Jakarta, CNN Indonesia --
Aksi vigilante atau main pengadil sendiri merebak sepekan terakhir di waktu nan nyaris berbarengan di beberapa daerah Indonesia.
Di Bali, laki-laki berinisial KD tewas dikeroyok usai diduga mencuri ayam kejuaraan milik warga. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (24/7) awal hari sekitar pukul 01.30 WITA di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali.
Sehari setelahnya, pada Sabtu (25/7), seorang laki-laki berinisial S (33) di Morowali, Sulawesi Tengah, juga tewas dihajar massa setelah diduga hendak mencuri sepeda motor pada Sabtu (25/7) sekitar pukul 23.05 WITA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus nan sama terjadi di Lamongan, Jawa Timur. MHS (30) penduduk Tiwet Kalitengah dan AP (29) penduduk Kemlagigede Turi, dianiaya usai diduga mencuri besi jejak di sebuah ruko pada Jumat (24/6) sekitar pukul 14.00 WIB.
Meski tak ada korban jiwa, namun AP mengaku sempat diancam menggunakan senjata api oleh salah satu massa nan mengaku sebagai pemilik ruko. Saat itu dirinya juga diikat, dipukul hingga disiram air garam.
Kasus itu belum termasuk penggerudukan ASN di Tanjung Balai usai suaminya diduga melakukan pelecehan seksual. Ada pula kasus berantem antar penduduk di Matraman, Jakarta, nan menelan satu korban jiwa.
Sosiolog kejahatan UGM, Soeprapto menyebut sejumlah tindakan main pengadil sendiri di Bali, Morowali, hingga Lamongan sebagai tindakan spontanitas. Dia mengungkap sejumlah kasus tersebut mengindikasikan tiga hal.
Pertama, tingkat pengendalian emosi nan rendah. Akibatnya, kata Soeprapto, masyarakat tak bisa mengendalikan diri untuk meluapkan emosinya dengan langkah melakukan tindakan kekerasan.
Kedua, jumlah massa nan banyak menimbulkan keberanian bagi mereka untuk mengabaikan akibat hukum. Situasi itu menyebabkan mereka seolah mempunyai kekuatan untuk melakukan aksinya.
Ketiga, tindakan vigilante juga, lanjut Soeprapto juga mengindikasikan tingkat kepintaran masyarakat nan rendah. Akibatnya, mereka tak lagi berpikiran logis dengan segala konsekuensinya.
Soeprapto menilai kasus vigilante tersebut bukan menunjukkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap abdi negara penegak hukum. Melihat beberapa pemicunya, perihal itu murni spontanitas.
"Indikasi ketiga dalam keadaan beramai-ramai maka daya pikir rasionalnya randah sehingga tidak sempat berpikir tentang akibat dari perbuatannya nan telah melakukan penganiayaan terhadap orang lain," kata Soeprapto.
Soroti penegak norma hingga sayembara
Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Reza Indragiri menyebut maraknya tindakan vigilante sebagai ketidakpercayaan terhadap abdi negara penegak norma bukan sebuah dugaan nan keliru. Namun, asumsi tersebut, kata Reza, juga tak sepenuhnya benar.
Menurut dia, vigilante juga dipicu oleh penyebab situasional, ialah situasi ketiga pelakunya tak mendapat hukuman hukum. Vigilante juga bisa dipicu oleh sayembara, apalagi jika dilakukan oleh otoritas pemerintah.
"Aksi semacam itu acap dinilai jelek dan membahayakan. Bisa memunculkan pengaruh brutalisasi, ditandai oleh kekerasan susulan nan terus berlipat ganda," kata Reza saat dihubungi, Selasa (28/7).
Meski begitu, dia menilai tindakan vigilante juga tak sepenuhnya negatif. Menurut Reza, vigilante dalam perihal tertentu mengisi kevakuman hukum. Sebab, kepastian norma lewat vigilante alias main pengadil sendiri bisa lebih cepat.
Kedua, membangun solidaritas antarwarga, apalagi penduduk dengan aparat. Menurut Reza, kerja sama penduduk dengan polisi membikin ruang kejahatan kian sempit.
"Kemitraan polisi dan masyarakat, nan sama-sama siaga, mempersempit kesempatan kejahatan. Ketiga, dalam skala tertentu, vigilante memunculkan deterrent effect," katanya.
Sayangnya, lanjut Reza, kemitraan tersebut juga bisa menyebabkan masyarakat maupun abdi negara kehilangan kewaspadaan. Sebab, keduanya bisa saling bergantung.
"Pada titik itu, keadaan berbalik 180 derajat menjadi musim semi bagi para bandit. Apa boleh buat; saat vigilante tidak lagi menjadi tren, bromocorah (penjahat nan mengulangi perbuatan jahatnya alias residivis) kambuh lagi," katanya.
(thr/dal)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
12 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·