Mengapa Perempuan Lebih Sering Minta Maaf Dibanding Laki-Laki? Ini Kata Pakar

Sedang Trending 7 jam yang lalu
Mengapa Perempuan Lebih Sering Minta Maaf Dibanding Laki-Laki? Ini Kata Pakar Ilustrasi(Magnific)

"Maaf jika ini pertanyaan bodoh," alias "Maaf sudah mengganggu." Kalimat-kalimat ini kerap terlontar secara refleks, khususnya dari kaum perempuan, apalagi dalam situasi nan jelas-jelas bukan kesalahan mereka. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: kenapa wanita begitu sering meminta maaf, sementara laki-laki tidak melakukan perihal nan sama?

Seorang psikolog sekaligus guru besar terkemuka dari University of California, Berkeley, Stephen Hinshaw, menunjuk adanya "ekspektasi nan mustahil" nan dibebankan pada anak wanita sejak awal sebagai akar masalahnya. Melalui studi golongan fokus, Hinshaw menemukan adanya tekanan tiga lipat (triple bind) pada perempuan. Mereka dituntut untuk: 1) penuh kasih sayang dan mengayomi, 2) kompetitif dan berdorongan kuat, serta 3) mempunyai daya tarik, dan kudu memenuhi semua itu tanpa upaya keras.

"Bagaimana Anda bisa menjadi kompetitif, sepenuhnya altruistik dan berempati, serta diseksualisasi tanpa usaha? Anda tidak bisa. Itu mustahil," ujar Hinshaw. "Namun jika itu nan diharapkan oleh budaya dari Anda, maka Anda menginternalisasi kegagalan tersebut."

Ketakutan bakal penilaian orang lain ini membikin wanita sangat berhati-hati, apalagi untuk sekadar bersikap tegas secara wajar, lantaran cemas dianggap melanggar stereotip kelamin sebagai sosok nan penyayang.

Perbedaan Tolok Ukur antara Laki-Laki dan Perempuan

Karina Schumann, guru besar ilmu jiwa sosial di University of Pittsburgh, menjelaskan bahwa kejadian ini bukan berfaedah laki-laki tidak mau meminta maaf. Dalam studinya, Schumann menemukan adanya "hipotesis periode batas" (threshold hypothesis).

"Tampaknya ada lebih banyak pelanggaran nan melintasi periode pemisah bagi wanita untuk dianggap layak mendapatkan permintaan maaf," kata Schumann. "Namun ketika laki-laki memandang suatu perilaku sebagai pelanggaran, mereka tampak sama bersedianya untuk meminta maaf."

Ketika diuji dengan skenario nan sama, wanita condong menilai suatu kesalahan jauh lebih serius dan lebih memerlukan permintaan maaf dibandingkan penilaian laki-laki.

Dampak di Dunia Kerja

Sikap sering meminta maaf ini membawa akibat dobel di lingkungan profesional. Di satu sisi, orang nan sering meminta maaf dinilai sebagai sosok nan peduli, hangat, dan disukai. Namun di sisi lain, mereka juga dipandang kurang tegas, kurang berkuasa, dan terkadang dianggap tidak kompeten alias lemah.

Hal ini mempersulit posisi wanita di bumi kerja nan secara struktural tetap didominasi laki-laki. Data laporan Women in the Workplace dari McKinsey & Company menunjukkan bahwa keterwakilan wanita di posisi pelaksana (C-suite) mandek di nomor 29%.

"Masih ada norma bahwa wanita kudu tunduk pada laki-laki, dan meminta maaf atas apa nan bagi sebagian besar orang dianggap sebagai ketegasan nan wajar, tanpa perlu meminta maaf," tulis Hinshaw dalam emailnya.

Menjadikan Maaf Lebih Bermakna

Para mahir mengingatkan bahwa terlalu sering meminta maaf untuk hal-hal sepele justru dapat mengikis nilai dari kata "maaf" itu sendiri saat kesalahan fatal betul-betul terjadi. Schumann menyarankan agar masyarakat mulai melatih diri agar tidak menjadikan permintaan maaf sebagai respons refleks.

"Berhati-hatilah saat Anda meminta maaf. Cobalah untuk menjadikannya bukan sekadar refleks nan Anda lakukan begitu saja, melainkan pikirkan 'Apakah saya telah melakukan sesuatu dalam situasi ini nan menjamin permintaan maaf?'" pungkas Schumann. (CNN/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia