Menkes Sebut Penyakit Hati Tanpa Gejala, Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini dan Skrining

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Menkes Sebut Penyakit Hati Tanpa Gejala, Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini dan Skrining Ilustrasi.(Magnific)

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memperingatkan bahwa penyakit hati kronis sering kali berkembang secara perlahan tanpa menunjukkan indikasi nan jelas pada tahap awal. Akibatnya, banyak pasien baru menyadari kondisi mereka setelah mencapai stadium lanjut, seperti sirosis alias kanker hati.

"Penyakit hati kronis mempunyai prevalensi nan tinggi. Karena itu kita kudu memperkuat strategi promotif dan preventif. Kerja di area pencegahan jauh lebih murah dan memberikan kualitas hidup nan lebih baik dibandingkan pengobatan pada tahap lanjut," ujar Menkes Budi dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

Urgensi Deteksi Dini dan Target Global

Saat ini, cakupan skrining hepatitis di Indonesia diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen. Angka ini tetap jauh dari sasaran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) nan mematok 90 persen kasus hepatitis terdeteksi dan 80 persen pasien mendapatkan pengobatan pada tahun 2030.

Menkes menekankan agar masyarakat tidak merasa kondusif hanya lantaran merasa sehat secara fisik. "Jangan merasa sehat lampau tidak mau diperiksa. Banyak penyakit kronis, termasuk penyakit hati, berkembang tanpa indikasi selama bertahun-tahun. Ketika indikasi muncul, sering kali penyakit sudah berada pada tahap lanjut," tegasnya.

Layanan Skrining dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG)

Sebagai langkah nyata, pemerintah telah mengintegrasikan skrining penyakit hati ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Layanan ini mencakup:

  • Deteksi Hepatitis B: Melalui pemeriksaan HBsAg.
  • Penilaian Fibrosis Hati: Menggunakan metode APRI (AST to Platelet Ratio Index) berbasis pemeriksaan darah untuk memandang tingkat kerusakan jaringan hati.

Selain skrining, pemerintah juga memperkuat perlindungan melalui imunisasi Hepatitis B bagi tenaga kesehatan dan pemberian profilaksis antivirus bagi ibu mengandung untuk mencegah penularan virus ke bayi.

Kebijakan Nutri-Level 2026
Mulai tahun 2026, pemerintah menerapkan kebijakan Nutri-Level untuk membantu masyarakat mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL). Hal ini bermaksud menekan akibat penyakit hati nan dipicu oleh gangguan metabolik.

Tantangan Kesehatan Nasional

Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Prof. David Handojo Muljono, menambahkan bahwa ekspansi akses skrining di jasa kesehatan primer sangat krusial. Tanpa penemuan dini, kasus Hepatitis B kronis bakal terus menjadi "pembunuh senyap" nan berujung pada komplikasi berat.

Data menunjukkan tantangan besar nan dihadapi:

Cakupan Data Estimasi Dampak
Penduduk Indonesia Terdampak Sekitar 70 Juta Jiwa
Kematian Global per Tahun Sekitar 2 Juta Jiwa
Cakupan Skrining Saat Ini ~10% (Target WHO 90%)

(H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia