Mengenal Bahaya Ultra-Processed Food, Kevin Hall Mengungkapkan Rahasianya

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Mengenal Bahaya Ultra-Processed Food, Kevin Hall Mengungkapkan Rahasianya Ilustrasi.(Magnific)

SATU dekade lalu, istilah ultra-processed foods (UPF) alias makanan ultra-proses mungkin asing di telinga masyarakat luas. Namun, segalanya berubah pada tahun 2019 ketika Kevin Hall, intelektual dari National Institutes of Health (NIH), memublikasikan studi nan mengguncang bumi nutrisi.

Studi Hall menunjukkan bahwa perseorangan nan mengonsumsi makanan ultra-proses condong mengonsumsi 500 kalori lebih banyak per hari dibandingkan mereka nan mengonsumsi makanan alami, meskipun kandungan gula, garam, dan lemaknya disetarakan. Temuan ini menggeser paradigma kesehatan: bukan hanya nutrisi nan penting, tetapi juga sejauh mana makanan tersebut diproses secara industri.

Kini, Hall merilis kitab terbarunya, Food Intelligence: The Science of How Food Both Nourishes and Harms Us. Berikut rangkuman wawancara mendalam mengenai lingkungan pangan modern dan dampaknya terhadap epidemi obesitas serta diabetes jenis 2.

Bukan sekadar Kurang Olahraga alias Tekad

Banyak orang menganggap obesitas dan glukosuria jenis 2 disebabkan oleh kurangnya tanggung jawab pribadi alias penurunan aktivitas fisik. Namun, Hall membantah perihal tersebut. "Data menunjukkan aktivitas bentuk di waktu senggang justru meningkat. Masalah utamanya bukan pada kemauan individu, melainkan lingkungan pangan kita," ujarnya.

Menurut Hall, sistem pangan saat ini dirancang untuk memproduksi kalori secara masif. Di Amerika Serikat saja, komoditas utama seperti gandum, kedelai, jagung, dan beras menghasilkan 15.000 kalori per orang per hari. Kelebihan kalori ini kemudian diolah menjadi bahan murah untuk makanan ultra-proses, termasuk penggunaan sirup jagung tinggi fruktosa.

Mengapa Makanan Ultra-Proses Membuat Kita Overeating?

Dalam penelitiannya, Hall menemukan dua sistem utama nan membikin UPF rawan bagi berat badan:

  1. Kepadatan Energi Tinggi: Proses pengolahan sering kali menghilangkan kadar air untuk memperpanjang masa simpan. Hal ini membikin kalori menjadi lebih terkonsentrasi dalam setiap gigitan.
  2. Sifat Hyper-palatable: Kombinasi spesifik antara lemak-garam, lemak-gula, alias karbohidrat-garam memicu otak untuk terus makan. Selain itu, tekstur UPF nan lembut membikin orang makan lebih cepat, sehingga sinyal kenyang dari usus terlambat sampai ke otak.

Fakta Menarik: Peserta dalam studi Hall mengonsumsi makanan ultra-proses jauh lebih sigap daripada makanan utuh, menyebabkan asupan kalori berlebih sebelum tubuh menyadari rasa kenyang.

Apakah Semua Makanan Ultra-Proses Buruk?

Menariknya, Hall sendiri tetap mengonsumsi beberapa jenis makanan ultra-proses. Ia membedakan antara camilan rekreasi yang dikonsumsi sesekali dengan produk nan membantu efisiensi memasak tetapi tetap bernutrisi, seperti saus marinara rendah natrium dan gula.

"Hanya lantaran sesuatu diproses secara ultra, tidak berfaedah itu jelek untuk Anda. Kita bisa menemukan pilihan sehat apalagi dalam kategori ini," jelasnya. Ia menekankan agar masyarakat tidak terjebak pada ketakutan berlebih terhadap label UPF, melainkan tetap konsentrasi pada prinsip dasar nutrisi.

Saran Pola Makan Sehat

Bagi mereka nan mau hidup lebih sehat, Hall kembali ke saran klasik nan teruji waktu:

  • Perbanyak konsumsi buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian utuh.
  • Kurangi lemak jenuh, gula tambahan, garam, dan karbohidrat olahan.
  • Gunakan makanan ultra-proses secara bijak sebagai perangkat bantu, bukan sumber nutrisi utama.

Karya Hall sekarang menjadi rujukan krusial bagi kreator kebijakan kesehatan di seluruh dunia, termasuk dorongan dari Sekretaris Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr., nan menyebut UPF sebagai pendorong utama penyakit kronis global. (Washington Post/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia