Menguji Kecanggihan Drone Sawah, Pangkas Bertani Seharian Jadi 8 Menit

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Liputan6.com, Merauke - Dengungan baling-baling drone memecah pagi di hamparan sawah Kampung Waninggap Kai, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Pesawat tanpa awak itu melayang rendah di atas tanaman padi nan baru berumur sekitar tiga pekan, lampau menyebarkan butiran pupuk secara merata.

Pemandangan seperti itu mungkin tetap terasa asing bagi sebagian petani. Namun di Merauke, teknologi perlahan menjadi bagian dari keseharian di lahan pertanian.

Drone berkapasitas angkut 20 kilogram tersebut menjadi salah satu perangkat nan digunakan dalam program Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS). Pemerintah mendorong mekanisasi pertanian untuk mempercepat pekerjaan, meningkatkan produktivitas, sekaligus mengatasi keterbatasan tenaga kerja di lapangan.

Pada lahan percontohan seluas lebih dari dua hektare, seluruh proses budidaya dilakukan mengikuti standar operasional. Salah satunya pemupukan menggunakan drone dengan dosis 200 kilogram pupuk NPK per hektare.

Hasilnya langsung terasa.

Jika sebelumnya petani memerlukan nyaris sehari penuh untuk memupuk lahan seluas satu hektare secara manual, sekarang pekerjaan nan sama dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar delapan menit.

"Jauh sekali efisiensinya menggunakan drone. Kondisi lahan di sini juga cukup baik lantaran mempunyai pH nan netral," ujar Rohim, petani nan mengikuti Gerakan Tanam Padi Bersama berbareng Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kampung Waninggap Kai, Sabtu, 4 Juli 2026.

Menurut Rohim, kehadiran drone bukan hanya memangkas waktu kerja. Teknologi itu juga membikin sebaran pupuk lebih merata, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, dan sangat membantu pengelolaan lahan nan luas.

"Ini sangat berfaedah untuk kami. Pekerjaan jadi lebih cepat. Tentunya kudu kami syukuri dan dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk lahan nan luas," katanya.

Bagi Rohim, kesempatan mencoba teknologi modern menjadi pengalaman baru nan membuka langkah pandang petani terhadap masa depan pertanian.

"Kami sangat berterima kasih bisa memandang kecanggihan teknologi pertanian drone ini. Saya berambisi teknologi ini bisa membantu kami mendapatkan hasil panen nan lebih banyak," ujarnya.

Ubah Pola Budidaya Padi Melalui Sistem Tanam Langsung

Modernisasi pertanian melalui PM-AAS tidak hanya menghadirkan drone. Program tersebut juga mengubah pola budidaya padi melalui sistem tanam bibit langsung (tabela) dengan populasi tanaman nan jauh lebih padat dibandingkan metode konvensional. Dengan pola tanam itu, sasaran produksi ditingkatkan hingga dua kali lipat, dari rata-rata lima ton menjadi sekitar 10 ton per hektare.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman nan meninjau langsung aktivitas tersebut mengaku bangga memandang teknologi pertanian modern dioperasikan oleh putra-putra original Papua.

Menurutnya, penguasaan teknologi oleh generasi muda Merauke menjadi bukti bahwa pertanian di Papua Selatan mulai sejajar dengan praktik pertanian di negara-negara maju.

"Kami bangga memandang operator nan merupakan putra wilayah Semangga. Inilah tujuan kita, transfer teknologi kepada putra-putri terbaik wilayah ini," kata Amran.

Ia apalagi menyebut teknologi nan digunakan di Merauke tidak berbeda dengan nan diterapkan di Jepang, Amerika Serikat, maupun negara maju lainnya.

"Tadi nan menggunakan drone ada Pak Celivius Gebze. Sudah beli mobil lantaran bekerja di sektor pertanian dan menggunakan teknologi. Artinya teknologi nan digunakan Merauke, Papua Selatan, sejajar dengan Jepang, Amerika, dan negara-negara lain," ujarnya.

Amran menilai mekanisasi menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian di Papua Selatan. Hampir seluruh tahapan budidaya sekarang dilakukan dengan support perangkat modern, mulai dari penanaman menggunakan rice transplanter, pemupukan memakai drone, hingga panen menggunakan combine harvester.

"Makanya mereka menggunakan drone, tanam menggunakan rice transplanter, menggunakan combine harvester. Itu luar biasa," katanya.

Menurut Amran, dampaknya mulai terlihat. Indeks pertanaman (IP) di Merauke sekarang telah mencapai dua kali tanam dalam setahun, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional nan berada di kisaran 1,6 hingga 1,7.

"Kalau bisa tiga kali," ujarnya.

Panen Melesat, Waktu Lebih Singkat

Produktivitas pun terus meningkat. Jika sebelumnya hasil panen hanya sekitar tiga ton per hektare, sekarang banyak petani bisa memanen antara empat hingga tujuh ton per hektare.

"Dulu produksinya tiga ton, sekarang sudah ada empat ton, lima ton, enam ton, apalagi tujuh ton. Ini untuk kesejahteraan masyarakat. Pendapatan petani naik. Tadi Pak Bupati menyampaikan sampai 300 persen. Ini luar biasa," kata Amran.

Ia menegaskan seluruh perangkat dan mesin pertanian nan diberikan pemerintah merupakan aset masyarakat Papua agar faedah modernisasi betul-betul dirasakan petani.

"Semua peralatan ini adalah untuk masyarakat nan ada di sini," ujarnya.

Di sela kunjungan, Amran juga mencoba mengoperasikan traktor modern berbareng operator lokal. Ia mengaku terkesan memandang keahlian anak-anak muda Papua mengendalikan perangkat pertanian berteknologi tinggi.

"Saya sengaja naik ke traktor. Kasih lurus ke depan, belok kiri, belok kanan, mundur, maju, dia lolos ujian tes," katanya sembari tersenyum.

Momen lain nan membuatnya semakin optimistis justru datang dari perihal sederhana. Ia memandang sendiri kesejahteraan operator muda mulai berubah berkah keahlian menguasai teknologi pertanian.

"Yang menarik, saya buka tasnya, ada HP, kayak iPhone. Artinya kesejahteraan mereka meningkat lantaran menguasai teknologi," ujar Amran.

Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑