Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menegaskan pentingnya peran organisasi dalam memperkuat ekosistem ekonomi imajinatif di daerah. Hal tersebut disampaikan Riefky saat menghadiri Festival Mbois 11 bertema “Malang Menyala” di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (22/8).
“Festival seperti Mbois menjadi ruang bertemunya ide, talenta, pasar, dan investasi, agar karya tidak berakhir setelah festival, tetapi terus dikembangkan, dilindungi KI (Kekayaan Intelektual)-nya, dan dikomersialisasikan,” ujar dia.
Menurut Riefky, predikat Malang sebagai Kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative City) bagian Media Arts bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk terus mengembangkan talenta dan ekosistem kreatif.
“Malang perlu terus menjaga regenerasi talenta dan memastikan Malang Creative Center (MCC) menjadi living ecosystem nan melahirkan kreativitas, kewirausahaan, lapangan kerja, serta akibat ekonomi bagi masyarakat,” ucapnya.
Sebagai creative impact platform, Festival Mbois 11 turut memperkuat jejaring antarkota imajinatif sekaligus menjadi bagian dari Road to World Conference on Creative Economy (WCCE).
Berlandaskan Perpres Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rindekraf 2026–2045, pemerintah pusat dan wilayah bekerja-sama mengembangkan potensi ekonomi imajinatif melalui beragam program, mulai dari penguatan riset, pendidikan, pembiayaan, infrastruktur, pemasaran, insentif, hingga fasilitasi dan konservasi kekayaan intelektual.
Dalam kunjungannya, Riefky meninjau sejumlah agenda Festival Mbois 11, di antaranya Pameran Muraloka Informasi 100 Tahun Gajayana, potensi lima kekayaan intelektual lokal, Media Art Exhibition karya akademisi DKV dan Seni Rupa, serta area sportainment dan bus digitalisasi ekonomi kreatif.
“Kota Malang mempunyai talenta dan ekosistem imajinatif nan luar biasa. Dukungan dari akademisi, pemerintah daerah, komunitas, dan media juga luar biasa. Ketika semua dipadukan dengan inovasi, kreativitas, dan teknologi, potensi tersebut bakal memberi nilai tambah, berakibat pada ekonomi masyarakat, serta membuka lapangan pekerjaan,” paparnya.
Ketua Pelaksana Festival Mbois 11, Gedeon Soerja, mengatakan kehadiran Menteri Ekraf menjadi corak support terhadap pengembangan ekosistem imajinatif di Kota Malang.
“Salah satu kebanggaan buat kami, event kami didatangi oleh Pak Menteri Ekraf. Terkait pameran, kami juga menonjolkan 21 subsektor Ekraf dan harapannya Festival Mbois 11 ini menjadi wadah integrasi antarkomunitas dan pemangku kepentingan untuk memperkuat posisi Malang sebagai Living Media City,” kata Gedeon.
Festival Mbois 11 nan diinisiasi Malang Creative Fusion (MCF) berjalan pada 21–23 Agustus 2026. Gelaran ini menargetkan lebih dari 20.000 pengunjung, 500 pelaku kreatif, 300 business matching, serta potensi nilai transaksi ekonomi mencapai Rp 50 hingga Rp 150 miliar.
Festival nan berjalan selama tiga hari tersebut menghadirkan lima klaster utama, ialah Sound of Malang Menyala, Made by Arema, Malang Sportainment, Malang Creative Connect, dan Malang Media Art Experience.
22 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·