Mengetuk Nurani Birokrat Untuk Hadirkan Perpustakaan Malam Bagi Kelas Pekerja

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Generated by AI

Siapa bilang edukasi hanya untuk mereka nan duduk di bangku sekolah? Sejak pendidikan jenjang dasar hingga menengah, perpustakaan menjadi satu komponen bentuk nan terasosiasi dengan baik berbarengan dengan upaya pendidik meningkatkan minat baca para siswanya. Minat baca dipercaya menjadi fondasi intelektualitas bagi seseorang untuk berkembang, apalagi seumpama seorang Josep Goebbels, aktivitas Gemar Baca Buku’ menjelma bak propaganda.

Tentu anak kelahiran 1990an ingat dengan istilah 'Buku adalah Jendela Dunia'. Pemerintah betul-betul memperhatikan pendekatan via kitab untuk meningkatkan wawasan dan karakter anak di jenjang sekolah. Gerakan Gemar Baca Buku dimaksimalkan dengan sangat gencar. Akses terhadap perbukuan juga sangat mudah. Tidak hanya dari akomodasi sekolah, namun juga perpustakaan wilayah dan bus perpustakaan melangkah nan sering berjamu ke sekolah-sekolah.

Dilanjutkan dengan di tingkat perguruan tinggi. Lagi-lagi perpustakaan tetap mudah diakses, malah semakin kaya bakal opsi. Sebagai mahasiswa, penulis bisa mengeksplorasi tidak hanya perpustakaan almamater kampus, namun juga perpustakaan kampus lain nan mentereng seperti Universitas Sumatera Utara dan Universitas Negeri Medan bermodal meminjam KTM teman. Bahkan ada juga Perpustakaan Bank Indonesia nan memberdayakan golongan belajar berjulukan Genbi (Generasi Baru Indonesia). Tidak ada batas untuk belajar lantaran semua akses itu terbuka lebar.

Namun, semua berubah saat memasuki jenjang profesi. Dengan budaya kerja nine to five namalain dari jam sembilan pagi ke jam lima sore, waktu senggang seorang tenaga kerja umumnya berbenturan dengan jam operasional perpustakaan. Tahu sendiri jika perpustakaan umum itu dikelola oleh birokrat pemerintah nan mana jam kerjanya juga sangat birokratis. Bayangkan nasib tenaga kerja nan sedari dulu doyan membaca namun tidak punya tempat untuk pulang. Toko kitab memang ada, tapi dengan kondisi ekonomi nan agak carut marut seperti sekarang ditambah dengan nilai kitab nan semakin gila-gilaan, agaknya opsi membeli kitab di toko kitab tetap menjadi opsi pengganti di tengah kebutuhan mendasar nan lain.

Ceruk pasar ini sebenarnya sangat ideal digarap oleh perpustakaan lantaran memberikan momen me time untuk tenaga kerja nan sudah bekerja dari pagi ke sore. Sekaligus mengobati kerinduannya bakal membaca buku. Apalagi, jam pulang sekolah anak SMP-SMA nan sekarang sudah mulai mengimbangi jam pulang anak kantoran lantaran tuntutan les sore. Dengan semua kesibukan itu, alangkah baiknya jika perpustakaan malam di Kota Medan bisa mulai dibuka bertahap, minimal diujicobakan.

Selain itu, malam hari juga condong menjadi jam aktif untuk generasi Z dalam menghabiskan waktunya. Apalagi saat ini banyak sekali generasi Z nan 'gabut' dan bingung langkah menghabiskan waktunya. Saking senggangnya, mereka apalagi terbiasa main Tiktok sampai awal hari.

Pemerintah memang mencoba mensubstitusi dengan perpustakaan digital. Strategi ini juga diharapkan bisa mengimbangi kebiasaan anak-anak Gen Z nan intens bermain Tiktok alias scrolling di media sosial. Hanya saja, gaung promosinya kurang kuat. Apalagi sekarang apa-apa kudu viral, sehingga tanpa strategi promosi nan tepat, perpustaakaan digital tidak bakal menjadi tren nan kuat di kalangan anak muda.

Mengingat dalam beragam pemberitaan akhir-akhir ini ditemukan kejadian darurat literasi dimana mulai banyak generasi Z nan tidak pandai berbilang aritmatika sederhana, tidak mengerti sejarah, tidak hapal kepanjangan MPR, apalagi ada nan tidak bisa baca jam analog.

Fenomena ini jika terus dibiarkan bisa mengarah pada ketidakmampuan berpikir kritis dan menakut-nakuti keberlanjutan pembangunan nasional ke depannya. Mumpung kita tetap di timeline bingkisan demografi.

Selain itu, perpustakaan digital melupakan prinsip dari berkelompok dimana banyak anak muda senang dengan aktivitas organisasi alias berjumpa dengan orang nan seirama alias sehobi. Apalagi di perpustakaan juga banyak nan mengerjakan tugas dan mengandalkan keheningannya untuk mencapai titik konsentrasi tertinggi.

Pun, jika perpustakaan malam bisa eksis sangat diharapkan ada penyesuaian untuk melindungi generasi Z. Karena secara watak kudu diakui agak berbeda dengan orang tuanya generasi X alias apalagi kakaknya generasi milenial. Seperti mengurangi kekakuan para pustakawan nan bermuka ketat ketika menyambut tamu, alias membikin lounge membaca nan jauh lebih cozy, alias paling jauh memperbanyak debit event untuk diikuti oleh mereka. Karena generasi Z saat ini sangat kuat dengan rumor individual seperti kesehatan mental sehingga tentu servis pelayananya butuh diferensiasi.

Banyak permintaan ya Anda? (Kata pustakawan nan membaca dengan dahi mengerut).

Pada akhirnya, penulis mencoba untuk mengetuk pintu hati para birokrat agar mau mengakomodasi antusiasme baca kelas pekerja, sekaligus membuka kesempatan untuk menarik sebanyak mungkin generasi Z untuk doyan membaca lewat perpustakaan malam.

Sebagai petunjuk dalam UUD 1945 ialah ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa’ peran perpustakaan malam disadari alias tidak, sedikit banyaknya bakal bisa berkontribusi untuk mencapai cita-cita tersebut. Semoga saja pemerintah bisa satu gelombang dengan generasi Z nan mereka pimpin hari ini, agar gerbong generasi tersebut bisa diandalkan sesuai visi Indonesia Emas 2045, dimana generasi Z hari ini menjadi generasi emas di kemudian hari, bukan generasi cemas.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan