Apresiasi juga diberikan kepada Politeknik Pelayaran Sumatera Barat nan telah menunjukkan komitmen kuat dalam membangun konsep Humanist, Smart, Sustainable, Eco-Friendly Campus (HSSEC).
Kampus maritim ini sukses menghadirkan penemuan sirkular ekonomi, seperti akomodasi pengelolaan minyak jelantah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga budidaya maggot.
Langkah KLH/BPLH dan penemuan kampus ini mendapatkan support penuh dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah berambisi sinergi ini dapat menjadi role model bagi wilayah lain.
"Kami telah menetapkan kebijakan agar kantor-kantor pemerintah provinsi dan sekolah-sekolah tidak lagi membuang sampah ke luar lingkungan masing-masing," kata dia.
"Apa nan diterapkan di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat membuktikan bahwa sampah dapat dikelola menjadi berkah melalui budidaya maggot, pengolahan kompos, dan beragam penemuan lainnya. Mudah-mudahan langkah ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Sumatera Barat," sambung Mahyeldi.
Jumhur kembali melanjutkan, KLH/BPLH optimistis melalui pendekatan berbasis Gerakan Tobat Ekologis dapat mengubah paradigma masyarakat bahwa menjaga kelestarian lingkungan bukanlah sekadar kewajiban, melainkan corak tanggung jawab moral dan refleksi pelunasan kesalahan umat manusia terhadap alam.
"Esensi pertobatan ini menuntut kesadaran kolektif untuk menyesali kerusakan nan telah diperbuat, menghentikan kebiasaan eksploitatif, dan berbalik merawat bumi sepenuh hati," ucap dia.
"Target penanaman dua miliar pohon merupakan bentuk nyata dari tindakan pertobatan tersebut, sebuah ikhtiar pemulihan nan diharapkan bisa memperbaiki ekosistem nan rusak, memperkuat ketahanan suasana nasional, dan mewariskan bumi nan kembali seimbang dan lestari bagi generasi mendatang," tutup Jumhur.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·