Mengenal Tradisi Grebeg Besar Keraton Surakarta dan Yogyakarta

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Mengenal Tradisi Grebeg Besar Keraton Surakarta dan Yogyakarta Masyarakat dan visitor alias pelancong berebut dua gunungan grebeg pada seremoni Idul Adha 1447 H/2026 di pelataran Masjis Agung Keraton Surakarta, Kamis (28/5/2026).(MI/Widjajadi)

Grebeg Besar merupakan salah satu upacara budaya paling dinantikan dalam almanak budaya Jawa, khususnya di dua pusat kebudayaan Mataram: Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Keraton Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Meski sama-sama digelar untuk memperingati Hari Raya Idul Adha, penyelenggaraan pada tahun 2026 (1447 H) menunjukkan dinamika nan menarik antara pelestarian tradisi dan penyesuaian kondisi zaman.

Garebeg Besar Dal 1959 Keraton Yogyakarta: Simbol Kesederhanaan

Pada tahun ini, Keraton Yogyakarta menggelar Garebeg Besar Dal 1959 dengan nuansa nan berbeda. Berdasarkan titah Sri Sultan Hamengku Buwono X, prosesi dilaksanakan secara sederhana sebagai corak langkah penghematan anggaran nan selaras dengan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah.

Beberapa poin utama penyelenggaraan di Yogyakarta meliputi:

  • Peniadaan Ritual Publik: Prosesi seperti Gladhi Resik Prajurit dan ritual Numplak Wajik ditiadakan untuk efisiensi.
  • Pembagian Ubarampe: Sebagai tukar gunungan nan dikirab ke publik, keraton membagikan sekitar 4.000 ubarampe pareden.
  • Distribusi Internal: Ubarampe didoakan oleh Kanca Kaji kemudian dibagikan oleh putra-putri dalem (GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara) serta menantu dalem (KPH Wironegoro, KPH Notonegoro) kepada para abdi dalem.

Meski sederhana, Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, menegaskan bahwa prinsip infak raja kepada rakyat tetap terjaga melalui simbolisme ubarampe tersebut.

Grebeg Besar Keraton Surakarta: Antusiasme dan "Membumikan" Budaya

Berbeda dengan Yogyakarta, Keraton Surakarta Hadiningrat merayakan Idul Adha 1447 H dengan kemeriahan di pelataran Masjid Agung. Ratusan penduduk dan visitor berkumpul untuk mengikuti tradisi "ngalap berkah" alias berebut gunungan.

Filosofi Dua Gunungan:

  • Gunungan Jaler (Laki-laki): Berisi hasil bumi mentah seperti kacang panjang, tebu, cabe merah, dan telur asin. Melambangkan sumber kehidupan dan kesuburan.
  • Gunungan Estri (Perempuan): Berisi makanan siap saji alias rengginang. Melambangkan kesejahteraan dan hasil nan siap dinikmati.

KP Eddy Wirabhumi dari Lembaga Hukum Keraton Surakarta menjelaskan bahwa pada tahun ini, kedua gunungan akhirnya diperebutkan oleh masyarakat di pelataran masjid. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi animo masyarakat dan visitor nan luar biasa, sekaligus sebagai upaya "membumikan" budaya Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Perbandingan Esensi Kedua Keraton

Aspek Keraton Yogyakarta (Dal 1959) Keraton Surakarta (1447 H)
Bentuk Sedekah Ubarampe Pareden (Internal) Gunungan Jaler & Estri (Publik)
Lokasi Utama Internal Keraton Pelataran Masjid Agung
Semangat Utama Realisme & Penghematan Pelestarian & Edukasi Budaya

Kesimpulan

Baik Grebeg Besar di Surakarta maupun Yogyakarta mempunyai akar sejarah nan sama, ialah sebagai bentuk syukur dan infak raja kepada rakyatnya. Perbedaan teknis penyelenggaraan pada tahun 2026 ini menunjukkan bahwa tradisi Jawa berkarakter dinamis; dia bisa tampil bersahaja dalam bebatan keprihatinan ekonomi, namun juga bisa tampil inklusif untuk merangkul antusiasme publik.

FAQ Tradisi Grebeg Besar

Apa itu ubarampe pareden?
Bagian-bagian mini dari komponen gunungan nan telah didoakan, biasanya dibagikan sebagai simbol berkah dari keraton.

Mengapa penduduk berebut gunungan?
Masyarakat meyakini bahwa mendapatkan bagian dari gunungan (ngalap berkah) dapat membawa ketenteraman, keberuntungan, alias kesuburan bagi pertanian mereka.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia