Menelusuri Jejak Log dalam Madi(log)

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Tan Malaka menggunakan logika sebagai perangkat pembebasan, tetapi apakah kerangka logikanya sendiri cukup terbuka untuk dibebaskan dari asumsi-asumsinya?

Perwakilan pegiat sejarah meletakkan kitab berjudul Madilog nan berisi kumpulan tulisan Tan Malaka di makam pahlawan nasional tersebut di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Prasetia Fauzani/ANTARA FOTO

Ada sebuah pertanyaan setua manusia itu sendiri. Sebelum manusia menengadah ke langit dan bertanya tentang bintang-bintang, sebelum dia menulis kitab, membangun kota, alias menciptakan peradaban, mungkin dia sudah lebih dulu bertanya dalam diam: apakah bumi ini dibentuk oleh pikiran kita, alias justru pikiran kitalah nan dibentuk oleh dunia? Pertanyaan nan tampak sederhana, tetapi diam-diam menjadi medan perang panjang bagi para ahli filsafat selama berabad-abad.

Di satu sisi, ada manusia nan percaya bahwa pendapat adalah api nan menyalakan sejarah, bahwa buahpikiran mini nan tumbuh dalam kepala dapat menjadi gelombang besar nan meruntuhkan tembok lama. Di sisi lain, ada mereka nan memandang bumi dari tanah, bahwa sebelum manusia bisa memikirkan mimpi nan tinggi, dia kudu lebih dulu memastikan kakinya tidak tenggelam dalam lumpur kenyataan. Di antara dua kutub itulah nama Hegel dan Marx berdiri. Dan jauh setelahnya, di tanah nan berbeda, Tan Malaka mencoba membawa perdebatan itu masuk ke ruang nan lebih dekat dengan degub kehidupan bangsanya sendiri.

Bagi Hegel, sejarah bukan sekadar rangkaian peristiwa nan terjadi secara acak. Ia adalah perjalanan panjang kesadaran manusia menuju pemahaman nan lebih tinggi. Dunia bergerak lantaran manusia terus berhadapan dengan pertentangan, sebuah pendapat muncul, lampau berjumpa realita nan tidak sesuai dengannya, dan dari tumbukan itulah lahir pemahaman baru. Bagi Hegel, pertentangan bukan kehancuran melainkan rahim tempat segala sesuatu nan baru dilahirkan. Sejarah, dalam pandangannya, seperti manusia nan tumbuh dewasa, dia tidak menjadi matang lantaran hidupnya tenang, tetapi lantaran berulang kali berhadapan dengan bentrok nan memaksanya memahami dirinya sendiri. Namun bagi sebagian kepala, Hegel dianggap terlalu jauh melangkah di awan lantaran memandang bumi dari ketinggian pikiran, tapi lupa bahwa manusia tetap kudu berpijak di tanah.

Di sinilah Marx datang membawa kritiknya.

Marx memandang manusia bukan sebagai makhluk nan pertama-tama berpikir, melainkan makhluk nan pertama-tama memperkuat hidup. Sebelum berbincang tentang filsafat, manusia butuh makan. Sebelum memikirkan kebebasan, dia kudu bertanya apakah hidupnya sendiri bebas dari belenggu. Marx membalik Hegel, bukan kesadaran nan menentukan kehidupan, melainkan kehidupan nan membentuk kesadaran. Pikiran manusia, baginya, tidak tumbuh di ruang kosong, melainkan dari tanah sosial tempat manusia berpijak. Seorang pekerja di pabrik dan seorang pemilik modal mungkin memandang bumi nan sama, tetapi dari jendela nan berbeda, karena posisi seseorang dalam kehidupan ikut menentukan gimana dia memahami kehidupan itu sendiri.

Kemudian datanglah Tan Malaka.

Seorang manusia nan membawa perdebatan panjang antara Hegel dan Marx melewati samudra, lampau menanamnya di tanah Indonesia nan sedang mencari bentuk. Dalam Madilog, tidak hanya mau membicarakan filsafat, tetapi mau membangun langkah berpikir. Ia memandang masyarakat nan menurutnya tetap sering menerima sesuatu tanpa menguji, nan lebih memilih jawaban nan nyaman daripada pertanyaan nan menyakitkan. Maka dia menawarkan tiga senjata: Materialisme, Dialektika, Logika.

Tan Malaka. Foto: Shutterstock

Ia membuka Madilog bukan dengan dalil, melainkan dengan dongeng. Sebuah kisah sabda Dewa Rah, mentari nan mengaku ada lebih dulu dari dunia, lampau menciptakan segalanya hanya dengan kata. Sebuah kisah nan indah, tapi juga sebuah jebakan. Sebab di situlah logika mistika bekerja paling licin, bukan sebagai kegoblokan nan kasar, melainkan sebagai keelokan nan membius, cerita nan begitu meyakinkan hingga orang lupa bertanya dari mana asalnya sabda itu sendiri. Baginya, logika mistika bukan sekadar takhayul di pinggir kehidupan. Ia jalan pintas nan diambil manusia saat realita terlalu berat untuk dipikul sendirian. Tan Malaka menulis, dengan getir, "Lapar tak berfaedah kenyang buat si miskin." kalimat nan menampar siapa pun nan tetap percaya bahwa angan bisa menggantikan nasi, bahwa mantra bisa menggantikan kerja. Maka ketika dia berkata, "Kalau tidak tahu, katakan saja tidak tahu. Jangan mengarang jawaban dengan logika mistika," itu bukan sekadar nasihat metodologis. Itu tuntutan moral. Sebab bagi Tan Malaka, mengarang jawaban bukan hanya kesalahan berpikir tetapi corak pengkhianatan terhadap penderitaan nan nyata. Setiap kali manusia memilih mitos daripada pertanyaan, dia sesungguhnya sedang menunda keadilan.

Namun, semakin jauh membaca Madilog, semakin muncul sebuah pertanyaan kerikil nan perlahan menumpuk menjadi gunung, apakah logika dapat tumbuh hanya dengan menyuruh manusia berpikir logis? Ataukah logika memerlukan taman tempat dia bisa ditanam? Sebab pohon tidak tumbuh hanya lantaran diteriaki agar menjadi tinggi. Ia memerlukan tanah, air, cahaya.

Begitu pula manusia. Meminta masyarakat berpikir logis tanpa memandang kondisi nan membentuk mereka mungkin sama seperti menyalahkan kembang nan tidak mekar, tanpa pernah memeriksa apakah akarnya mendapat air. Indonesia pada 1943 bukan ruang nan bebas. Masyarakat hidup dalam bayang-bayang kolonialisme, keterbatasan pendidikan, dan akses pengetahuan nan tidak merata. Maka pertanyaannya menjadi lebih rumit: apakah masyarakat betul-betul memilih untuk tidak berpikir, alias mereka hanya tidak pernah diberi cukup kesempatan untuk belajar gimana berpikir?

Di titik inilah pemikiran Tan Malaka menjadi menarik, bukan lantaran selalu benar, justru lantaran berani memberikan sesuatu nan dapat diperdebatkan. Sebuah pemikiran nan hidup bukan pemikiran nan hanya dipuji, melainkan nan bisa memperkuat ketika disentuh pertanyaan. Mungkin kritik terbesar terhadap Tan Malaka bukan bahwa dia terlalu mencintai logika, melainkan bahwa dia mungkin terlalu percaya satu metode berpikir bisa menjadi kunci untuk seluruh pintu kehidupan manusia. Sebab manusia bukan hanya makhluk nan menghitung. Ia juga makhluk nan mengingat, nan menciptakan lagu, mitos, agama, seni, simbol. Hal-hal nan tak selalu terukur dengan angka, tapi tetap punya kekuatan menggerakkan sejarah. Bukankah banyak manusia rela meninggal bukan lantaran keadaan material, melainkan lantaran sebuah gagasan? Bukankah kemerdekaan Indonesia sendiri lahir dari sesuatu nan tak sepenuhnya berbentuk materi namun dari gambaran tentang bangsa nan belum ada, tapi dipercaya kudu diperjuangkan?

Mungkin Hegel tidak sepenuhnya salah ketika berbicara buahpikiran mempunyai kekuatan. Mungkin Marx juga tidak sepenuhnya salah ketika berbicara buahpikiran tidak pernah lahir dari ruang kosong. Mungkin manusia memang pertemuan antara tanah dan langit berkaki nan berpijak pada kenyataan, tapi berkepala nan selalu menatap kemungkinan.

Pada akhirnya, membaca Madilog bukan hanya membaca Tan Malaka. Ia perjalanan membaca sejarah pemikiran manusia. Dari Hegel nan memandang bumi lewat mobilitas kesadaran, menuju Marx nan memandang bumi lewat mobilitas materi, hingga Tan Malaka nan mencoba menjadikan logika sebagai perangkat pembebasan.

Tapi Tan Malaka sendiri, nan membongkar sabda Dewa Rah, barangkali lupa satu hal, setiap kali manusia menemukan perangkat nan bisa membongkar segalanya, dia rentan jatuh cinta pada perangkat itu sendiri. Logika, nan lahir untuk mempertanyakan, bisa diam-diam berubah menjadi berhala baru nan dipuja bukan lantaran dia benar, tapi lantaran dia terasa aman. Maka ujian terbesar sebuah logika bukanlah ketika dia bisa membongkar kesalahan orang lain. Ujian terbesarnya adalah ketika dia berani mengarahkan pisaunya kepada dirinya sendiri, dan bertanya, dari mana saya percaya bahwa caraku berpikir ini benar?

Sebab begitu sebuah langkah berpikir berakhir bertanya pada dirinya sendiri, dia tidak lagi menjadi logika. Ia berubah menjadi keyakinan, sebuah sabda nan baru, kepercayaan nan berganti jubah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan