Menemukan Arti Pengabdian di Tengah Perjuangan Jemaah Haji Lansia

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, tugas mendampingi jemaah lansia mungkin terlihat sebagai pekerjaan nan memerlukan tenaga ekstra dan kesabaran panjang. Namun bagi M Ridho Prabowo, tugas sebagai Koordinator Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 9 Daerah Kerja (Daker) Makkah justru menjadi pengalaman nan membuka ruang pengabdian.

Setiap hari, Ridho berinteraksi langsung dengan para jemaah lanjut usia. Ia membantu memenuhi kebutuhan mereka, mendampingi perjalanan mereka, sekaligus memberikan rasa nyaman ketika jauh dari keluarga.

Dia tidak memandang para jemaah sebagai orang nan kudu sekadar dilayani. Ia memilih memandang mereka sebagai orangtua nan memerlukan perhatian.

“Saya merawat orang tua saya. Jadi setiap saya melakukan sesuatu, saya tidak pernah memikirkan mereka seperti orang lain,” kata dia pada tim Media Center Haji di Makkah, Rabu (17/6/2026).

Pendekatan tersebut membikin tugas nan awalnya mungkin dianggap berat berubah menjadi pengalaman nan penuh makna. Ia mengaku tidak merasa terbebani lantaran menjalani pelayanan dengan ketulusan.

“Saya mengalir, saya melayani setulus hati seperti saya memandang ketika saya melayani orangtua saya,” katanya.

Menurut Ridho, tantangan terbesar dalam mendampingi lansia bukan hanya keahlian fisik, tapi kesiapan hati untuk terus bersabar dan memahami kebutuhan setiap individu.

Dalam menjalankan tugasnya, dia apalagi tetap datang ketika jemaah memerlukan support di luar waktu pelayanan. Salah satu pengalaman nan membekas adalah ketika seorang jemaah lansia menghubunginya pada awal hari dan meminta ditemani.

Bagi Ridho, kejadian tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan nan diberikan jemaah kepada petugas. Kehadiran sederhana seorang pendamping bisa menjadi perihal nan sangat berfaedah bagi mereka nan sedang jauh dari keluarga.

“Saya senang ketika saya sudah menjadi bagian dari lansia dan disabilitas. Setiap saya melayani mereka, saya merasa berguna,” ucapnya.

Pengalaman di Landis juga memberikan pelajaran baru bagi Ridho. Ia merasa tugas tersebut mengajarkannya tentang kesabaran, kepedulian, dan makna datang untuk orang lain.

Tidak hanya memberikan pelayanan, Ridho juga menerima banyak angan dari para jemaah nan dia dampingi. Doa-doa tersebut menjadi salah satu perihal nan paling dia syukuri selama menjalankan amanah.

“Mereka selalu mendoakan saya setelah saya melayani. Seakan-akan saya betul-betul berfaedah dan berfaedah untuk mereka,” ujarnya.

Jika kembali mendapat kesempatan bertugas, Ridho mengaku siap kembali menjadi bagian dari Landis. Baginya, melayani jemaah lansia adalah corak nyata dari upaya memberikan faedah bagi sesama.

“Kalau kita hidup di bumi buat apa lagi jika tidak untuk melakukan baik. Saya bakal memilih Landis lagi lantaran saya senang merawat orang dan berfaedah untuk banyak orang,” kata Ridho.

Di Tanah Suci, tugas Landis bukan hanya tentang membantu kebutuhan bentuk jemaah. Lebih dari itu, mereka menjadi penghubung antara rasa aman, kepedulian, dan kehadiran manusiawi bagi para jemaah nan memerlukan perhatian lebih.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita