Mendiskusikan Posisi Suriah di Medan Perang Yaman

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Mendiskusikan Posisi Suriah di Medan Perang Yaman

Mendiskusikan Posisi Suriah di Medan Perang Yaman/ist

Penulis: Ridwan al-Makassary

Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.

ESKALASI Perang Yaman nan tinggi, belakangan ini, menunjukkan kompleksitas geopolitik Timur Tengah. Konflik domestik tersebut sekarang bersalin rupa menjadi arena pertarungan kekuatan regional. Suriah, kini, terbit dalam dalam percaturan tersebut. Setelah bertahun-tahun menjadi lokus perang nan mempertemukan beragam kekuatan asing, Damaskus sekarang dihadapkan pertanyaan baru, ialah apakah Suriah bakal ikut membantu Arab Saudi menggempur aktivitas Houthi di Yaman?

Pada awal Oktober 2026, Reuters melaporkan bahwa Suriah sedang mengkaji sejumlah opsi support militer kepada Arab Saudi, termasuk support dalam corak pertahanan dan keterlibatan pasukan. Namun, pemerintah Suriah menegaskan bahwa negaranya tidak sedang memutuskan untuk berasosiasi dalam perang Yaman. Damaskus, memang, menyatakan solidaritas terhadap keamanan Saudi, seraya menekankan bahwa prioritas utamanya adalah pemulihan domestik dan stabilitas kawasan. Namun, wacana keterlibatan Suriah secara resmi tetap belum jelas. 

Kompleksitas ini bukan sekadar perkara militer, lantaran dia menyentuh perubahan orientasi politik Suriah pasca-Bashar al-Assad, ialah pergeseran aliansi regional, dan juga kemungkinan terbentuknya konfigurasi baru persaingan antara Arab Saudi dan Iran. Tulisan ini bakal mengkaji kerumitan posisi Suriah ini.

Untuk memahami perkembangan terkini, perlu memandang perubahan politik Suriah setelah kejatuhan rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024. Selama bertahun-tahun, pemerintahan Assad telah menjalin hubungan strategis dengan Iran dan Hezbollah. Hubungan tersebut menempatkan Suriah ke dalam jaringan aliansi nan kerap disebut sebagai Axis of Resistance (poros perlawanan), nan juga mencakup kelompok-kelompok bersenjata nan menentang kekuasaan Israel dan Amerika Serikat di kawasan.

Sementara itu, Arab Saudi telah memimpin koalisi militer nan mendukung pemerintah Yaman nan diakui secara internasional setelah Houthi menguasai Sana'a pada 2014. Operasi militer koalisi dimulai pada Maret 2015. Sejak itu, Yaman menjadi salah satu medan persaingan dari politik kepentingan Saudi dan Iran, meskipun bentrok tersebut juga mempunyai akar politik, sosial, dan sejarah domestik nan tidak dapat direduksi menjadi rivalitas kedua negara.

Kajian Peace Research Institute Oslo (PRIO) menunjukkan bahwa keterlibatan eksternal telah memperumit dinamika perang Yaman. Dukungan militer maupun non-militer dari kekuatan regional memungkinkan aktor-aktor domestik memanfaatkan persaingan eksternal untuk memperkuat posisi tawar mereka sendiri. Akibatnya, bentrok menjadi lebih susah diselesaikan melalui negosiasi diplomatik.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑