Jakarta -
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menekankan pentingnya bahasa Indonesia sebagai jembatan kebudayaan. Tak hanya itu, perihal itu juga sekaligus jadi sarana mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Mesir nan telah berjalan selama lebih dari satu abad.
"Bahasa bukan sekadar perangkat komunikasi. Bahasa adalah pintu masuk untuk memahami kebudayaan, sejarah, langkah berpikir, dan identitas suatu bangsa. Karena itu, keberadaan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Al-Azhar mempunyai makna nan sangat krusial bagi hubungan Indonesia dan Mesir," ungkap Fadli dalam keterangan tertulis, Senin (21/9/2026).
Hal ini dia sampaikan dalam kuliah umum kebudayaan di hadapan sekitar 250 mahasiswa S1 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Penerjemahan Universitas Al-Azhar, Kairo, Ahad (20/9) kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyampaikan apresiasi kepada Al-Azhar nan telah membuka Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia pada Oktober 2025. Menurutnya, pembukaan program studi tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat hubungan pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia dan Mesir.
Ia juga mengapresiasi antusiasme mahasiswa nan memilih mempelajari bahasa dan sastra Indonesia di salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan berpengaruh di bumi tersebut.
"Saudara-saudara adalah bagian dari jembatan kebudayaan Indonesia dan Mesir. Ketika mempelajari bahasa Indonesia, sesungguhnya kerabat juga sedang mempelajari Indonesia, masyarakatnya, sejarahnya, dan kebudayaannya nan sangat beragam," kata Fadli.
Dalam kuliah umumnya, Fadli Zon menyoroti besarnya potensi bahasa Indonesia untuk berkembang sebagai bahasa internasional. Menurutnya, bahasa Indonesia mempunyai pedoman penutur nan besar dan tersebar tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di beragam organisasi di luar negeri.
Kondisi tersebut menjadi modal krusial bagi penguatan posisi bahasa Indonesia dalam pergaulan internasional.
"Bahasa Indonesia mempunyai jumlah penutur nan sangat besar. Ini adalah kekuatan nan kudu kita sorong agar bahasa Indonesia semakin dikenal, dipelajari, dan digunakan di bumi internasional," ungkapnya.
Ia menyampaikan cita-cita agar bahasa Indonesia semakin mendapatkan tempat dalam organisasi internasional, termasuk angan agar suatu saat dapat menjadi salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Saudara-saudara adalah bagian dari masa depan bahasa Indonesia di dunia. Semakin banyak orang mempelajari bahasa Indonesia, semakin terbuka pula jalan untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia," tuturnya.
Fadli Zon mendorong para mahasiswa untuk tidak hanya mempelajari tata bahasa dan sastra, tetapi juga memahami Indonesia secara lebih luas, mulai dari sejarah, seni, tradisi, kuliner, hingga perkembangan kebudayaan kontemporer.
Ia juga memperkenalkan Indonesia sebagai negara dengan keragaman budaya nan sangat besar. Indonesia mempunyai lebih dari 1.300 golongan etnis dan lebih dari 700 bahasa wilayah nan hidup dalam satu kesatuan bangsa.
"Indonesia adalah negara nan sangat beragam. Kita mempunyai ribuan pulau, lebih dari 1.300 golongan etnis, lebih dari 700 bahasa daerah, serta beragam tradisi dan ekspresi budaya. Semuanya hidup dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika," jelasnya.
Menurutnya, keberagaman tersebut bukan sekadar kebenaran demografis, tetapi merupakan bagian krusial dari identitas dan kekayaan kebudayaan Indonesia. Pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman juga dapat menjadi bagian dari perbincangan kebudayaan dengan masyarakat internasional.
Indonesia dan Mesir, lanjutnya, sama-sama mempunyai sejarah peradaban nan panjang. Karena itu, hubungan kedua negara tidak hanya dibangun melalui diplomasi formal, tetapi juga melalui pertukaran pengetahuan, bahasa, seni, sastra, dan kebudayaan.
Di hadapan para mahasiswa, Fadli Zon mengingatkan kembali panjangnya sejarah hubungan Indonesia dengan Mesir dan Al-Azhar. Menurutnya, hubungan tersebut telah berjalan jauh sebelum Indonesia merdeka.
Para ustadz dan pelajar dari Nusantara telah datang ke Mesir untuk menuntut pengetahuan dan kemudian membawa pulang pengetahuan tersebut ke Indonesia.
"Hubungan Indonesia dengan Al-Azhar sudah berjalan sangat lama. Para ustadz dan pelajar Indonesia datang ke sini, belajar, kemudian kembali ke Indonesia dan memberikan kontribusi besar dalam pendidikan, kehidupan keagamaan, dan kebudayaan," imbuhnya.
Ia juga mengingatkan Mesir merupakan negara pertama nan mengakui kemerdekaan Indonesia. Hubungan kedua negara kemudian terus berkembang melalui beragam momentum sejarah, termasuk Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok.
Ia membujuk para mahasiswa untuk memandang diri mereka bukan hanya sebagai pembelajar bahasa Indonesia, tetapi juga sebagai bagian dari hubungan kebudayaan antara Indonesia dan Mesir. Menurutnya, penguasaan bahasa Indonesia dapat menjadi pintu masuk untuk memahami masyarakat dan kebudayaan Indonesia secara lebih mendalam.
"Pelajari Indonesia dengan sungguh-sungguh. Kenali bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaannya. Karena setiap kali kerabat menggunakan bahasa Indonesia dan berbincang tentang Indonesia, sesungguhnya kerabat sedang menjadi bagian dari jembatan nan menghubungkan masyarakat Mesir dan Indonesia," ujar Fadli Zon.
Ia berambisi hubungan nan telah terjalin antara Indonesia dan Al-Azhar selama lebih dari satu abad dapat terus berkembang melalui generasi muda.
"Terima kasih kepada Al-Azhar dan kepada seluruh mahasiswa nan telah memilih mempelajari bahasa dan sastra Indonesia. Kami menitipkan bahasa Indonesia dan kebudayaan Indonesia kepada saudara-saudara semua," tutup Fadli.
(anl/ega)
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·