Mengapa Kucing Mendengkur? Intip Rahasia Ilmiah di Balik Suara 'Purr' si Anabul

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Mengapa Kucing Mendengkur? Intip Rahasia Ilmiah di Balik Suara 'Purr' si Anabul Ilustrasi(Magnific)

BAGI para pencinta kucing, mendengar bunyi dengkuran lembut alias purring saat si anabul sedang manja adalah momen nan sangat menenangkan. Mayoritas bunyi nan dikeluarkan kucing, seperti ngeongan, pekikan, hingga desisan, terjadi dengan langkah nan sama seperti manusia berbicara, ialah saat mengembuskan napas. Namun, bunyi dengkuran kucing rupanya menyimpan karakter tersendiri nan sangat berbeda.

Bagaimana sebenarnya langkah kucing mendengkur, dan apa argumen di kembali bunyi ritmis tersebut?

Anatomi di Balik Dengkuran

Secara umum, kucing memproduksi bunyi menggunakan laring alias kotak bunyi nan terletak di tenggorokan. Saat mengeong, otot-otot laring bakal bergetar ketika udara dipaksa keluar saat mengembuskan napas. Namun, berbeda dengan ngeongan nan hanya terjadi saat membuang napas, bunyi dengkuran dapat diproduksi baik saat kucing sedang menarik maupun mengembuskan napas.

Proses mendengkur ini bermulai dari getaran otot-otot pada pita bunyi seiring dengan keluar masuknya udara. Menariknya, sumber bunyi dengkuran nan dalam itu justru berasal dari tulang mereka.

Kucing mempunyai struktur anatomi berjulukan tulang hyoid nan terletak di bagian belakang tenggorokan untuk menopang lidah dan laring. Ketika getaran dari pita bunyi kucing mengenai tulang hyoid nan kaku ini, terjadilah pengaruh resonansi nan menghasilkan bunyi dengkuran berfrekuensi rendah.

Tidak Semua Kucing Bisa Mendengkur

Meski bunyi ini identik dengan kucing rumahan, nyatanya tidak semua jenis dalam family kucing (Felidae) bisa mendengkur. Keluarga kucing terbagi menjadi dua subfamili berasas keahlian bunyi nan mereka miliki.

Kelompok pertama adalah kucing nan bisa mendengkur (Felinae). Selain kucing domestik, golongan ini juga mencakup beberapa kucing liar seperti cheetah, serval, bobcat, hingga puma. Meskipun puma bisa mempunyai berat tubuh mencapai lebih dari 90 kilogram, mereka tetap masuk dalam kategori kucing nan bisa mendengkur.

Kelompok kedua adalah kucing nan bisa mengaum (Pantherinae). Kelompok ini diisi oleh jejeran kucing besar legendaris seperti jaguar, macan tutul, singa, dan harimau. Mereka tidak bakal pernah bisa mendengkur sebahagia apa pun kondisinya.

Perbedaan ini kembali lagi pada struktur tulang hyoid mereka. Pada kucing nan mendengkur, tulang hyoid berbentuk kaku dan mengeras sempurna. Sementara pada kucing besar, tulang hyoid tidak mengeras sepenuhnya, sehingga saluran bunyi mereka bisa memanjang dan menghasilkan auman nan menggelegar.

Dengkuran Sebagai Alat Terapi Kesehatan

Banyak orang mengira kucing hanya mendengkur saat merasa senang dan nyaman. Faktanya, kucing juga kerap mendengkur sesaat sebelum diberi makan, alias apalagi saat mereka merasa gugup di perjalanan menuju master hewan.

Dari perspektif pandang evolusi, mendengkur diyakini mempunyai kegunaan nan jauh lebih mendalam, ialah sebagai sistem pengobatan diri. Berdasarkan riset dari Elizabeth von Muggenthaler, seorang master bio-akustik nan meneliti bunyi hewan, dengkuran kucing mempunyai gelombang konstan antara 25 hingga 150 Hertz.

Frekuensi di rentang tersebut telah terbukti secara ilmiah dapat menstimulasi pertumbuhan tulang, mempercepat pengobatan jaringan, dan meredakan rasa sakit. Karena kucing menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan bersantai, mendengkur menjadi langkah efisien bagi mereka untuk menjaga kebugaran tubuh tanpa kudu membuang banyak energi.

Kabar baiknya, faedah magis ini tidak hanya dirasakan oleh si kucing. Berbagai studi menunjukkan bahwa pemilik kucing nan sering mendengarkan dengkuran peliharaannya mempunyai tekanan darah nan lebih stabil serta akibat penyakit jantung nan lebih rendah. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑