Melihat Aksi 'Operasi Semut’ di CFD Bundaran HI, Ajak Warga Bijak Pilah Sampah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Organisasi Mahasiswa Muda Transparansi saat kampanye Sosialiasi Sampah di area CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (2/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Suasana Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) alias Car Free Day (CFD) di area Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (2/8), tak hanya dipenuhi penduduk nan berolahraga.

Di sela ramainya pelari, pesepeda, hingga pejalan kaki, belasan mahasiswa nan tergabung dalam organisasi Mahasiswa Muda Transparansi tampak menyusuri area sembari memungut sampah dan menyapa masyarakat. Mereka juga membawa spanduk serta tempat sampah nan disediakan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Provinsi DKI Jakarta.

Ketua Umum Mahasiswa Muda Transparansi, Abid Zahid Fadhillah, mengatakan kampanye tersebut merupakan corak support terhadap Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

“Hari ini Pak Gubernur sudah memberikan petunjuk terhadap masyarakat DKI Jakarta gimana masyarakat DKI Jakarta kudu memilah sampah dari rumah. Sebab hari ini Jakarta sedang darurat sampah,” kata Abid saat ditemui di area CFD Bundaran HI.

Abid Zahid Fadhillah, Ketua Umum Mahasiswa Muda Transparansi saat kampanye Sosialiasi Sampah di area CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (2/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Menurutnya, persoalan sampah di Jakarta tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Perubahan kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah dari rumah menjadi langkah sederhana nan dinilai dapat memberi akibat besar.

“Nah, kita Mahasiswa Muda Transparansi mencoba membantu mensosialisasikan petunjuk gubernur tentang pemilahan sampah ini. Jakarta punya orientasi menjadi kota global. Untuk itu, hal-hal sederhana seperti memilah sampah kudu kita dukung sebagai tindakan nyata mahasiswa,” ujarnya.

Organisasi Mahasiswa Muda Transparansi saat kampanye Sosialiasi Sampah di area CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (2/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Aksi tersebut dimulai sekitar pukul 07.30 WIB. Para peserta melakukan long march mengelilingi Bundaran HI sembari memungut sampah nan mereka temui di sepanjang rute serta membujuk masyarakat membuang sampah pada tempat nan telah disediakan.

“Iya, kita konsentrasi di titik Bundaran HI, beberapa putaran sembari operasi semut. Sekalian kita publikasikan kepada masyarakat gimana langkah memilah sampah dari rumah, baik organik, anorganik,” tutur Abid.

Dari aktivitas itu, sampah plastik menjadi jenis sampah nan paling banyak mereka temukan.

“Sejauh ini tetap lebih banyak sampah plastik. Kalau berasas info nan saya baca, sampah di Jakarta justru dominannya adalah sampah rumah tangga. Maka dengan masyarakat memilah sampah dari rumah itu sangat membantu menurunkan tingkat sampah di Jakarta,” katanya.

Meski baru pertama kali menggelar kampanye di CFD, Abid mengatakan organisasinya selama ini rutin melakukan aktivitas edukasi mengenai kebijakan publik melalui beragam forum diskusi.

Ia memilih CFD sebagai letak kampanye lantaran area tersebut menjadi ruang publik nan dipadati masyarakat dari beragam kalangan sehingga pesan nan disampaikan dapat menjangkau lebih banyak orang.

“Untuk saat ini kita tetap konsentrasi di CFD lantaran targetnya memang keramaian. Jadi lebih mudah menjelaskan dan mengedukasi masyarakat,” ujarnya.

Abid berambisi semakin banyak penduduk nan mulai menerapkan kebiasaan memilah sampah dari rumah, sekaligus membujuk orang-orang di sekitarnya melakukan perihal serupa.

“Harapannya masyarakat DKI Jakarta bisa melakukan petunjuk gubernur tersebut, seperti memilah sampah dari rumah, apalagi membantu mengedukasi masyarakat nan lain agar jumlah sampah di Jakarta semakin menurun,” ucapnya.

Organisasi Mahasiswa Muda Transparansi saat kampanye Sosialiasi Sampah di area CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (2/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Menurut Abid, langkah mini seperti memilah sampah menjadi krusial di tengah kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang nan telah mengalami kelebihan kapasitas.

“Betul, Bantargebang sudah overload. Makanya pemerintah mendorong beragam upaya, mulai dari daur ulang sampai mengarahkan masyarakat untuk lebih memilah sampah,” pungkasnya.

Sebagai informasi, sejak 1 Agustus 2026, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menerapkan sistem controlled landfill di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Dalam sistem controlled landfill, sampah tidak lagi hanya ditumpuk secara terbuka. Penempatan dan pemadatan sampah dilakukan secara lebih teratur, kemudian ditutup menggunakan material tertentu secara berkala. Cara ini bermaksud mengurangi bau, akibat kebakaran, gangguan lingkungan, hingga potensi longsor.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan