Mencintai Jakarta dengan Cara yang Sederhana

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Hujan mengguyur Jakarta berbareng malam nan menua. Photo: Dokumentasi Pribadi

Hari itu tetap terlalu pagi, jika tidak salah ingat pukul 06.18. Saya sudah kudu siaga mengantar istri ke halte Ragunan. Saya melewati jalan sempit nan hanya muat untuk dua motor berpapasan. Saya kasih tahu kalian info, jika hendak ke Kebagusan raya dari arah Ragunan menggunakan motor, kalian tidak perlu berputar ke arah TB Simatupang lantaran ada jalan mini di samping diklat Ragunan.

Tepat di belokan jalan sempit, saya sudah menerima umpatan dari seorang ibu nan datang dari arah berlawanan, motornya oleng secara tiba-tiba namun saya nan kudu disalahkan.

Demikianlah Jakarta, selain bubur ayam dan nasi uduk, sumpah serapah juga seringkali menjadi sarapan nan lumayan asin, namun tetap dikunyah.

Tak terhitung berapa kali saya menjumpai respons nan serupa lantaran sudah terlalu lama di kota ini. Jika belasan tahun dianggap waktu nan lama mendiami sebuah ruang, maka saya bakal mendeklarasikan diri sudah lama mendekap Jakarta. Tiga belas tahun bukan waktu nan sejenak menikmati, alias mungkin meratapi, hidup di kota ini dengan segala kisahnya nan tak berbelas kasih.

Saya menjumpai manusia-manusia tak beruntung nan kudu hidup berdempetan di bilik semi permanen sepanjang pinggiran rel, manusia nan setiap awal hari mengais tempat sampah, dan seabrek kejadian manusia di kota ini.

Apakah kota ini sedikit saja meletakkan rasa iba kepada mereka? Rasa-rasanya tidak sama sekali. Jakarta memang ibu kota tetapi dia bukan ibu bagi manusianya nan sedang kelaparan.

Saya sedang tersesat di Jakarta, di tengah rimba bangunan-bangunan dan lautan manusia nan tak saling menyapa. Pada setiap kepentingan nan kudu dikuantifikasi dan transaksional.

Hidup di Jakarta semacam alegori tentang memperkuat dengan cinta nan menyakitkan, alias tentang ambisi dan kelelahan eksistensial nan saling berkompetisi. Melelahkan.

Macet, banjir, dan semua sumpah serapah menjadi sarapan nan kudu ditelan, tanpa ampun. Namun kadang-kadang ditertawakan di akhir hari saat bersenda gurauan dengan sejawat bahwa rupanya hidup sebercanda ini.

Jakarta sudah terlalu mewah dengan kehidupan gemerlap nan tak terbayangkan sebelumnya. Namun wajah ini nan membikin manusianya menjadi begitu asing dari diri mereka, dari keluarga, dari pekerjaan, dan apalagi dari hidupnya.

Mereka kemudian berceceran mencari pencerahaan atas keterasingan ini. Ada nan ke club, ke alam, ke tempat ibadah, dan tempat lain nan mereka anggap bisa membikin mereka menemukan dirinya kembali nan telah hilang.

Satu perihal nan mereka tidak sadari bahwa perjalanan mencari diri ke luar adalah perjalanan nan hanya berputar di tempat, pada labirin nan mereka ciptakan sendiri dan tentu saja itu ilusi. Pada titik inilah nan disebut Albert Camus sebagai pencarian makna hidup nan absurd

Semua gambaran tentang Jakarta nan menyesakkan memaksa sebagian orang membencinya, namun alih-alih lari darinya, mereka tetap menetap dan mendekap segala ketidaksenangan terhadap Jakarta, hanya dengan satu alasan, Jakarta menawarkan banyak langkah mendapatkan uang.

Jakarta adalah kemewahan di menara gading. Semua manusia mendaki menara itu dan hanya sebagian nan mencapai puncaknya. Bagi nan tidak mampu, mereka memaki dengan beragam argumen bahwa jakarta keras dan menawarkan penderitaan batin, padahal kita tahu mereka kandas menjahit mimpi di Jakarta.

Manusia urban di Jakarta berada di titik persimbangan, antara pamor nan kudu dijaga ataukah kebahagiaan diri untuk kembali ke asal.

Cukup susah untuk menyatukan ide-ide hidup sederhana dengan hiruk pikuk kota Jakarta, stoik menemukan tantangannya di kota ini namun ketika seorang bisa menjalankannya maka dia hidup dalam kedamaian nan paripurna

Jika kalian mau menguji seberapa tinggi level kesabaran dalam hidup ini, maka hiduplah di jalanan kota Jakarta. Ikuti rute Mampang raya setiap pagi dan sore maka kesabaran kalian bakal berkurang pada setiap lampu merah nan dilewati. Kalian kudu tahu bahwa umpatan adalah polusi pendengaran nan diobral.

Namun demikianlah Jakarta, selain bubur ayam dan nasi uduk, sumpah serapah juga seringkali menjadi sarapan nan lumayan asin, namun tetap dikunyah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan