Menteri Jumhur Harap Negara Besar Tanggung Jawab Pulihkan Lingkungan

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Mohammad Jumhur Hidayat prihatin ada negara maju dengan kekuatan ekonomi besar memilih mundur dari tanggung jawab kolektif mengatasi polusi dan perubahan suasana sementara di saat nan sama berat ekonomi mereka terus menyumbang sebagian besar emisi global.

Hal itu disampaikan Jumhur dalam pertemuan Menteri Lingkungan negara-negara personil BRICS di New Delhi, India, Selasa (18/8). Jumhur juga menggarisbawahi pentingnya melindungi keanekaragaman hayati, baik darat maupun laut, sebagai fondasi bagi ekosistem nan sehat, ketahanan iklim, dan pertumbuhan berkepanjangan jangka panjang.

Hal itu lantaran Indonesia merupakan rumah bagi salah satu keanekaragaman hayati terkaya di dunia, dengan lebih dari 300 ribu jenis nan diketahui, termasuk 9,7% tumbuhan berbunga di dunia, 14% mamalia, 18,6% burung, dan ekosistem laut Indonesia, nan terletak di jantung Segitiga Karang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain Indonesia juga menjadi rumah bagi 23% rimba mangrove, 16% jenis ikan laut global, 10% jenis karang dunia, dan beberapa konsentrasi reptil dan mamalia laut tertinggi. Keanekaragaman hayati nan luar biasa tersebut mendukung jasa ekosistem nan krusial untuk mitigasi iklim, adaptasi, dan ketahanan jutaan mata pencaharian.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, nan membentang di lebih dari 17 ribu pulau, dengan lebih dari 60 persen penduduknya tinggal di wilayah pesisir, Indonesia berada di garis depan perubahan iklim.

Kenaikan permukaan laut, peristiwa cuaca ekstrem, dan musibah mengenai suasana telah mempengaruhi masyarakat di seluruh kepulauan Indonesia. Ancaman tersebut dapat merusak kemajuan pembangunan, mengganggu mata pencaharian, dan mendorong masyarakat rentan kembali ke kemiskinan.

"Oleh lantaran itu, bagi Indonesia, penyesuaian suasana bukanlah agenda pinggiran. Ini adalah pilar utama pembangunan berkepanjangan dan pengaman bagi kemakmuran nasional kita. Kita telah memberlakukan Rencana Adaptasi Nasional 2026-2030 sebagai peta jalan menuju Indonesia nan handal terhadap suasana dan sebagai support terhadap Visi Indonesia Emas 2045," ujar Jumhur.

Lebih lanjut Jumhur juga mengatakan solusi berkepanjangan tidak hanya kudu berasal dari pengetahuan pengetahuan nan canggih, tetapi juga dari kekayaan pengetahuan tradisional. Masyarakat adalah pihak pertama nan merasakan akibat perubahan suasana dan mempunyai wawasan nan tak ternilai tentang pola cuaca lokal serta pengelolaan sumber daya alam.

Pernyataan Menteri Jumhur selaras dengan BRICS, di mana dalam landskap global, BRICS memperluas tata kelola lingkungan hidup bumi nan lebih representatif dan efektif serta memberikan kesempatan pada kearifan lokal untuk ikut memitigasi dan mengatasi beragam tantangan lingkungan nan semakin kompleks.

Dalam kesempatan itu Jumhur memperkenalkan tiga model tradisional nan sukses dari Indonesia, ialah sistem irigasi Subak di Bali nan mengintegrasikan pengelolaan air, kerja sama masyarakat, dan praktik spiritual. Juga Sasi Lompa di Maluku, sistem tradisional untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta Awig-Awig, sistem norma budaya nan digerakkan oleh masyarakat di Bali.

"Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa hidup selaras dengan alam bukan hanya warisan budaya, tetapi juga perangkat nan efektif untuk penyesuaian dan ketahanan iklim, khususnya dengan memperkuat pendekatan berbasis masyarakat untuk mengelola air, ekosistem, dan sumber daya alam dalam menghadapi akibat iklim," ucap Jumhur.

Menurut Jumhur, langkah kita mengelola sumber daya alam, membentuk lanskap, mencegah degradasi lingkungan, dan membangun ketahanan, pada akhirnya bakal membentuk keberlanjutan pembangunan.

(tim/har)

placeholder

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional