Menapaki Jejak Dakwah Nabi di Taif: Masjid Abdullah bin Abbas-Pegunungan Al Hada

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Masjid Abdullah bin Abbas di Taif. Foto: Dok. MCH 2026

Kota Taif merupakan wilayah nan mempunyai hubungan erat dengan sejarah perjuangan Nabi. Ketika tekanan kaum Quraisy di Makkah semakin kuat, Rasulullah SAW berupaya mencari support ke kota ini.

Jejak dakwah nabi bisa terlihat di beragam perspektif kota Taif. Jemaah haji maupun umrah, dapat menyaksikannya langsung saat city tour ke kota ini. Ada akomodasi menarik seperti kereta gantung, nan membikin jemaah bisa memandang lebih jelas jalan setapak di perbukitan nan dilalui oleh nabi.

Berikut adalah beberapa letak nan menarik untuk dikunjungi:

Masjid Abdullah bin Abbas

Salah satu destinasi nan banyak dikunjungi adalah Masjid Abdullah bin Abbas. Masjid ini merupakan masjid berhistoris nan menyimpan kisah dakwah Rasulullah SAW sekaligus mengenang salah satu sahabat paling pandai dalam sejarah Islam.

Masjid ini berjarak cukup jauh dari Makkah. Suasana di sekitar masjid terasa hidup dengan hadirnya para pedagang dari beragam negara seperti Bangladesh dan Pakistan nan membuka lapak di area tersebut.

Masjid Abdullah bin Abbas di Taif. Foto: Dok. MCH 2026

Masjid Abdullah bin Abbas bisa menampung sekitar 3.000 jemaah. Masjid nan dibangun tahun 592 hijriah ini, punya daya tarik utama ialah berdirinya ratusan tiang kokoh nan ada di dalam masjid.

Selain digunakan untuk salat lima waktu dan salat Id, masjid ini juga menjadi pusat aktivitas keagamaan seperti seminar, kajian, dan perkuliahan kepercayaan nan diikuti masyarakat setempat.

Keistimewaan masjid ini tidak hanya terletak pada arsitekturnya, tetapi juga pada sosok nan diabadikan namanya. Masjid ini berdiri di dekat makam Abdullah bin Abbas, sahabat sekaligus sepupu Nabi Muhammad SAW nan wafat pada tahun 68 Hijriah.

Sosok nan dikenal sebagai mahir tafsir Al-Qur’an tersebut dikenang sebagai ustadz besar nan mempunyai kepintaran luar biasa, mahfuz Al-Qur’an nan kuat, serta kesetiaan nan tinggi kepada Rasulullah SAW.

Ketua Rombongan Jemaah Umrah asal Sukabumi, Jawa Barat, Suleman, mengatakan dirinya sengaja membawa para jemaah berjamu ke Taif untuk mengenang perjuangan dakwah Rasulullah SAW.

"Ziarah ke Taif lantaran ini adalah merupakan kota angan Rasulullah. Di mana Rasul mendapatkan intimidasi, embargo ekonomi di kala itu. Kemudian berambisi mendapatkan pertolongan dari bangsa Taif, kaum Taif. Dan rupanya Allah belum memberikan izin," katanya kepada tim Media Center Haji (MCH).

Menurut Suleman, kunjungan ke Masjid Abdullah bin Abbas juga dimaksudkan untuk mengenalkan sosok sahabat Nabi nan dikenal mempunyai keluasan pengetahuan agama.

"Dan kita sekarang ke Abdullah bin Abbas, lantaran ini adalah sepupu Rasul nan sudah mendapatkan angan dari Rasulullah. Semoga kita juga sama menjadi orang-orang nan memperdalam pengetahuan agama. Aamiin," tuturnya.

Naik Kereta Gantung, Melihat Jejak Rasul

Di salah satu perspektif kota Taif, ada wahana kereta gantung nan bisa dinikmati wisatawan. Dari atas sini, dapat terlibat rute nan dilalui nabi saat hendak dakwah di Taif.

Kereta gantung ini berada di area pegunungan Al Hada. Di sisi kanan kirinya adalah bukit batu terjal.

Kereta gantung di Al Hada Taif. Foto: Dok. MCH 2026

Dari atas kereta gantung ini, peziarah dapat membayangkan gimana perjalanan Rasulullah SAW ketika datang ke Taif sekitar tahun 619 M, tiga tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. Kedatangan Rasulullah ke Taif terjadi pada masa nan penuh ujian.

Pada masa itu, nabi baru saja kehilangan dua sosok nan selama ini menjadi penopang dakwahnya, ialah sang istri Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib. Peristiwa itu membikin tekanan kaum Quraisy terhadap Rasulullah semakin keras. Tahun tersebut kemudian dikenal sebagai 'Tahun Kesedihan'.

Dalam kondisi itu, Nabi berbareng Zaid bin Haritsah berangkat menuju Taif. Mereka melangkah kaki menempuh perjalanan sekitar 90 kilometer dari Makkah dengan angan mendapatkan support dari masyarakat setempat dan para pemuka Bani Tsaqif.

Kereta gantung di Al Hada Taif. Foto: Dok. MCH 2026

Alih-alih menerima dakwah Islam, para pemuka Taif menolak rayuan Rasulullah. Tidak hanya itu, beliau juga dihina, dicemooh, apalagi diusir.

Sejumlah riwayat menyebut masyarakat Taif mengerahkan anak-anak dan budak untuk melempari Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah dengan batu hingga keduanya terluka dan berdarah.

Ketika memandangi jalur-jalur pegunungan dari atas kereta gantung, terlihat lintasan nan sempat dilalui oleh nabi. Jalanan berbatu dan terjal. Adapun jarak nan ditempuh kereta gantung ini sekitar 4,2 kilometer, menjadi salah satu sistem kereta gantung terpanjang di Timur Tengah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan