Bayangkan ada sebuah pabrik nan memproduksi suatu bahan menjadi produk dengan corak nan sama. Kurang lebih seperti itulah sistem pendidikan kita saat ini. Sejak hari pertama masuk sekolah, kita diajarkan bahwa bumi ini punya dua kategori: mereka nan sukses mengikuti aturan, dan mereka nan kandas lantaran tidak memenuhi standar. Tanpa kita sadari, sistem pendidikan nan kita jalani selama ini telah beranjak kegunaan layaknya sebuah pabrik. Kita tidak lagi dididik menjadi manusia nan utuh, melainkan dibentuk menjadi komponen-komponen nan seragam agar mudah dipasarkan dalam sistem ekonomi. Kita disibukkan untuk menjadi seorang pekerja, sehingga keahlian kita untuk berpikir kritis dan mempertanyakan keadaan sering kali dianggap sebagai sebuah gangguan dalam sistem.
Disini, semua anak nan mempunyai latar belakang nan berbeda, kudu melewati tahapan nan sama, di waktu nan sama, dengan sasaran pencapaian nan juga sama. Semua itu dilakukan agar semua anak lulus dengan standar nan seragam. Melalui ujian nasional alias tes, seorang anak tidak dilihat sudah sejauh mana mereka berkembang, namun untuk menyortir mana nan "layak" dan nan "cacat" untuk memastikan produk ini sudah sesuai standar untuk didistribusikan ke pasar.
Tujuan akhir dari proses ini adalah untuk menciptakan tenaga kerja nan siap pakai. Melalui hidden curriculum kita diajarkan untuk patuh, belajar dalam lama nan ditentukan, dan mengejar pencapaian nan telah diatur oleh sistem. Ijazah sekarang menjadi sebuah ilusi kesuksesan nan mengajarkan bahwa semakin tinggi nilai alias gelar nan dicapai, semakin cerah pula masa depannya. Pada akhirnya, piagam bukan lagi bukti bahwa kita telah belajar untuk berpikir, melainkan label sertifikasi nan menunjukkan bahwa kita layak masuk ke pasar kerja sebagai komponen ekonomi.
Sistem pendidikan kita sering dijadikan sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah negara secara instan. Sekolah akhirnya menanggung beban terlalu berat untuk memperbaiki segalanya. Akibatnya, konsentrasi utama pendidikan nan ditujukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsan justru sering terabaikan. Anak-anak dipaksa menjadi serba bisa tanpa diberikan pemahaman lebih mendalam tentang gimana langkah belajar dan beradaptasi.
Ironisnya, kita semua adalah bagian dari pabrik ini. Orang tua menuntut nilai bagus agar anaknya bisa berdikari dan tidak berjuntai pada penghasilan orang tua. Guru ditekan untuk menyelesaikan materi kurikulum agar sasaran produksi tercapai. Siswa pun belajar bukan untuk tahu, melainkan untuk lulus. Kita semua terjebak dalam lingkaran setan nan menganggap bahwa pendidikan hanyalah sarana ekonomi.
Jika kita tidak segera berakhir memandang manusia sebagai produk, kita bakal terus melahirkan generasi nan merasa kosong, cemas, dan kehilangan jati diri. Generasi nan hanya tau langkah mengikuti perintah, tapi gagap saat kudu menghadapi realita hidup nan rupanya tidak sesuai dengan kitab panduan.
Pendidikan kudu kembali ke fungsinya sebagai tempat pengembangan manusia. Kita kudu berani membongkar pabrik nan menggunakan siswa sebagai peralatan untuk diproduksi menjadi seorang pekerja. Pendidikan semestinya menjadi ruang dimana seseorang bisa mengenali potensi dirinya sendiri, bukan sekedar menjadi baut nan mengikuti alur mesin. Kita butuh sistem nan menghargai keragaman langkah berpikir, memberikan ruang bagi kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, dan mendorong siswa untuk mempertanyakan apa nan ada di hadapan mereka. Pendidikan sesungguhnya adalah proses memerdekakan pikiran. Jika kita terus membiarkan pendidikan berfaedah sebagai pabrik, jangan kaget jika suatu hari nanti, kita tidak lagi menemukan manusia-manusia imajinatif di negeri ini, lantaran nan tersisa hanya sekumpulan robot nan takut untuk berbeda.
Sudah saatnya kita berakhir melayani kepentingan pabrik dan kembali melayani masa depan manusia. Jika kita mau maju, kita kudu berakhir memandang pendidikan hanya sebagai mesin pencetak nomor alias ijazah. Pendidikan adalah ekosistem nan semestinya menyuburkan rasa mau tahu. Pada akhirnya, pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama. Sejauh mana sistem ini bisa berubah, sangat bergantu pada gimana kita sebagai orang tua, pendidik, dan masyarakat memaknai makna keberhasilan itu sendiri. Apakah kita mau terus mencetak produk nan seragam alias kita siap untuk mulai melahirkan manusia nan berdaya?
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·