Menteri LH: Gerakan Tanam Dua Miliar Pohon jadi Upaya Pulihkan Lingkungan

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat menegaskan, krisis lingkungan menuntut perubahan langkah pandang dan perilaku manusia.

Caranya melalui tobat ekologis sebagai fondasi pemulihan lingkungan, nan menjadi dasar aktivitas penanaman dua miliar pohon di Indonesia dengan penguatan bambu sebagai solusi berbasis alam (nature-based solutions).

Dalam arahannya, Jumhur menegaskan, beragam tantangan lingkungan seperti perubahan iklim, degradasi lahan, pencemaran, hingga hilangnya keanekaragaman hayati tidak dapat lagi dihadapi hanya dengan pendekatan teknis, melainkan memerlukan perubahan kesadaran kolektif nan lebih mendasar dalam hubungan manusia dengan alam.

"Tobat ekologis adalah perubahan langkah pandang dan perilaku kita terhadap alam. Kita tidak cukup hanya memahami masalah lingkungan, tetapi kudu menjadi bagian dari solusi melalui tindakan nyata," ujar Jumhur dalam aktivitas 'Sarasehan Gerakan Menanam Bambu-Selamatkan Bumi' di Bogor, Jawa Barat, sebagai bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, melansir Antara, Rabu (17/6/2026).

Dia menjelaskan, program penanaman 2 miliar pohon merupakan agenda besar nasional dalam pemulihan ekosistem, rehabilitasi lahan kritis, dan penguatan ketahanan lingkungan.

Bambu jadi Salah Satu Vegetasi Penting

Dalam konteks tersebut, lanjut Jumhur, bambu menjadi salah satu vegetasi krusial lantaran mempunyai kegunaan ekologis sebagai penjaga tata air, pengendali erosi, penyerap karbon, serta memberikan faedah sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

"Penanaman 2 miliar pohon ini adalah bagian dari aktivitas tobat ekologis. Salah satu implementasinya adalah pengembangan bambu sebagai solusi berbasis alam nan bisa menjaga tata air, mengurangi erosi, dan menyerap karbon," papar dia.

Menurut Jumhur, KLH/BPLH saat ini terus memperkuat upaya rehabilitasi lingkungan melalui peningkatan tutupan lahan, pemulihan wilayah aliran sungai (DAS), serta penguatan ekonomi hijau berbasis masyarakat.

"Gerakan Menanam Bambu Nusantara diharapkan menjadi salah satu penggerak utama dalam mendukung agenda tersebut secara berkelanjutan," jelas Jumhur.

Bambu Bernilai Ekologis dan Budaya

Sementara itu, Ketua Yayasan Pengrajin Bambu Indonesia Abah Jatnika mengatakan, bambu bukan hanya tanaman konservasi, tetapi juga bagian dari identitas budaya bangsa nan telah melahirkan beragam karya berbobot tinggi.

"Mulai dari arsitektur hingga seni musik angklung. Gerakan menanam bambu krusial untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pelestarian lingkungan secara berkelanjutan," kata dia.

Menutup kegiatan, Menteri Jumhur menegaskan, keberhasilan aktivitas lingkungan tidak hanya diukur dari jumlah pohon nan ditanam, tetapi dari tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam merawat lingkungan secara berkelanjutan.

"Yang terpenting bukan hanya menanam, tetapi memastikan aktivitas ini hidup di tengah masyarakat. Bambu kudu menjadi simbol kerjasama dan angan bahwa setiap orang bisa berkontribusi menjaga bumi," ucap dia.

"KLH/BPLH membujuk seluruh komponen pemerintah, komunitas, bumi usaha, akademisi, dan masyarakat untuk bersama-sama memperkuat aktivitas penanaman 2 miliar pohon sebagai bagian dari tobat ekologis, demi menjaga keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi mendatang," jelas Jumhur.

Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑