Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengecam keras tindakan militer Israel nan mencegat dan menahan rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) di perairan Mediterania Timur menuju Gaza.
Dalam rombongan tersebut terdapat sejumlah wartawan Indonesia, ialah Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody) dari Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo, dan Rahendro Herubowo dari iNews yang tengah menjalankan tugas jurnalistik meliput misi kemanusiaan internasional.
“Kami mengikuti dengan penuh keprihatinan berita mengenai wartawan Indonesia nan tengah menjalankan tugas peliputan dalam misi kemanusiaan menuju Gaza. Di tengah situasi konflik, keselamatan insan pers kudu selalu menjadi perhatian kita semua,” ungkap Menkomdigi di Jakarta, Senin (18/05).
Meutya nan juga pernah disandera golongan bersenjata di Irak saat bekerja sebagai wartawan pada tahun 2005 menegaskan, wartawan datang untuk membawa bunyi kemanusiaan dan menyampaikan kebenaran kepada publik dunia. Karena itu, kerja jurnalistik perlu dihormati dan diberikan ruang aman, terlebih dalam situasi krisis kemanusiaan.
Berdasarkan info Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu), sedikitnya 10 kapal misi kemanusiaan telah ditahan, termasuk kapal Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys. Hingga kini, kapal nan membawa wartawan tetap belum dapat dihubungi dan status awak di dalamnya belum diketahui secara pasti.
Meutya menyatakan pihaknya mendukung langkah diplomatik Kemlu untuk memastikan perlindungan dan keselamatan seluruh WNI dalam rombongan tersebut.
“Kemkomdigi bakal terus berkoordinasi dengan Kemlu dan pihak mengenai lainnya untuk memantau perkembangan dan mendukung langkah perlindungan bagi penduduk negara Indonesia dalam misi tersebut,” imbuh Meutya.
Kemlu sebelumnya menyatakan telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman guna menyiapkan langkah pelindungan serta percepatan pemulangan WNI andaikan diperlukan.
“Doa dan angan kami menyertai seluruh wartawan dan relawan kemanusiaan agar senantiasa diberikan keselamatan,” pungkas Menkomdigi.
Diketahui, saat tetap menjadi wartawan Metro TV, Meutya berbareng ahli kameranya, Budiyanto, disandera oleh golongan bersenjata di Irak pada 18 Februari 2005 saat bekerja meliput pemilihan umum. Mereka disekap selama 168 jam alias tujuh hari sebelum akhirnya dibebaskan dalam keadaan selamat.
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·