Ilustrasi, nyamuk penyebab malaria.(Dok. Magnific)
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Malaria Knowlesi. Penyakit zoonosis alias jangkitan nan menular dari hewan ke manusia ini tengah menjadi perhatian serius menyusul peningkatan kasus di negara tetangga, Malaysia, serta temuan kasus di Indonesia pada tahun 2026.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Inke Nadia Diniyanti Lubis, , menjelaskan bahwa penyebab penyakit ini adalah parasit Plasmodium knowlesi. Berbeda dengan jenis malaria lainnya, parasit ini mempunyai siklus hidup nan sangat pendek sehingga bisa bereplikasi dengan sangat sigap di dalam tubuh manusia.
“Malaria dari monyet ini bisa menyebabkan indikasi nan sangat besar lantaran siklus hidupnya nan jauh lebih pendek. Mereka sangat sigap bereplikasi di dalam tubuh manusia,” ujar dr. Inke dalam obrolan daring, beberapa waktu lalu.
Asal-usul dan Faktor Risiko Penularan
Parasit Plasmodium knowlesi awalnya menginfeksi primata, khususnya monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina). Penularan ke manusia terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles dari golongan leucosphyrus.
Penyakit ini umumnya ditemukan pada masyarakat nan tinggal alias beraktivitas di dekat area hutan. Dr. Inke menyoroti bahwa peningkatan kasus sering kali berangkaian erat dengan deforestasi alias perubahan kegunaan lahan rimba menjadi perkebunan dan permukiman. Hal ini menyebabkan kediaman monyet dan nyamuk terganggu, sehingga hubungan manusia dengan aspek penular menjadi lebih intens.
Gejala Malaria Knowlesi:
- Demam dengan siklus harian (naik setiap 24 jam).
- Menggigil dan berkeringat hebat.
- Sakit kepala, nyeri otot, dan nyeri sendi.
- Tubuh terasa lemas, mual, hingga muntah.
Situasi Terkini di Malaysia dan Indonesia
Hingga pekan epidemiologi ke-16 tahun 2026, Malaysia melaporkan pandemi di wilayah Sabah dengan total 357 kasus pada manusia dan satu korban jiwa. Sementara itu, di Indonesia, kasus serupa telah terdeteksi di Kabupaten Aceh Jaya dengan jumlah mencapai 30 kasus hingga April 2026.
Kondisi pasien dapat memburuk dengan sangat sigap jika tidak segera ditangani. Jika teridentifikasi dalam waktu 48 jam setelah infeksi, penyakit ini umumnya dapat disembuhkan. Namun, keterlambatan penanganan berisiko menyebabkan komplikasi fatal seperti kandas ginjal, sesak napas, hingga kematian.
Masyarakat diimbau segera membawa anak ke akomodasi kesehatan jika mengalami demam tinggi setelah berjamu alias tinggal di wilayah dekat rimba agar mendapatkan pemeriksaan darah dan penanganan medis nan tepat. (Ant/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·