(MI/Seno)
ADA pertanyaan sederhana nan belakangan sering saya ajukan kepada diri sendiri sebelum masuk ke dalam kelas: jika siswa saya bisa mendapatkan jawaban betul dari aplikasi kepintaran artifisial (KA) dalam waktu lima detik, apakah mereka tetap memerlukan saya di depan kelas? Pertanyaan itu menjadi titik kembali untuk menguji kembali apa nan sebenarnya kudu diajarkan pembimbing ketika jawaban tak lagi dimonopoli manusia.
Bertahun-tahun mengajar matematika membikin saya menyadari bahwa pembelajaran di sekolah sering kali lebih sibuk mengejar jawaban daripada melatih langkah berpikir. Kini, ketika KA bisa menghasilkan jawaban dalam hitungan detik, pembimbing kudu beralih bentuk menjadi penuntun nalar. Perubahan ini bukan sekadar pilihan style mengajar, melainkan akibat dari berubahnya langkah manusia memperoleh pengetahuan.
JAWABAN MENJADI MURAH
Selama puluhan tahun, pendidikan Indonesia dibangun atas dugaan bahwa pembimbing adalah sumber utama pengetahuan sehingga pembelajaran dan ujian lebih menekankan ketepatan jawaban. Padahal, sejak 2021 pemerintah menggeser paradigma pertimbangan melalui Asesmen Nasional nan berfokus pada literasi dan numerasi. Hasil Asesmen Nasional menunjukkan bahwa persoalan literasi dan numerasi kita belum selesai. Artinya, perubahan pada sistem pertimbangan belum otomatis mengubah praktik pembelajaran di ruang kelas.
Kehadiran KA justru mempertegas urgensi perubahan itu. Ketika siswa dapat memotret soal matematika dan mendapat jawaban komplit beserta langkah penyelesaiannya dalam hitungan detik, nilai ekonomi dari ‘mengetahui jawaban’ jatuh mendekati nol. nan menjadi semakin krusial bukan lagi sekadar mendapatkan jawaban, melainkan memahami gimana jawaban itu diperoleh, menguji apakah jawaban itu masuk akal, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengambil keputusan. Bahkan sebelum semua itu, siswa kudu bisa mengusulkan pertanyaan nan tepat. Di sinilah keahlian berakal menjadi semakin mahal nilainya.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencoba menjawab tantangan ini melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) nan menekankan pembelajaran reflektif, bermakna, dan kolaboratif, bukan sekadar hafalan. Namun, paradigma nan baik hanya bakal menjadi semboyan jika tidak diwujudkan dalam perubahan nyata: pembimbing merancang pertanyaan nan menantang logika dan sekolah mengubah langkah menilai keberhasilan belajar siswa. Kebijakan berubah, tetapi perubahan kebijakan tidak otomatis mengubah pedagogi.
Sebagai pembimbing matematika di SMA Sukma Bangsa Pidie, saya memandang langsung sungguh berat tuntutan perubahan ini bagi pembimbing di daerah. Pada saat nan sama, perubahan itu justru semakin mendesak dilakukan di wilayah seperti Aceh. Banyak guru, termasuk di Pidie dan kabupaten sekitarnya, bekerja dalam tradisi pedagogi nan telah lama mengakar: mengajar dengan metode ceramah, memberi contoh soal, lampau meminta siswa mengerjakan soal serupa secara berulang. Metode itu pernah relevan ketika akses info terbatas. Kini, ketika siswa di pelosok Pidie sekalipun mulai mempunyai akses terhadap aplikasi KA melalui gawai, metode pembelajaran lama tidak lagi sekadar kurang efektif, tetapi berisiko memperlebar kesenjangan dalam belajar. Siswa nan dilatih berpikir kritis bakal menggunakan KA untuk memperdalam pemahaman, sementara siswa nan terbiasa menghafal bakal menjadikannya jalan pintas untuk mendapatkan jawaban tanpa pernah betul-betul memahami. KA tidak otomatis membikin siswa lebih pandai alias lebih malas. Cara sekolah mendidik siswa menentukan untuk apa dan gimana teknologi itu digunakan. Di antara dua jalan itu, pembimbing menjadi penentu arah.
MENILAI, MENGAJAR, BERNALAR
Transformasi peran pembimbing dari penyampai jawaban menjadi penuntun langkah berpikir tidak mungkin hanya mengandalkan kesadaran tiap-tiap guru. Perubahan ini memerlukan kebijakan nan memberi ruang dan dukungan. Sistem penilaian, misalnya, perlu bergerak dari sekadar mengukur betul dan salah menuju penghargaan terhadap proses bernalar. Siswa perlu diberi kesempatan menjelaskan alasan, membandingkan langkah penyelesaian, menguji sebuah jawaban, dan mempertanggungjawabkan keputusan nan diambil. Sebab, ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, nan perlu dinilai bukan lagi sekadar apa jawaban siswa, melainkan gimana dia sampai pada jawaban tersebut.
Peningkatan kompetensi pembimbing pun tidak cukup berakhir pada keahlian menggunakan aplikasi KA. nan lebih krusial adalah keahlian pedagogis untuk merancang pembelajaran nan membikin siswa berpikir. Guru perlu bisa mengusulkan pertanyaan nan mendorong siswa menganalisis, menguji, meragukan, dan menemukan alasan. Dalam pembelajaran matematika, siswa tidak cukup mencari jawaban dari KA, tetapi perlu menguji kebenarannya, menemukan kesalahan, dan memahami proses berpikir di baliknya. Dengan demikian, KA tidak diperlakukan semata sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari proses belajar nan justru dapat memperkuat logika kritis siswa. Di sinilah teknologi dapat menjadi bagian dari proses belajar, bukan pengganti proses berpikir.
Karena itu, kebijakan pendidikan di wilayah juga perlu memandang teknologi bukan semata sebagai perangkat nan kudu dibagikan, melainkan juga sebagai sarana nan kudu digunakan secara bermakna. Laptop, tablet, maupun beragam perangkat pembelajaran tidak bakal banyak berfaedah tanpa pembimbing nan bisa mengubahnya menjadi pengalaman belajar nan menumbuhkan nalar. Bagi wilayah seperti Kabupaten Pidie dan Provinsi Aceh, tantangannya tidak hanya memperluas akses siswa terhadap teknologi, tetapi juga membekali mereka dengan keahlian untuk menggunakannya secara kritis dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, pertanyaan nan saya ajukan di awal tulisan ini menemukan jawabannya. Siswa tetap memerlukan guru, bukan lantaran pembimbing mempunyai lebih banyak jawaban daripada mesin. Dalam perlombaan itu, manusia memang telah lama kalah. Namun, pendidikan tidak pernah sekadar tentang siapa nan paling sigap memberikan jawaban. Pendidikan adalah tentang menumbuhkan keahlian bertanya, memahami, meragukan, menimbang, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Di situlah peran pembimbing nan tak tergantikan. Kecerdasan artifisial dapat menyajikan info dalam hitungan detik, tetapi tidak dapat menggantikan manusia dalam membangun pemahaman, menumbuhkan kebijaksanaan, dan membentuk karakter. Karena itu, pekerjaan besar pendidikan hari ini bukan mempertahankan pembimbing sebagai sumber jawaban, melainkan memperkuatnya sebagai arsitek nalar.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·