Ilustrasi(magnific)
BULAN, satelit alami nan setia menemani Bumi selama miliaran tahun, rupanya tidak berada pada posisi nan statis. Penelitian terbaru mengungkapkan kebenaran mengejutkan: Bulan perlahan-lahan sedang "berpamitan" dengan menjauh dari planet kita. Meski pergerakannya sangat lambat, kejadian ini mempunyai akibat nyata terhadap lama waktu di Bumi.
Berdasarkan info nan dihimpun dari pengamatan selama puluhan tahun, para intelektual menemukan bahwa Bulan menjauh sekitar 3,8 sentimeter setiap tahunnya. Angka ini setara dengan 1,5 inci, sebuah jarak nan mungkin terdengar mini namun sangat signifikan dalam skala waktu kosmik.
Teknologi Laser: Cara Ilmuwan Mengukur Jarak
Bagaimana para mahir bisa mengetahui perubahan jarak nan begitu presisi? Jawabannya terletak pada teknologi laser. Sejak misi penjelajahan Bulan dimulai, para astronot telah menempatkan cermin unik di permukaan Bulan. Ilmuwan di Bumi menembakkan sinar laser ke arah cermin tersebut dan mengukur waktu tempuh sinar untuk kembali.
Dengan metode ini, jarak Bulan dapat diketahui dengan kecermatan nan luar biasa. Berikut adalah ringkasan info mengenai jarak dan pergerakan Bulan:
| Jarak Rata-rata Bumi ke Bulan | 385.000 Kilometer (239.000 Mil) |
| Variasi Jarak Orbit (Fluktuasi) | ± 20.000 Kilometer |
| Laju Menjauh Per Tahun | 3,8 Sentimeter (1,5 Inci) |
| Durasi Hari 70 Juta Tahun Lalu | 23,5 Jam |
Gaya Pasang Surut: "Mesin" Pendorong Bulan
Penyebab utama Bulan menjauh adalah style pasang surut (tidal forces). Gravitasi Bulan menarik air laut di Bumi, menciptakan tonjolan air. Karena Bumi berputar lebih sigap daripada orbit Bulan, tonjolan air ini terdorong sedikit ke depan dari posisi Bulan.
Tonjolan air ini kemudian memberikan tarikan gravitasi tambahan nan "menarik" Bulan ke depan dalam orbitnya. Dorongan daya ini membikin Bulan bergerak lebih sigap dan secara berjenjang memperlebar orbitnya, mirip dengan atlet lempar martil nan melepaskan tali lebih panjang saat putarannya semakin cepat.
Dampak Bagi Bumi: Hari nan Semakin Panjang
Fenomena ini bukan tanpa akibat bagi Bumi. Hukum kekekalan momentum menyebabkan rotasi Bumi sedikit melambat sebagai kompensasi dari menjauhnya Bulan. Akibatnya, lama satu hari di Bumi perlahan-lahan bertambah panjang.
Bukti sejarah ini ditemukan pada fosil cangkang kerang purba. Penelitian menunjukkan bahwa pada masa dinosaurus (sekitar 70 juta tahun lalu), satu hari di Bumi hanya berjalan selama 23,5 jam. Ini membuktikan bahwa seiring Bulan menjauh, putaran Bumi memang melambat.
Catatan Penting: Meskipun Bulan menjauh, kejadian seperti eklips matahari, pasang surut laut, dan siklus siang-malam tetap bakal tetap normal dan dapat dinikmati manusia hingga jutaan tahun ke depan.
Akankah Bulan Benar-benar Pergi?
Pertanyaan besar nan sering muncul adalah apakah Bulan bakal lepas dari gravitasi Bumi? Para astronom memperkirakan perihal itu tidak bakal terjadi dalam waktu dekat. Dalam skenario miliaran tahun, Bumi dan Bulan mungkin bakal mencapai kondisi tidal locking, di mana satu sisi Bumi bakal selalu menghadap Bulan secara permanen.
Namun, sebelum itu terjadi, Matahari diprediksi bakal mengalami fase raksasa merah (red giant) dalam 5 miliar tahun ke depan, nan kemungkinan besar bakal menelan Bumi dan Bulan sekaligus. Jadi, untuk saat ini, kita tetap bisa tenang menikmati keelokan satelit alami kita nan perlahan namun pasti sedang menari menjauh ke angkasa luar. (space.com/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·