.
Dalam sasaran rencana pembangunan nasional, kata Rini, sudah dibahas mengenai peningkatan kapabilitas ASN dalam memanfaatkan AI. ASN diharapkan bisa memanfaatkan teknologi digital demi meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.
"Pemanfaatan AI kudu disertai transformasi digital pemerintah. Dengan tata kelola info lintas sektor nan berbagi pakai, kualitas pemanfaatan AI bakal meningkat. Dampaknya, ASN dapat bekerja lebih efisien, lebih optimal, dan lebih tepat lantaran berbasis data,"jelasnya.
Rini menyebut, pemanfaatan AI membantu dalam proses perumusan kebijakan serta menghasilkan kebijakan nan lebih berkualitas. AI bisa membantu pengolahan info dalam jumlah besar dari beragam sumber dengan sigap dan akurat.
"Dengan begitu, perumusan kebijakan betul-betul berbasis info nan aktual dan komprehensif, bukan sekadar berbasis asumsi. Keputusan akhirnya tetap berada di tangan pengambil kebijakan, tetapi dasar pertimbangannya menjadi jauh lebih kuat," kata dia.
Lebih lanjut, Rini menekankan kompetensi ASN menjadi perihal krusial meski hadirnya AI. Dia menegaskan ASN ocehan dan bisa memanfaatkan AI bisa meningkatkan pelayanan publik nan maksimal.
"Pemanfaatan AI kudu didahului peningkatan kompetensi ASN dan melangkah berbareng transformasi digital pemerintah, agar penerapannya tepat dalam penyelenggaraan pemerintahan, dengan tetap memperhatikan aspek etika dan kedaulatan data," kata dia.
"Pada akhirnya, kualitas pelayanan publik ditentukan oleh kombinasi antara teknologi nan andal dan ASN nan kompeten. AI memperkuat, ASN nan memutuskan dan melayani," jelasnya.
Rapat Komisi II DPR dengan LAN
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi II DPR Dede Yusuf menyoroti pemanfaatan perkembangan teknologi, termasuk AI dalam keahlian ASN. Dede menyinggung potensi efisiensi jumlah dan keahlian ASN pengaruh dari pemanfaatan AI.
Hal itu disampaikan Dede dalam rapat kerja berbareng LAN di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (24/8/2026). Dede menyebut penggunaan AI dapat mengefisienkan pekerjaan nan sebelumnya memerlukan beberapa orang.
"Kalau dulu kita memerlukan ada dua tiga orang untuk membikin sebuah presentasi, sekarang tidak perlu, ya," kata Dede.
Menurutnya, perkembangan digitalisasi juga perlu diikuti dengan pertimbangan terhadap kebutuhan jumlah ASN di daerah. Ia mencontohkan kondisi instansi kecamatan nan saat ini dapat mempunyai puluhan pegawai.
"Padahal sebagaimana kita ketahui dengan adanya digitalisasi dan lain-lain, mungkin itu mestinya tidak perlu sampai puluhan orang. Mungkin cukup 15 sampai 20 orang," ujarnya.
Dede mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam menghadapi perubahan tersebut, termasuk kemungkinan berkurangnya kebutuhan ASN akibat penerapan teknologi.
"Nah ini konteksnya jika kita perhatikan juga, bahwa apakah ASN-ASN kita ke depan bakal menjadi mass product alias bakal terjadi pengurangan?" kata Dede.
(wnv/gbr)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·