Melasma pada Ibu Hamil (Chloasma): Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sedang Trending 10 jam yang lalu
 Penyebab dan Cara Mengatasinya Ilustrasi ibu hamil.(Dok. Magnific)

SELAMA masa kehamilan, tubuh mengalami beragam perubahan bentuk nan signifikan, mulai dari corak tubuh hingga kondisi kulit. Salah satu keluhan nan paling sering muncul adalah munculnya bercak kecokelatan alias kehitaman di area wajah, nan secara medis dikenal sebagai melasma alias sering disebut chloasma faciei (topeng kehamilan).

Kondisi ini sangat umum terjadi dan diperkirakan dialami oleh 50% hingga 70% ibu hamil. Meskipun tidak rawan bagi kesehatan janin maupun ibu, melasma sering kali menimbulkan rasa kurang percaya diri. Memahami kenapa kondisi ini muncul dan gimana langkah menanganinya dengan kondusif adalah langkah krusial bagi setiap ibu hamil.

Mengapa Melasma Muncul Saat Hamil?

Penyebab utama melasma pada ibu hamil adalah kombinasi antara perubahan hormon dan paparan sinar matahari. Berikut adalah faktor-faktor pemicu utamanya:

1. Lonjakan Hormon Estrogen dan Progesteron

Selama kehamilan, kadar hormon estrogen dan progesteron meningkat drastis. Hormon-hormon ini merangsang sel melanosit (sel penghasil pigmen kulit) untuk memproduksi lebih banyak melanin. Akibatnya, area kulit tertentu menjadi lebih gelap dibandingkan warna kulit aslinya.

2. Peningkatan Hormon Pemicu Melanosit (MSH)

Selain estrogen, tubuh ibu mengandung juga memproduksi lebih banyak Melanocyte-Stimulating Hormone (MSH). Hormon ini secara langsung bertanggung jawab atas pigmentasi kulit, nan juga menjelaskan kenapa area seperti puting susu, garis perut (linea nigra), dan jejak luka condong menggelap saat hamil.

3. Paparan Sinar Ultraviolet (UV)

Sinar mentari adalah pemicu eksternal terkuat. Sinar UV merangsang melanosit nan sudah "sensitif" akibat hormon untuk bekerja lebih keras. Tanpa perlindungan nan tepat, bercak melasma bakal tampak lebih gelap dan lebih luas.

4. Faktor Genetik

Jika ibu alias kerabat wanita Anda mengalami melasma saat hamil, kemungkinan besar Anda juga bakal mengalaminya. Faktor keturunan memainkan peran besar dalam menentukan sensitivitas kulit terhadap perubahan hormon.

Gejala dan Ciri Khas Melasma

Melasma biasanya muncul secara simetris di kedua sisi wajah. Beberapa area nan paling sering terdampak meliputi:

  • Dahi
  • Pipi bagian atas
  • Batang hidung
  • Diatas bibir (kumis melasma)
  • Dagu

Bercak ini tidak terasa gatal, tidak nyeri, dan tidak menonjol. Warnanya bervariasi mulai dari cokelat muda hingga cokelat tua keabu-abuan, tergantung pada kedalaman pigmen di lapisan kulit.

Melasma berbeda dengan tahi lalat alias tanda lahir. Jika bercak berubah corak dengan cepat, berdarah, alias terasa gatal, segera konsultasikan ke master untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi kulit lainnya.

Kapan Harus Khawatir?

Secara umum, melasma adalah kondisi kosmetik nan berkarakter sementara. Namun, Anda perlu waspada dan berkonsultasi dengan master ahli kulit (dermatologis) jika:

  • Perubahan Bentuk nan Drastis: Bercak mempunyai tepi nan tidak beraturan alias berubah warna secara mendadak (misalnya menjadi hitam pekat alias kemerahan nan meradang).
  • Disertai Gejala Lain: Muncul rasa nyeri, gatal nan hebat, alias kulit mengelupas secara ekstrem di area bercak.
  • Tidak Memudar Setelah Melahirkan: Biasanya melasma bakal memudar dalam waktu 6 hingga 12 bulan setelah persalinan. Jika bercak tetap menetap alias justru bertambah gelap setelah hormon stabil, support medis diperlukan.
  • Gangguan Psikologis: Jika kondisi kulit ini menyebabkan stres berat, kecemasan, alias depresi pascamelahirkan, jangan ragu untuk mencari support profesional.

Cara Aman Mengatasi Melasma pada Ibu Hamil

Karena banyak bahan aktif dalam produk kecantikan nan dapat terserap ke dalam aliran darah dan berisiko bagi janin, penanganan melasma saat mengandung kudu dilakukan dengan sangat hati-hati.

1. Gunakan Sunscreen Fisik (Mineral Sunscreen)

Pilihlah tabir surya nan mengandung Zinc Oxide alias Titanium Dioxide. Jenis ini bekerja dengan memantulkan sinar mentari dan tidak terserap ke dalam kulit, sehingga lebih kondusif untuk ibu mengandung dibandingkan chemical sunscreen.

2. Hindari Paparan Matahari Langsung

Gunakan topi lebar alias payung saat beraktivitas di luar ruangan, terutama antara pukul 10 pagi hingga 4 sore ketika radiasi UV berada pada puncaknya.

3. Pilih Skincare nan Aman

Hindari bahan seperti Hydroquinone, Retinoid, alias dosis tinggi Asam Salisilat. Sebagai alternatif, Anda bisa menggunakan produk nan mengandung Vitamin C, Niacinamide, alias Azelaic Acid (dengan pengawasan dokter) nan dikenal efektif mencerahkan kulit tanpa membahayakan janin.

4. Sabar dan Konsisten

Ingatlah bahwa penyebab utamanya adalah hormon kehamilan. Sering kali, perawatan terbaik adalah menunggu hingga hormon kembali seimbang setelah bayi lahir.

(H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia