Jakarta -
Belum lama, Badan Pusat Statistik (BPS) mengadakan survei mengenai Data Tunggal Sosial Ekonomi nasional. Tindakan ini dilakukan dalam rangka pemutakhiran tingkat ekonomi penduduk Indonesia. Nantinya, hasil dari sensus ekonomi ini bakal digunakan sebagai referensi pemerintah dalam menentukan siapa saja nan berkuasa mendapatkan bansos hingga pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.
Sayangnya, usai proses tersebut selesai, kegaduhan muncul. Sebabnya, beberapa orang merasa jika pembagian desil dari sensus tersebut tidak akurat. Seperti ditulis detikcom sebelumnya, ketidakakuratan info tersebut pada akhirnya merugikan penduduk nan terdampak.
Di Yogyakarta, seorang penarik bentor terpaksa meminta keringanan biaya kuliah anaknya usai dirinya terdaftar di desil 9. Timbul, penduduk Lendah, Kulon Progo, akhirnya kudu mengusulkan keringanan lewat program PIP usai anaknya kudu bayar Rp 15 juta rupiah untuk masuk ke Universitas Negeri Yogyakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa juga terjadi di Mataram, NTB. sejumlah penduduk memprotes saat nama mereka tercatut dalam Desil 10. Padahal, mereka mengaku jika hidup mereka tetap pas-pasan dan tinggal di kontrakan.
Banyaknya kasus serupa membikin pemerintah buka suara. Mengutip detikSumut, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menanggapi polemik mengenai penghitungan desil tersebut. Ia menegaskan pemerintah bakal memperhatikan beragam keluhan masyarakat andaikan ditemukan ketidaktepatan dalam penetapan desil dan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan perbaikan.
"Ya, tentunya keluhan-keluhan nan terjadi, masalah-masalah nan terjadi menjadi masukan bagi pemerintah untuk bisa dikoreksi," ujar Qodari di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).
Terbaru, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa telah menyiapkan biaya Rp 7 triliun mengenai perbaikan DTSEN. Angka tersebut sesuai dengan permintaan BPS dalam rangka menyajikan info nan akurat.
"Jadi, DTSEN sama sensus itu jika nggak salah nyaris Rp 7 triliun lebih sedikit. Dengan macam-macam ya, cukup banyak. Jadi, mereka waktu awal-awal tahun, minta penambahan anggaran kita penuhi untuk memastikan DTSEN-nya bagus," kata Purbaya di Kemenkeu, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).
Lalu di mana letak kesalahan penetapan desil ini? Bagaimana semestinya pemerintah memperbaiki sistem pemutakhiran DTSEN di masa depan? Simak ulasannya berbareng Anggota Komisi VIII, Selly Andriany Gantina dalam detikSore!
Beralih ke Jawa Timur, jalur pendakian Gunung Semeru resmi ditutup total mulai Rabu, 26 Agustus 2026. Langkah ini diambil secara tegas oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( BB TNBTS) menyusul munculnya titik kebakaran rimba di area Blok Ranu Kembang nan berada di sekitar jalur pendakian.
Penutupan jalur pendakian ini pun bertindak sejak pengumuman diterbitkan hingga waktu nan belum ditentukan. Pihak pengelola bakal terus mengevaluasi kondisi lapangan sebelum membuka kembali akses menuju puncak Mahameru. Lalu, Indikator apa nan bakal digunakan TNBTS untuk menentukan kapan jalur pendakian Gunung Semeru kondusif untuk kembali dibuka? Bagaimana nasib calon pendaki nan sudah membeli tiket sebelum penutupan diberlakukan? Simak laporannya berbareng wartawan detikJatim.
Kembali membahas akibat karhutla, detikSore bakal mengupasnya dari sisi kesehatan. Seperti diulas sebelumnya, kebakaran lahan dan rimba melepas banyak karbon dan senyawa-senyawa nan berbahaya. Hal ini bakal berakibat fatal bagi masyarakat nan menghirup asap pekatnya. Asap karhutla juga dapat membawa partikel lembut nan berakibat pada paru-paru hingga jantung, apalagi ketika indikasi belum terasa.
Merangkum detikcom, karhutla berakibat di tujuh provinsi dan membikin lebih dari 3 juta penduduk di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap. Angka nan dikutip dari info Kemenkes per 21 Agustus 2026 ini menggambarkan besaran akibat nan dialami oleh masyarakat.
Seperti ditulis detikHealth, kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan) melonjak hingga 78,1 persen di Kalimantan Tengah. Lalu apa saja ancaman kesehatan tersembunyi nan bakal dihadapi masyarakat terdampak? Temukan jawabannya berbareng redaktur detikhealth dalam segmen Sunsetalk.
Ikuti terus ulasan mendalam berita-berita hangat detikcom dalam sehari nan disiarkan secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 15.30-18.00 WIB, di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat nan tersedia.
"Detik Sore, Nggak Cuma Hore-hore!"
(vys/gub)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·