Mentan Beberkan Biang Kerok Beras Premium Langka

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan paparan saat panen raya kedelai ketahanan pangan di Desa Ngudikan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (14/5/2026). Foto: Prasetia Fauzani/ANTARA FOTO

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengakui banyak produsen beras nan memilih memproduksi beras fortifikasi dibandingkan beras premium.

Beras fortifikasi adalah beras nan ditambahkan vitamin dan mineral melalui penambahan kernel fortifikan, tujuannya untuk meningkatkan kandungan gizinya.

Menurut Amran, kebijakan pemerintah nan menetapkan pemisah nilai beras premium membikin produsen nan mau mencari untung beras kehilangan celah untuk bertindak curang. Akhirnya produsen-produsen tersebut beranjak mencurangi beras fortifikasi.

Pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium sebesar Rp 14.900 per kg untuk dijual di tingkat konsumen. Dengan demikian, produsen tidak bisa menjual beras premium dengan nilai di atas HET.

“Iya (beras premium langka lantaran produsen beranjak ke fortifikasi), itu katanya dia geser ke sana lantaran kalau, dugaan kami jika dia premium kan tidak bisa main-main, kita kunci, beranjak lagi (ke beras fortifikasi),” kata Amran di Kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (31/7).

Dia menyebut produsen lebih memilih memproduksi beras fortifikasi lantaran dianggap bisa mendapatkan untung nan lebih banyak dibandingkan dengan menjual beras premium.

Dua pekerja mengecek produk beras premium di Gudang RPC Food Station Tjipinang Jaya, Jakarta, Rabu (21/2/2024). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Terlebih saat ini ada temuan produsen beras alias mafia sektor beras nan mencurangi tata niaga beras fortifikasi dengan nilai nan tinggi hingga Rp 42 ribu dan beberapa di antaranya tidak memenuhi standar nan ada.

“(Penyebab beralih) ya margin tipis, lantaran selalu mau cari untung banyak. Bayangkan jika jual Rp 42 ribu, gila enggak untungnya,” ujar Amran.

Berdasarkan hasil pengawasan Kementerian Pertanian (Kementan) terhadap 15 merek beras fortifikasi pada Juni 2026, sebanyak 12 merek dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS), sementara hanya tiga merek nan memenuhi syarat (MS). Harga beras fortifikasi nan diawasi bervariasi, berkisar antara Rp 17.580 hingga Rp 42.500 per kilogram (kg).

Terdapat dua standar nan menjadi referensi dalam produksi beras fortifikasi, ialah SNI 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan dan SNI 9372:2025 untuk beras fortifikasi. Ketentuannya, setiap 100 gram beras fortifikasi wajib mengandung vitamin B1 minimal 0,25 mg, masam folat 0,25–0,38 mg, vitamin B12 sebesar 1,0–1,5 mikrogram, unsur besi 3,50–5,25 mg, serta seng 3,0–4,5 mg. Selain itu, rasio pencampuran kernel fortifikan dengan beras sosoh ditetapkan minimal 1 persen.

⁠Mafia Curangi Beras Fortifikasi, Rugikan Rakyat Rp 71 T dan Negara Rp 56 T

Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman dan Dirut Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani berbincang dengan para pengamatan ekonomi, akademisi dan ketua media usai mengecek stok beras di Gudang Bulog, Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Amran menjelaskan tindakan mencurangi beras fortifikasi telah merugikan rakyat hingga Rp 71,9 triliun dan negara melalui anggaran subsidi Rp 56 triliun.

Perhitungan kerugian Rp 79,1 triliun tersebut didasarkan pada dugaan nilai rata-rata beras fortifikasi sebesar Rp 22.665 per kilogram (kg), alias lebih tinggi Rp 7.765 per kg dibandingkan HET beras premium nan ditetapkan sebesar Rp 14.900 per kg.

Selisih nilai tersebut kemudian dikalikan dengan perkiraan konsumsi beras fortifikasi nasional nan mencapai 9,2 juta ton per tahun. Dari kalkulasi itu, Kementan memperkirakan potensi kerugian masyarakat mencapai Rp 71,9 triliun setiap tahun.

“Itu potensi kerugian nan beras fortifikasi kan Rp 71 triliun. Nah, itu subsidi pemerintah kita hitung kemarin unik untuk beras, unik fortifikasi itu kurang lebih itu Rp 56 triliun Rp 60an triliun,” imbuhnya.

instagram embed

Amran menjelaskan nomor subsidi Rp 56 triliun tersebut bagian dari subsidi pangan pada 2025 sebanyak Rp 144 triliun. Menurut dia dalam beras hasil produksi di dalam negeri, ada sederet subsidi nan dinikmati, mulai dari subsidi pupuk, irigasi, listrik, BBM, benih, hingga alsintan.

“Kalau total ini beras 34 juta ton (produksi dalam negeri) di dalamnya ini subsidi negara Rp 144 triliun, dari sini ini perkiraan sekian persen fortifikasi, sekian premium. Berarti ini peralatan subsidi lantaran berasnya disubsidi semua,” jelasnya.

Dari sisi ketersediaan, Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan total sebaran stok beras nasional hingga akhir Juli 2026 mencapai 26,87 juta ton. Angka tersebut terdiri dari stok Bulog sebesar 5,25 juta ton, stok nan berada di masyarakat sebanyak 11,04 juta ton, serta standing crop alias potensi panen sebesar 10,58 juta ton.

Dengan perkiraan konsumsi beras nasional sebesar 2,59 juta ton per bulan, stok tersebut diproyeksikan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 10,38 bulan alias setara 311 hari. Sementara itu, produksi beras nasional sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat mencapai 22,03 juta ton.

“Artinya El Nino Godzilla nan sekarang lagi rame, Insya Allah kita bisa lolos dan tidak mempengaruhi kondisi perberasan Indonesia. Stok kita aman,” jelas Amran.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan