Mengapa Orbit Bumi Berputar Tak Terkendali? Ternyata Ini Penyebabnya

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

loading...

LONDON - Dengan lebih dari 14.000 satelit operasional dan jutaan perangkat nan menunggu peluncuran, area ruang angkasa sepanjang 2.000 kilometer ini menjadi "lahan ruang angkasa" nan sangat berharga, tetapi juga penuh dengan tantangan pengelolaan.

Satelit LEO menarik perhatian pemerintah dan perusahaan swasta lantaran biaya penyebarannya nan rendah, aksesibilitas nan mudah, dan latensi transmisi sinyal nan rendah.

Namun, pemanfaatan tanpa pandang bulu menciptakan ancaman nan belum pernah terjadi sebelumnya.

Ancaman terbesar tidak hanya berakhir pada tabrakan mekanis. Menurut penelitian dari European Southern Observatory (ESO), proyek satelit super-konstelasi nan saat ini sedang dibahas dapat menambah lebih dari 1,7 juta objek ke ruang angkasa.

Contoh tipikalnya termasuk SpaceX dengan idenya untuk mengoperasikan satu juta satelit sebagai pusat data, alias Reflect Orbital dengan rencananya untuk meluncurkan 50.000 satelit seperti cermin untuk memantulkan sinar mentari di malam hari.

Kemunculan entitas nan sangat bercahaya ini bakal mengubah tampilan langit malam, menciptakan garis-garis sinar nan merusak info dari teleskop bagian lebar seperti Vera C. di Observatorium Rubin.

ESO merekomendasikan bahwa, untuk menjaga kegunaan astronomi modern, periode pemisah kondusif maksimum kudu dibatasi hingga di bawah 100.000 satelit redup.

Yang lebih mengkhawatirkan, ruang hidup bagi perangkat-perangkat ini semakin berkurang secara signifikan akibat krisis suasana di bawah permukaan bumi. Sebuah studi tahun 2025 oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) menunjukkan bahwa akumulasi emisi gas rumah kaca mendinginkan dan menyusutkan termosfer bumi.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews