Mengapa Figur Publik masih Efektif untuk Membangun Kepercayaan Merek

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Mengapa Figur Publik tetap Efektif untuk Membangun Kepercayaan Merek Ilustrasi(Dok Pexels)

PERSAINGAN di pasar obat herbal masuk angin belakangan menarik perhatian publik melalui hadirnya dua figur ikonik dari movie legendaris AADC, ialah Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Keduanya tampil sebagai wajah kampanye dari dua merek herbal ternama, Antangin JRG dan Tolak Angin, nan menghadirkan pendekatan komunikasi berbeda dalam menyampaikan pesan kepada konsumen.

Antangin JRG lebih dulu meluncurkan iklan bernuansa komedi thriller nan dibintangi Dian Sastrowardoyo. Kampanye tersebut mengangkat pesan bahwa masuk angin merupakan kondisi nan umum dialami masyarakat dan dapat ditangani dengan langkah nan nyaman dan praktis.

Beberapa waktu kemudian, pada Mei 2026, Tolak Angin memperkenalkan kampanye baru berbareng Nicholas Saputra. Mengusung tema “Dari Indonesia untuk Dunia”, iklan tersebut tidak hanya membahas indikasi masuk angin seperti perut kembung dan mual, tetapi juga membujuk masyarakat untuk lebih jeli dalam menyikapi beragam info nan beredar.

Pesan mengenai pentingnya memilah info dinilai relevan dengan tantangan nan dihadapi banyak perusahaan di era digital, termasuk industri kesehatan dan herbal. Di tengah derasnya arus info di media sosial, beragam rumor mengenai produk kerap menjadi perhatian publik dan memengaruhi persepsi konsumen.

Pada awal 2026, misalnya, beredar pembahasan di media sosial mengenai kandungan eugenol alias ekstrak daun cengkeh dalam produk herbal. Diskusi tersebut memunculkan beragam pandangan di kalangan masyarakat, termasuk konsumen nan mempunyai perhatian unik terhadap kesehatan lambung. Perusahaan mengenai kemudian memberikan penjelasan untuk merespons rumor nan berkembang.

Sebelumnya, produk Tolak Angin juga pernah menjadi perhatian dalam konteks izin di pasar internasional. Pada 2015, produk nan dipasarkan di California, Amerika Serikat, sempat mencantumkan label “Prop 65 Warning” mengenai ketentuan setempat mengenai unsur tertentu. Setelah dilakukan pengetesan laboratorium oleh National Food Lab California, produk tersebut dinyatakan memenuhi standar keamanan nan bertindak dan label tersebut kemudian dicabut.

Selain itu, sejumlah bahan herbal nan digunakan dalam produk kesehatan tradisional juga kerap menjadi bahan obrolan di ruang publik. Fenomena ini menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap aspek keamanan, manfaat, dan transparansi info produk kesehatan nan mereka konsumsi.

Dalam situasi seperti ini, penggunaan figur publik sebagai duta merek menjadi salah satu strategi komunikasi nan umum dilakukan perusahaan. Kehadiran sosok nan mempunyai reputasi baik dan tingkat kepercayaan tinggi di mata masyarakat dapat membantu memperkuat pesan merek sekaligus membangun kedekatan dengan konsumen.

Terkait pemilihan Nicholas Saputra sebagai brand ambassador dijelaskan oleh Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani.

“Nicholas ini orangnya sangat hati-hati. Kita tahu sendiri image nan dijaga, lampau selalu menjaga integritas sebagai aktor.”

Senada dengan itu, Direktur Utama Sido Muncul, Irwan Hidayat, juga menyoroti pentingnya menghadapi dinamika info di era digital. “Kita ini hidup di tengah media sosial nan satu hari berita-beritanya bisa membikin kita roboh lantaran buletin hoaks,” ungkap Irwan.

Fenomena hadirnya Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra dalam kampanye dua merek herbal besar menunjukkan bahwa peran celebrity endorser sekarang tidak hanya berangkaian dengan promosi produk. Figur publik juga menjadi bagian dari strategi komunikasi untuk memperkuat nilai merek, meningkatkan kredibilitas, serta membangun hubungan emosional dengan konsumen.

Pengamat periklanan memandang persaingan kampanye tersebut sebagai refleksi beragam pendekatan komunikasi nan digunakan merek dalam menjangkau masyarakat. Seperti dicatat oleh pengulas iklan Ad Nut dari Campaign Indonesia, 

“Ini bukan hanya perang produk. Ini perang langkah memandang angin: apakah dia kudu dikeluarkan… alias dilawan.”

Pada akhirnya, dinamika ini memperlihatkan gimana perusahaan-perusahaan di industri herbal terus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen, perkembangan media digital, serta kebutuhan bakal komunikasi nan semakin transparan dan terpercaya. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia