Selain itu, Tito menilai penguatan kontra ideologi perlu dilakukan dengan melibatkan tokoh-tokoh nan mempunyai pengaruh di lingkungan golongan tertentu agar pesan moderasi lebih mudah diterima.
“Ini sangat efektif sekali, kenapa? Karena golongan ini mempunyai budaya, norma trust insider, enggak percaya pada orang luar, percaya kepada orang dalam,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat patroli siber dan kontra narasi di ruang digital untuk memutus saluran penyebaran mengerti radikal. Menurut Tito, perkembangan teknologi info membikin penyebaran ideologi ekstremisme sekarang berjalan semakin sigap dan luas melalui beragam platform digital.
Di sisi lain, dia menilai penyelesaian persoalan sosial dan ekonomi masyarakat juga menjadi bagian krusial dalam strategi pencegahan jangka panjang, khususnya di wilayah nan mempunyai kerentanan terhadap penyebaran mengerti ekstremisme berbasis kekerasan.
Tito menambahkan, selama ini Densus 88 AT Polri telah menjalankan pendekatan penegakan norma secara kuat terhadap ancaman aktif. Namun, ke depan, soft approach perlu semakin diperkuat sebagai langkah pencegahan sejak dini.
“Saya tahu bahwa Densus selama ini sebelumnya itu lebih kepada kinetic approach, hard approach. Karena apa? Lawannya aktif, tapi begitu sudah mereka tiarap, kita kudu memulai bombardir dengan kegiatan soft approach,” ucapnya.
Pada kesempatan tersebut, mantan Kapolri ini juga menyampaikan apresiasi kepada jejeran Densus 88 AT Polri atas upayanya menjaga stabilitas keamanan nasional sehingga situasi keamanan nasional dinilai semakin kondusif.
“Saya sangat mengapresiasi kerja dari jejeran Densus selama ini nan sudah dirasakan hasilnya masyarakat di Indonesia lebih tenang dibanding beberapa tahun nan lalu,” tandasnya.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·