Mengapa Bogor Terasa Lebih Panas? Ini Penjelasannya

Sedang Trending 8 jam yang lalu
Mengapa Bogor Terasa Lebih Panas? Ini Penjelasannya Ilustrasi--Wisatawan berpotret dengan latar Istana Kepresidenan Bogor saat wisata di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/4/2025).(ANTARA/Arif Firmansyah)

BOGOR, nan selama ini karib dengan julukan Kota Hujan dan udara sejuknya, sekarang tengah mengalami perubahan cuaca nan cukup signifikan. Masyarakat mulai mengeluhkan suhu udara pada siang hari nan terasa jauh lebih terik dari biasanya, mencapai kisaran 32 hingga 34 derajat Celsius, dibarengi dengan intensitas hujan nan kian jarang.

Menanggapi kejadian ini, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. Givo Alsepan, menjelaskan bahwa peningkatan suhu di Bogor bukan terjadi tanpa alasan. Menurutnya, kondisi ini merupakan hasil kombinasi kompleks antara kejadian suasana global, pemanasan global, hingga akibat nyata dari urbanisasi nan pesat.

Pengaruh El Nino dan Pergeseran Awan

Secara klimatologis, Bogor semestinya mempunyai suhu rata-rata di nomor 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, keseimbangan ini terganggu oleh kejadian El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Saat ini, fase El Nino sedang berkembang di Samudra Pasifik tropis dan diprediksi bakal memperkuat hingga akhir tahun 2026.

"Ketika El Nino terjadi, suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur menghangat, sehingga pusat pembentukan awan bergeser ke arah timur Pasifik. Dampaknya, pasokan uap air ke Indonesia berkurang dan curah hujan menurun," ujar Dr. Givo.

Kurangnya tutupan awan di atas wilayah Indonesia, termasuk Bogor, menyebabkan radiasi mentari langsung mencapai permukaan bumi tanpa penghalang, nan memicu rasa panas menyengat pada siang hari.

Tren Pemanasan Jangka Panjang

Meski El Nino menjadi pemicu jangka pendek, Dr. Givo mengingatkan adanya ancaman nan lebih besar, ialah perubahan iklim global. Data menunjukkan bahwa suhu di Bogor terus merangkak naik secara konsisten sejak tahun 1990.

Data Perubahan Suhu dan Kondisi Udara Bogor

Parameter Kondisi/Data
Suhu Rata-rata Normal 25,5 – 27 °C
Suhu Terik Saat Ini (Siang Hari) 32 – 34 °C
Selisih Suhu Urban-Suburban (1990) 1,36 °C
Selisih Suhu Urban-Suburban (2017) 2,26 °C
Prediksi Durasi El Nino Hingga Akhir 2026

Urban Heat Island: Kota nan Menjadi "Pulau Panas"

Selain aspek atmosfer global, perubahan bentang alam lokal turut memperparah keadaan. Pesatnya pembangunan dan berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Bogor memicu kejadian Urban Heat Island alias pulau panas perkotaan.

Mengacu pada penelitian Nurwanda dan Honjo (2018), ekspansi area terbangun di Bogor melonjak tajam, terutama pada periode 1997–2007. Hal ini menyebabkan perbedaan suhu nan mencolok antara pusat kota dengan wilayah pinggiran (suburban). Jika pada 1990 selisihnya hanya 1,36 derajat Celsius, pada 2017 nomor tersebut membengkak menjadi 2,26 derajat Celsius.

Solusi dan Mitigasi

Dr. Givo menekankan pentingnya tata ruang berbasis iklim. Tanpa upaya mitigasi nan serius, tren pemanasan ini dipastikan bakal terus berlanjut. Ia menyarankan pemerintah untuk memperluas RTH dan masyarakat mulai menerapkan konsep gedung adaptif panas serta melakukan penghijauan di lingkungan rumah.

"Pohon adalah solusi alami nan paling efektif. Selain menurunkan suhu udara dan mengurangi pengaruh Urban Heat Island, vegetasi juga meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan secara keseluruhan," pungkasnya. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia